SuaraBojonegoro.com – Pengurus Rayon (PR) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Jalaluddin Rumi Institut Attanwir Bojonegoro sukses menggelar kegiatan ilmiah berkala bertajuk “Sekolah Epistemologi V”. Acara yang mengusung tema besar “Membangun Nalar Kritis dan Kesadaran Epistemologis di Era Disrupsi Digital” ini dilaksanakan di Aula Institut Attanwir Bojonegoro pada Sabtu (6/6/2026).
Kegiatan ini diikuti secara antusias oleh puluhan kader dan anggota PMII, baik dari internal maupun dari eksternal komisariat Attanwir Bojonegoro. Rangkaian kelas filsafat intensif ini sengaja dirancang untuk menguatkan nalar kritis mahasiswa agar tidak sekadar menjadi konsumen informasi yang pasif di tengah arus deras disrupsi digital saat ini.
Dari tiga materi pokok yang disajikan, mulai dari Pengantar Filsafat hingga Filsafat Islam, sesi penutup yang mengulas Filsafat Postmodern menjadi salah satu magnet diskusi yang paling dinamis. Materi pamungkas tersebut disampaikan langsung oleh Moh. Asad Hasanudin Afandi, yang juga merupakan Ketua Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) UIN Walisongo Semarang.
Dalam paparannya, Sahabat Asad (sapaan akrabnya) membedah secara mendalam mengenai latar belakang lahirnya postmodernisme sebagai bentuk kritik radikal atas klaim kebenaran tunggal era modernisme. Menurutnya, relevansi mempelajari postmodernisme di era digital menjadi sangat krusial karena realitas hari ini dipenuhi oleh pluralitas narasi.
“Melalui kacamata postmodernisme, kita diteguhkan pada pemahaman bahwa kebenaran dalam realita sosial dapat dipahami dari berbagai sudut pandang secara kritis dan terbuka. Di era disrupsi digital, kader PMII dituntut tidak terjebak pada dogma tunggal atau hoaks, melainkan harus mampu mendekonstruksi setiap informasi secara objektif,” jelas Asad di hadapan forum peserta.
Lebih lanjut, ia juga memaparkan konsep-konsep kunci pemikiran tokoh postmodern serta bagaimana pengaruh nyata paham ini dalam transformasi kehidupan sosial dan dunia pendidikan kontemporer. Diskusi berlangsung interaktif, ditandai dengan banyaknya respons serta pertanyaan dari para kader mengenai cara mengontekstualisasikan nalar postmodern dalam gerakan moral PMII.
Acara Sekolah Epistemologi V ini ditutup secara resmi pada sore hari setelah sesi Focus Group Discussion (FGD) dan refleksi bersama untuk merumuskan aksi nyata penerapan epistemologi dalam kehidupan sehari-hari kader. (Red/Lis)








