DKPP Bojonegoro Sambut Positif Hadirnya BUMD Pangan Mandiri

Reporter : Waluyo Wahyu Utomo

SuaraBojonegoro.com – Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Bojonegoro menyambut baik keberadaan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Pangan Mandiri yang bergerak dalam sektor hilirisasi padi. Selasa (30/06/2026)

Kepala DKPP Kabupaten Bojonegoro, Zaenal Fanani, mengatakan keberadaan BUMD Pangan Mandiri menjadi langkah strategis untuk meningkatkan nilai tambah hasil pertanian, khususnya komoditas padi.

Menurutnya, selama ini sebagian besar produksi padi Bojonegoro belum sepenuhnya diolah dan dimanfaatkan di daerah. Dari total produksi padi sekitar 886 ribu ton pada tahun 2025, hanya sekitar sepertiganya yang dikonsumsi dan diolah di Bojonegoro.

“Produksi padi Bojonegoro cukup besar, namun selama ini sebagian hasil produksi masih keluar daerah. Dengan adanya BUMD Pangan Mandiri yang bergerak dalam hilirisasi padi, diharapkan nilai tambah sektor pertanian dapat meningkat,” ujar Zaenal Fanani.

Baca Juga:  Dinas Pertanian Bojonegoro Kekurangan Tenaga PPL

Hilirisasi padi tidak hanya berorientasi pada pengolahan hasil panen, tetapi juga dapat menciptakan rantai ekonomi yang lebih panjang di tingkat daerah. Petani diharapkan memperoleh manfaat lebih besar karena hasil produksi memiliki pasar yang lebih terjamin.

Selain itu, keberadaan BUMD Pangan Mandiri dinilai dapat membantu menjaga stabilitas harga gabah petani. Dengan adanya lembaga yang mampu menyerap dan mengolah hasil produksi, harga padi diharapkan menjadi lebih kompetitif.

“Harapannya harga padi semakin kompetitif dan stabilitas harga di tingkat petani semakin terjaga,” tambahnya.

DKPP berharap sinergi antara pemerintah daerah, BUMD Pangan Mandiri, dan petani mampu memperkuat sektor pertanian Bojonegoro. Tidak hanya sebagai daerah penghasil padi, tetapi juga mampu mengembangkan industri pengolahan pangan berbasis komoditas lokal.

Baca Juga:  Choirul Huda Resmi Nahkodai Perumda Bojonegoro Pangan Mandiri 

Dengan langkah hilirisasi tersebut, produksi pertanian Bojonegoro diharapkan tidak hanya berhenti pada penjualan gabah, tetapi mampu menghasilkan produk bernilai ekonomi lebih tinggi bagi masyarakat dan daerah. (Why/Red)