Dari 52 Dapur MBG, Hanya 1 Dapur Yang Kerjasama Dengan DLH Terkait Pengelolaan Sampah

Reporter : Bima Rahmat

SuaraBojonegoro.com – Dari 52 dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Bojonegoro, baru 1 dapur yang bekerjasama dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bojonegoro. Hal ini disampaikan oleh Sekertaris DLH Kabupaten Bojonegoro, Benjamin Subiakto, ditemui di ruang kerjanya Beny Subiakto menyampaikan bahwa hingga kini kerja sama pengelolaan sampah dengan dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) masih sangat terbatas. Baru 1 dapur yang bekerja sama dengan DLH, yakni dapur yang berada di belakang Taman Rajekwesi, Kecamatan Bojonegoro.

“Beberapa hari lalu ada yang mengajukan permohonan dari dapur MBG di wilayah Baureno. Di sana ada dua dapur yang ingin mengajukan pengelolaan sampah ke DLH, namun sampai sekarang belum ada kelanjutannya,” katanya.

Baca Juga:  Kurangi Volume Sampah yang Masuk TPA, DLH Bojonegoro Dorong Otimalisasi Bank Sampah

Ia menambahkan, DLH belum melakukan sosialisasi secara khusus karena memang tidak ada aturan yang mengatur hal tersebut. Namun demikian DLH terbuka jika ada dari pihak mengelola dapur MBG yang ingin mengundang DLH untuk sosialisasi.

“Kami selalu siap,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan pola kerja sama dengan DLH. Yangmana DLH akn mengambil sampah dari dapur MBG dan selanjut sampah tersebut akan dibawa ke Tempqt Pembuangan Akhir (TPA). Selanjutnya di TPA ada pemulung yang akan memilih sampah tersebut.

“Sampah MBG itu kan sampah sisa makanan yang mudah terurai, tidak termasuk plastik atau nonorganik,” jelasnya.

Beny juga menegaskan, setiap dapur MBG yang ingin bekerja sama dengan DLH harus menyiapkan infrastruktur pendukung diantaranya adalah menyiapkan lahan minimal 8 × 6 meter, serta bangunan dengan lantai bawah dan penutup atas supaya sampah tidak kena panas atau hujan.

Baca Juga:  Dugaan Penyimpangan Program MBG Bojonegoro, Praktisi Hukum Soroti Proses Pengadaan, Desak Audit Menyeluruh

“Kalau tidak ditutup, pasti dampaknya adalah bau dari sisa makanan, dan itu bisa mengundang lalat,” lanjutnya.

Selain itu, Beny mengingatkan agar seluruh pihak penghasil sampah dapat mengupayakan pengelolaan secara mandiri. Berdasarkan data DLH, timbulan sampah di Bojonegoro terus meningkat setiap tahunnya. Pada 2020 tercatat sekitar 189 ribu ton, naik menjadi 195 ribu ton pada 2021, kemudian 196 ribu ton pada 2022, dan pada 2024 kembali meningkat menjadi 199 ribu ton per tahun. (Bim/red).