Bela Negara di Ujung Jempol: Tantangan dan Peluang di Era Digital

Oleh : Said Edy Wibowo*)

SuaraBojonegoro.com – Hidup di zaman digital memang tidak bisa lepas dari teknologi. Hampir setiap pelajar sekarang punya ponsel dan internet di genggaman. Dari belajar daring sampai bermain game online, semuanya jadi bagian dari gaya hidup anak muda masa kini. Game online seperti Mobile Legends, PUBG, Free Fire, atau Genshin Impact sudah menjadi “teman setia” di waktu luang. Seru, menantang, dan bikin ketagihan.

Tapi, di balik serunya dunia maya itu, ada tantangan besar yang harus kita sadari bersama: semangat Bela Negara di kalangan pelajar mulai terkikis perlahan. Banyak pelajar lebih hafal nama karakter game daripada nama pahlawan bangsa. Lebih sibuk mengejar rank daripada mengingat makna perjuangan atau nilai kebangsaan.

Padahal, Bela Negara bukan hanya urusan tentara, tapi juga tanggung jawab setiap warga negara termasuk didalamnya adalah pelajar. Dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2019 tentang Pengelolaan Sumber Daya Nasional, disebutkan bahwa Bela Negara adalah sikap dan perilaku warga negara yang dijiwai oleh kecintaan terhadap tanah air, kesadaran berbangsa dan bernegara, serta kesiapan berkorban demi bangsa dan negara.

Lima Nilai Dasar Bela Negara yang Harus Dikenalkan Sejak Dini melalui kegiatan adapun nilai dasar bela negara adalah;

Cinta Tanah Air

Bukan hanya hafal lagu kebangsaan, tapi juga bangga dengan budaya, produk lokal, dan lingkungan tempat tinggalnya.

Kesadaran Berbangsa dan Bernegara

Menyadari bahwa Indonesia adalah rumah bersama yang harus dijaga dari perpecahan, hoaks, dan ujaran kebencian.

Setia kepada Pancasila sebagai Ideologi Negara

Menjadikan nilai-nilai Pancasila sebagai pedoman dalam berpikir, bersikap, dan bertindak.

Rela Berkorban untuk Bangsa dan Negara

Mau berbuat sesuatu untuk kepentingan bersama, meski sederhana, seperti menolong sesama atau menjaga kebersihan sekolah.

Memiliki Kemampuan Awal Bela Negara

Disiplin, tangguh, dan siap menghadapi tantangan zaman, termasuk tantangan digital seperti kecanduan game atau penyalahgunaan teknologi.

Tantangan di Tengah Gempuran Game Online

Game online sejatinya tidak sepenuhnya buruk. Ada nilai positif seperti kerja sama tim, strategi, dan komunikasi. Namun, tanpa pengendalian, pelajar bisa kehilangan arah — lupa waktu, menurunnya prestasi belajar, dan kurangnya interaksi sosial di dunia nyata. Dalam jangka panjang, ini bisa melemahkan karakter, menurunkan empati, bahkan mengikis rasa cinta tanah air.

Di sinilah pentingnya pengenalan nilai dasar Bela Negara secara kreatif dan relevan. Dunia pendidikan tidak boleh kalah menarik dari dunia game. Nilai kebangsaan harus dikemas dengan cara yang menyenangkan, inspiratif, dan dekat dengan kehidupan pelajar.

Solusi untuk Menumbuhkan Semangat Bela Negara di Era Digital

1. Peran Lembaga Pendidikan

Sekolah, madrasah, maupun kampus perlu menciptakan program pembinaan karakter yang terintegrasi dengan teknologi.
Misalnya:

Membuat kegiatan digital challenge bertema nasionalisme atau kepedulian sosial.

Mengembangkan edugame atau konten digital yang mengangkat perjuangan pahlawan dan nilai Pancasila.

Mendorong kegiatan ekstrakurikuler seperti Pramuka, OSIS, atau Paskibra agar lebih modern dan interaktif.

2. Peran Guru dan Tenaga Pendidik

Guru harus jadi role model dalam penggunaan teknologi yang bijak.
Beberapa langkah konkret yang bisa dilakukan:

Mengaitkan materi pelajaran dengan nilai-nilai kebangsaan.

Menyisipkan topik Bela Negara dalam pembelajaran berbasis proyek.

Mengajak siswa berdiskusi tentang makna cinta tanah air di dunia digital.

Guru juga bisa menggunakan media sosial sekolah untuk menebar inspirasi — misalnya, konten tentang pahlawan nasional, kisah solidaritas, atau prestasi anak bangsa di bidang teknologi.

3. Peran Orang Tua dan Keluarga

Keluarga adalah benteng pertama pendidikan karakter. Orang tua bisa:

Menjadi teman diskusi anak tentang dunia digital, bukan hanya pengawas.

Menetapkan batas waktu bermain game dengan cara yang adil dan komunikatif.

Menanamkan rasa bangga terhadap Indonesia lewat kegiatan sederhana: menonton film sejarah, mengenal budaya daerah, atau mengikuti kegiatan sosial.

Generasi Digital, Generasi Bela Negara

Pelajar masa kini adalah “prajurit digital” yang harus mampu bertarung bukan dengan senjata, tapi dengan semangat, pengetahuan, dan karakter kuat. Dunia boleh berubah, teknologi boleh canggih, tapi semangat Bela Negara tidak boleh pudar.

Game online bisa tetap dimainkan, asal pelajar sadar bahwa kehidupan nyata jauh lebih penting untuk dijaga.
Karena sejatinya, membela negara bisa dimulai dari hal-hal kecil: belajar dengan sungguh-sungguh, menjaga sopan santun di dunia maya, dan berbuat baik untuk sesama.

Generasi yang tangguh bukan yang hanya jago main game, tapi yang mampu menyeimbangkan dunia digital dengan nilai-nilai kebangsaan.
Itulah wujud Bela Negara di era modern, keren, cerdas, dan berjiwa Indonesia!.

*) Penulis adalah Peserta Diklat Pembentukan Fasilitator Bela Negara Kementerian Pertahanan Republik Indonesia | Bertugas di Kementerian Agama Kabupaten Bojonegoro