Diskusi Literasi Mahasiswa di Bojonegoro Bahas Peran Mahasiswa Menjembatani Nilai Konstitusi dan Realita Negeri

SuaraBojonegoro.com – Diskusi Literasi Mahasiswa dengan tema “Peran Mahasiswa Menjembatani Nilai Konstitusi dan Realita Negeri” diselenggarakan pada Sabtu, 24 Oktober 2026, bertempat di Pendopo Malowopati, Bojonegoro. Kegiatan ini menjadi ruang diskusi bagi mahasiswa untuk memperdalam pemahaman mengenai demokrasi, konstitusi, serta peran mahasiswa dalam menyampaikan aspirasi masyarakat.

Kegiatan yang diselenggarakan oleh FKMB UNESA bersama DHSK ini menghadirkan Ilham Aufa Rahim, aktivis hukum sekaligus Ketua Umum Formad UNESA, sebagai pemateri. Diskusi dipandu oleh Fina Naila Izza selaku moderator.

Dalam pemaparannya, Ilham menjelaskan pentingnya pemahaman konstitusi sebagai landasan bagi mahasiswa dalam menyampaikan kritik terhadap kebijakan pemerintah. Ia mengibaratkan konstitusi sebagai kompas yang membantu mahasiswa menentukan arah kritik serta memahami dasar hukum yang digunakan.

“Jadi konstitusi itu menurut saya ibarat kompas. Mahasiswa yang paham konstitusi tahu ke mana arah kritiknya dan dasar hukum apa yang dipakai,” ujar Ilham.

Ia juga menegaskan bahwa kritik mahasiswa seharusnya tidak hanya didasarkan pada emosi, tetapi perlu memiliki landasan yang jelas. Menurutnya, mahasiswa memiliki peran untuk menghubungkan amanat konstitusi dengan kenyataan yang dirasakan masyarakat.

“Tugas kita adalah menjembatani janji konstitusi dengan kenyataan yang dirasakan masyarakat,” tambahnya.

Selain itu, Ilham mengingatkan agar mahasiswa tidak bersikap elitis dalam menyampaikan kritik. Ia menilai bahwa kritik harus berangkat dari persoalan nyata yang dialami masyarakat dan disampaikan dengan bahasa yang mudah dipahami.

Baca Juga:  Bulan Mei: Hari Buku dan Kebangkitan Pendidikan di Bojonegoro dan Tuban  

“Kritik baru bermakna kalau lahir dari kenyataan yang dirasakan masyarakat, tidak memakai bahasa yang ‘ndakik-ndakik’ atau bertele-tele. Gunakan bahasa yang bisa dipahami oleh masyarakat awam,” jelasnya.

Ia juga menyampaikan bahwa kritik merupakan bagian dari demokrasi selama disampaikan berdasarkan data, melalui jalur yang sah, dan dilakukan secara damai. Beberapa cara yang dapat ditempuh mahasiswa antara lain melalui kajian, audiensi, diskusi publik, maupun uji materi.

Dari sudut pandang peserta, tantangan terbesar mahasiswa dalam memperjuangkan aspirasi masyarakat adalah keberanian untuk bersuara di tengah tekanan dan keterbatasan ruang untuk menyampaikan kritik secara terbuka. Peserta menilai bahwa mahasiswa terkadang masih menghadapi rasa takut terhadap intimidasi atau ancaman ketika menyampaikan pendapat yang berbeda dengan kepentingan pihak tertentu.

“Tantangan terbesar yang dihadapi mahasiswa ketika menyuarakan pendapat atau memperjuangkan aspirasi masyarakat adalah keberanian untuk bersuara di tengah tekanan dan kurangnya ruang untuk menyampaikan kritik secara terbuka,” ungkap salah satu peserta.

Peserta tersebut juga menekankan pentingnya kemampuan mahasiswa dalam membangun argumentasi berdasarkan data dan fakta, bukan sekadar mengikuti emosi atau tren.

“Menjadi mahasiswa yang kritis bukan hanya tentang seberapa keras kita menyuarakan pendapat, tetapi seberapa kuat alasan dan bukti yang mendasari perjuangan tersebut,” lanjutnya.

Sementara itu, dari perspektif organisasi mahasiswa daerah (ormada), pemerintah diharapkan lebih sering turun langsung ke lapangan agar dapat memahami kondisi dan kebutuhan masyarakat secara nyata, bukan hanya mengandalkan data survei.

Baca Juga:  KY Suyitno, Arief Januwarsa Raih Gelar Doktor Setelah Temukan Model Pemilu Digital

“Pesan yang ingin saya sampaikan kepada pemerintah adalah agar lebih sering terjun langsung ke lapangan untuk memahami apa yang benar-benar dirasakan oleh masyarakat, bukan hanya mengandalkan data survei,” ungkap perwakilan ormada.

Ia juga menyoroti perbedaan pandangan antara pemerintah dan masyarakat yang kerap terlihat di media sosial. Menurutnya, diperlukan evaluasi terhadap kebijakan pemerintah dengan memperhatikan pelaksanaan dan dampaknya bagi masyarakat.

Di sisi lain, mahasiswa diharapkan memperbanyak literasi dan melakukan validasi terhadap informasi yang diperoleh sebelum menyampaikan pendapat atau mewakili aspirasi masyarakat.

“Pesan untuk mahasiswa, lebih perbanyak literasi dan validasi dari data-data yang kita dapatkan sebelum terjun ke lapangan, sehingga tindakan kita lebih bermanfaat dan tidak menimbulkan masalah baru lagi,” tambahnya.

Melalui diskusi ini, mahasiswa diharapkan semakin memahami bahwa demokrasi tidak hanya berkaitan dengan kebebasan menyampaikan pendapat, tetapi juga tanggung jawab untuk menyampaikan aspirasi secara kritis, beretika, dan konstitusional.

Mahasiswa memiliki peran penting dalam menjembatani nilai-nilai yang tertuang dalam konstitusi dengan realitas yang dihadapi masyarakat. Dengan memperkuat literasi, memvalidasi informasi, dan membangun argumentasi berbasis fakta, mahasiswa dapat berkontribusi dalam kehidupan demokrasi sekaligus mendorong kebijakan yang lebih memperhatikan kepentingan masyarakat. (Lis/Red)