Festival Ledre 2026 Dimulai, 22 Calon Wirausaha Belajar Bikin Ledre

SuaraBojonegoro.com — Rangkaian Festival Ledre 2026 di Kecamatan Purwosari, Kabupaten Bojonegoro, resmi dimulai. Kegiatan diawali dengan sarasehan dan pelatihan pembuatan ledre bagi calon wirausaha baru sebagai upaya mendorong regenerasi pengrajin makanan khas Bojonegoro tersebut.

 

Pelatihan yang berlangsung di Aula SMK Purwosari itu diikuti 22 peserta yang seluruhnya merupakan ibu-ibu calon wirausaha baru. Mereka mendapat pembekalan mulai dari pengolahan bahan, proses pembuatan hingga teknik menggulung ledre yang membutuhkan ketelitian dan ketepatan waktu.

 

Camat Purwosari Ike Widyaningrum mengatakan, kegiatan tersebut menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan ledre sekaligus mengenalkan potensi ekonominya kepada generasi muda.

 

“Kami berharap melalui kegiatan ini semakin banyak generasi muda dan calon wirausaha baru yang tertarik untuk belajar membuat ledre. Ledre bukan hanya makanan tradisional, tetapi juga memiliki nilai ekonomi yang bisa dikembangkan menjadi usaha,” ujar Ike.

 

Menurutnya, regenerasi pengrajin menjadi salah satu kunci agar ledre tetap bertahan sebagai kuliner khas Bojonegoro. Masyarakat, khususnya generasi muda, perlu memiliki keterampilan sekaligus keberanian untuk mengembangkan ledre menjadi produk usaha.

Baca Juga:  Rumah Makan "RACHMA" Hadirkan Citra Rasa Rumahan, Jadi Langganan Pimpinan DPRD Bojonegoro

 

Ike menambahkan, Kecamatan Purwosari memiliki potensi untuk mengembangkan ledre melalui kolaborasi antara pengrajin, pemerintah, dunia pendidikan, pelaku UMKM, dan masyarakat.

 

“Yang ingin kami bangun bukan hanya bagaimana ledre tetap ada, tetapi bagaimana ledre bisa berkembang, dikenal lebih luas, dan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat. Karena itu, inovasi dan regenerasi pengrajin harus berjalan bersama,” jelasnya.

 

Selain pelatihan, rangkaian kegiatan juga diisi Sarasehan “Ledre Bojonegoro”. Forum tersebut melibatkan berbagai unsur, mulai dari guru dan siswa di Kecamatan Purwosari, Padangan dan Kasiman, pemerintah kecamatan, lembaga swadaya masyarakat, perangkat daerah hingga pelaku UMKM ledre.

 

Sarasehan menjadi ruang untuk bertukar pengalaman sekaligus membahas perkembangan ledre dari berbagai perspektif, termasuk usaha, pendidikan, masyarakat dan peran generasi muda dalam menjaga keberlanjutan kuliner khas daerah.

 

Ike menyebut ledre tidak hanya memiliki nilai sebagai makanan tradisional, tetapi juga menjadi bagian dari identitas Bojonegoro yang mempunyai potensi ekonomi. Karena itu, pengembangan produk perlu terus dilakukan agar mampu mengikuti selera konsumen dan perkembangan pasar.

Baca Juga:  Festival Ledre Bojonegoro Digelar Oktober, 50 Perajin Lokal Siap Unjuk Keahlian

 

Saat ini, inovasi produk ledre mulai berkembang. Selain varian original berbahan pisang raja, sejumlah pengrajin telah menghadirkan rasa matcha, taro, stroberi, cokelat dan berbagai varian lainnya.

 

“Bahkan, inovasi produk juga berkembang hingga muncul sajian kopi ledre yang dikembangkan pemuda di Kecamatan Purwosari,” imbuhnya.

 

Rangkaian Festival Ledre 2026 akan berlanjut pada 8 Oktober 2026 sebagai puncak kegiatan. Sejumlah agenda disiapkan, di antaranya launching Kampung Ledre, launching e-book tentang ledre, serta pembuatan ledre secara massal yang melibatkan 59 pengrajin.

 

Melalui Festival Ledre 2026, Kecamatan Purwosari mendorong agar ledre tidak hanya bertahan sebagai warisan kuliner, tetapi juga berkembang menjadi produk unggulan yang memiliki nilai ekonomi, membuka peluang usaha baru, dan semakin dikenal masyarakat luas. (Lis/Red)