Dewan Pendidikan Bojonegoro Benchmarking ke DIY, Gagas Pendidikan Khas Jonegoroan

SuaraBojonegoro.com |Yogyakarta – Dewan Pendidikan Kabupaten Bojonegoro melakukan benchmarking ke Dewan Pendidikan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Kamis (1/10/2026). Kegiatan tersebut dilakukan untuk memperkuat pemahaman pengurus Dewan Pendidikan Bojonegoro periode 2026–2030 sekaligus menggali praktik pengembangan pendidikan berbasis kekhasan daerah.

Rombongan Dewan Pendidikan Bojonegoro dipimpin Ketua Dewan Pendidikan Kabupaten Bojonegoro, Dr. Ahmad Anfasul Marom, S.H.I., M.A. Mereka diterima jajaran Dewan Pendidikan DIY di Kantor Dewan Pendidikan DIY, Kompleks Pringgitan Wiyatapraja, Kompleks Kepatihan, Danurejan, Yogyakarta.

Salah satu materi utama dalam pertemuan tersebut adalah Pendidikan Khas Kejogjaan (PKJ). Konsep ini menjadi perhatian Dewan Pendidikan Bojonegoro karena mengembangkan pendidikan dengan menggali nilai, budaya, dan kekhasan daerah untuk kemudian diterjemahkan dalam praktik pendidikan.

“Kami ingin belajar dari Dewan Pendidikan yang sudah mapan dalam melaksanakan tugasnya. Salah satu fokus kami adalah belajar tentang Pendidikan Khas Kejogjaan,” ujar Ahmad Anfasul Marom.

Menurutnya, konsep pendidikan khas yang dikembangkan di DIY tidak akan diterapkan secara mentah di Bojonegoro. Dewan Pendidikan Bojonegoro akan mempelajari proses pengembangannya untuk kemudian disesuaikan dengan karakter dan kebutuhan masyarakat Bojonegoro.

“Dari studi tiru tentang Pendidikan Khas Kejogjaan ini diharapkan nanti dapat diterapkan di Bojonegoro dalam bentuk yang sama, dengan modifikasi sesuai dengan kondisi Bojonegoro,” jelasnya.

Baca Juga:  Sosialisasikan Gaktib, Anggota Kodim 0813 Diperiksa Subdenpom V/2-1

Dari hasil benchmarking tersebut, Dewan Pendidikan Bojonegoro kemudian menggagas konsep Pendidikan Khas Jonegoroan.

Gagasan tersebut diawali dengan upaya menggali dan memetakan berbagai nilai serta kekhasan yang dimiliki Bojonegoro. Nilai lokal nantinya diharapkan tidak hanya menjadi identitas budaya, tetapi dapat diterjemahkan menjadi bagian dari pengembangan pendidikan.

“Kita perlu melihat apa yang menjadi kekhasan Bojonegoro. Nilai-nilai tersebut kemudian perlu dirumuskan agar dapat menjadi bagian dari pengembangan pendidikan di Bojonegoro,” katanya.

Belajar dari Konsep Pendidikan Khas Kejogjaan

Dalam benchmarking tersebut, Dewan Pendidikan Bojonegoro memperoleh sejumlah pembelajaran penting dari pengembangan PKJ di DIY.

Pertama, pendidikan khas daerah perlu berangkat dari nilai dan kekhasan lokal. Dalam PKJ, sejumlah filosofi seperti Hamemayu Hayuning Bawana, Sangkan Paraning Dumadi, dan Manunggaling Kawula Gusti menjadi bagian dari landasan pengembangan nilai pendidikan.

Kedua, nilai lokal perlu diterjemahkan ke dalam tujuan pembelajaran dan praktik pendidikan sehingga tidak berhenti sebagai semboyan.

Ketiga, penerapannya perlu dilakukan secara bertahap, disertai evaluasi dan refleksi. Dalam pengembangan PKJ, strategi yang digunakan meliputi adisi, insersi, dan integrasi.

Pengalaman DIY tersebut menjadi salah satu bahan bagi Dewan Pendidikan Bojonegoro untuk menyusun konsep Pendidikan Khas Jonegoroan.

Baca Juga:  Nanti Malam Ada Sandur Pantomim di Gedung PCK

Ahmad Anfasul Marom mengatakan, hasil benchmarking selanjutnya akan dikaji bersama berbagai pemangku kepentingan pendidikan di Bojonegoro. Tahapan tersebut mencakup perumusan nilai, pengembangan konsep hingga kemungkinan pelaksanaan uji coba secara bertahap.

“Ini tentu membutuhkan proses. Kita akan menggali terlebih dahulu nilai-nilai dan kekhasan Bojonegoro, kemudian mengkajinya bersama para pemangku kepentingan pendidikan,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Dewan Pendidikan DIY Prof. Dr. Sutrisna Wibawa menjelaskan, Pendidikan Khas Kejogjaan mulai dikembangkan pada 2019. Gagasan tersebut muncul setelah Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X menyampaikan pidato mengenai pendidikan khas Yogyakarta di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY).

Pengembangan pendidikan berbasis kekhasan daerah, lanjutnya, membutuhkan sejumlah tahapan. Mulai dari asesmen dan penggalian kekhasan daerah, penyusunan perangkat, implementasi, evaluasi hingga refleksi.

Pertemuan antara Dewan Pendidikan Bojonegoro dan Dewan Pendidikan DIY berlangsung sekitar dua jam. Kegiatan kemudian ditutup dengan foto bersama.

Melalui benchmarking tersebut, Dewan Pendidikan Bojonegoro berharap pengalaman DIY dapat menjadi referensi dalam merumuskan konsep Pendidikan Khas Jonegoroan yang sesuai dengan nilai, budaya, karakter, serta kebutuhan masyarakat Bojonegoro. (Red)