SuaraBojonegoro.com – Limbah janggel jagung yang selama ini kerap dianggap tidak bernilai ternyata dapat dimanfaatkan menjadi media budidaya jamur sekaligus peluang usaha baru. Potensi tersebut dikembangkan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik Kolaboratif (KKNTK) Kelompok 14 Universitas Bojonegoro (UNIGORO) bersama masyarakat Desa Bareng, Kecamatan Sekar.
Setelah melalui proses budidaya hingga panen, mahasiswa KKNTK 14 kini melanjutkan program dengan mengolah hasil panen jamur janggel menjadi jamur krispi. Pelatihan pengolahan tersebut digelar bersama ibu-ibu PKK dan masyarakat umum di Balai Desa Bareng, Sabtu (8/8/2026).
Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian program pemberdayaan masyarakat yang dirancang berkelanjutan. Sebelumnya, mahasiswa telah memberikan pelatihan pembuatan media budidaya jamur janggel pada 20 Juli 2026. Hasil budidaya kemudian dipanen bersama masyarakat pada 4 Agustus 2026 di kawasan Sendang Bareng.
Kini, hasil panen tersebut tidak berhenti sebagai bahan konsumsi. Mahasiswa mengajak masyarakat mengolahnya menjadi produk makanan yang memiliki nilai tambah dan berpotensi dipasarkan.
Kegiatan diawali dengan senam bersama yang diikuti mahasiswa KKNTK 14, ibu-ibu PKK, dan masyarakat Desa Bareng. Suasana kemudian berlanjut dengan pelatihan pengolahan jamur janggel menjadi jamur krispi.
Dua pemateri, Kristianingsih dan Agitya Kristantoko, memberikan pendampingan mulai dari proses pengolahan hingga pengemasan produk. Peserta tidak hanya diajak membuat jamur krispi, tetapi juga dikenalkan cara mengemas produk agar terlihat lebih menarik, higienis, dan memiliki daya jual.
Kristianingsih mengatakan, jamur janggel memiliki peluang besar untuk dikembangkan menjadi berbagai produk olahan. Menurutnya, masyarakat tidak harus menjual jamur dalam bentuk bahan mentah karena dapat mengolahnya menjadi produk dengan nilai ekonomi yang lebih tinggi.
“Jamur janggel itu jamur mahal dan bisa diolah menjadi produk yang memiliki nilai jual seperti abon, jamur krispi, dan pentol,” ujar Kristianingsih.
Menurutnya, peluang usaha tersebut akan semakin besar apabila masyarakat mampu mengembangkan strategi pemasaran yang tepat. Produk olahan jamur janggel tidak hanya dapat dijual secara langsung, tetapi juga dipasarkan melalui berbagai platform digital.
“Produk tidak hanya bisa dipasarkan secara offline, tetapi juga online seperti Shopee, TikTok, dan FB Marketplace yang merupakan pasar yang memiliki potensi besar,” katanya.
Kristianingsih juga menyatakan kesediaannya membantu apabila produk jamur krispi hasil pelatihan tersebut nantinya dipasarkan melalui jejaring yang dimilikinya. Dukungan tersebut diharapkan dapat membuka akses pasar yang lebih luas bagi produk masyarakat Desa Bareng.
Pelatihan ini sekaligus memberikan gambaran bahwa budidaya jamur janggel tidak harus berhenti pada proses produksi. Dari satu komoditas, masyarakat dapat mengembangkan berbagai produk turunan yang memiliki nilai tambah.
Rangkaian program KKNTK 14 UNIGORO pun berjalan secara bertahap, mulai dari pembuatan media budidaya, perawatan, panen, pengolahan, pengemasan, hingga pengenalan pemasaran. Konsep tersebut diharapkan mampu memberikan bekal yang lebih lengkap kepada masyarakat untuk mengembangkan potensi lokal secara mandiri.
Mahasiswa KKNTK 14 UNIGORO berharap keterampilan yang diperoleh masyarakat tidak berhenti setelah program KKN selesai. Sebaliknya, pengetahuan tersebut dapat terus dikembangkan menjadi kegiatan produktif yang mampu membuka peluang usaha baru.
“Dari janggel yang selama ini dianggap tidak bernilai, masyarakat bisa menghasilkan jamur. Dari jamur, bisa diolah menjadi produk krispi yang memiliki nilai jual,” menjadi gambaran semangat program pemberdayaan yang dilakukan mahasiswa bersama masyarakat Desa Bareng.
Dengan kreativitas dan pengelolaan yang tepat, jamur janggel kini bukan sekadar hasil budidaya, tetapi berpotensi menjadi produk lokal yang mendatangkan nilai ekonomi bagi masyarakat Desa Bareng. (Red)








