Doa Rasul di Thaif: Puncak Kesabaran adalah Ridha

Oleh: Sholikin Jamik

SuaraBojonegoro.com – Doa Nabi ﷺ di Thaif ini dibaca oleh beliau waktu berteduh di kebun anggur, dengan kondisi badan luka-luka setelah dilempari batu oleh penduduk Thaif.

Doa ini kerap disebut sebagai “Doa Al-Mazhlum”—doanya orang yang terzalimi. Isinya merupakan pengaduan yang paling mengharukan kepada Allah:

“Ya Allah, kepada-Mu aku mengadukan lemahnya kekuatanku, sedikitnya upayaku, dan hinanya diriku di hadapan manusia.

Wahai Dzat yang paling Penyayang di antara para penyayang. Engkau Tuhan orang-orang yang lemah, dan Engkau juga Tuhanku.

Kepada siapa Engkau akan menyerahkanku? Kepada orang jauh yang akan berwajah masam kepadaku? Atau kepada musuh yang Engkau kuasakan atas urusanku?

Jika Engkau tidak murka kepadaku, maka aku tidak peduli. Akan tetapi, afiat dari-Mu lebih luas bagiku.

Aku berlindung dengan cahaya wajah-Mu yang telah menyinari kegelapan, dan yang dengannya menjadi baik urusan dunia dan akhirat, dari turunnya murka-Mu kepadaku, atau singgahnya kemarahan-Mu atasku.

Untuk-Mu aku tunduk dan patuh sampai Engkau ridha. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan-Mu.”

(HR. Thabrani, dan dinilai hasan oleh Al-Albani)

Baca Juga:  Aduh Puasaku Hanya Dapat Lapar dan Dahaga Saja!

4 Pelajaran Penting dari Doa Ini:

1. Mengadu Hanya kepada Allah, Bukan kepada Manusia

Awal doa berbunyi: “Ilaika asyku” artinya “Kepada-Mu aku mengadu”. Nabi ﷺ tidak curhat kepada Zaid, tidak juga mengeluh kepada penduduk Mekah. Beliau langsung mengadu kepada Allah. Itulah adab sejati orang beriman.

2. Mengakui Kelemahan di Hadapan Allah

Kalimat “Lemahnya kekuatanku, sedikitnya upayaku”. Padahal beliau adalah seorang Rasul utusan Allah, namun tetap merasa lemah di hadapan-Nya. Kita yang manusia biasa ini tentu jauh lebih pantas untuk mengaku lemah.

3. Yang Utama Bukan Balas Dendam, Melainkan Ridha Allah

Kalimat kuncinya adalah: “In lam yakun bika ‘alayya ghadhabun fala ubali” yang artinya “Jika Engkau tidak murka kepadaku, maka aku tidak peduli.” Nabi ﷺ tidak meminta Allah untuk menghancurkan Thaif saat itu, beliau hanya berharap Allah ridha. Inilah puncak dari sebuah kesabaran.

4. Penutup yang Menunjukkan Tawakal Total

Kalimat “Laa hawla wa laa quwwata illa billah” artinya “Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah.” Setelah mengadu dan mengutarakan segalanya, beliau pasrah secara total.

Baca Juga:  PENCEGAHAN PERKWINAN USIA ANAK PASCA COVID 19

Kapan Kita Sebaiknya Membaca Doa Ini?

Ketika sedang dizalimi oleh orang lain.

Ketika usaha sudah mentok dan menemui jalan buntu.

Saat mengalami lelah batin dan merasa hina di hadapan manusia.

Ketika membutuhkan kekuatan baru setelah lelah berjuang.

Tips Membaca:

Bacalah doa ini saat sujud terakhir, ketika salat Tahajud, atau kapan saja saat hati sedang terasa sesak. Tidak harus menggunakan bahasa Arab, menggunakan bahasa Indonesia pun Allah Maha Mendengar dan Maha Paham.

Buah dari Kesabaran

Setelah doa ini dipanjatkan, Allah langsung mengutus Malaikat Jibril bersama awan untuk menaungi Nabi ﷺ. Jibril menawarkan untuk menghimpitkan gunung kepada penduduk Thaif yang telah menyakiti beliau. Namun, Nabi ﷺ menolaknya. Beliau justru memilih untuk mendoakan kebaikan bagi mereka.

Itulah alasan mengapa kota Thaif saat ini menjadi kota yang sangat subur, berudara sejuk, serta dipenuhi bunga mawar dan kebun anggur. Sebuah berkah yang lahir dari doa seorang Nabi yang tidak memiliki rasa dendam. (**)

 

*) Penulis adalah Ketua KBIHU Masyarakat Madani Bojonegoro