SuaraBojonegoro.com – Bojonegoro Institut, mengundang perwakilan organisasi yang ada di Bojonegoro untuk kegiatan refleksi akhir tahun 2018 dengan menggelar diskusi publik yang membahas kesejahteraan penghasil Minyak dan Gas (Migas) di Hotel Aston Jalan MH Thamrin Bojonegoro, Kamis (20/12/18).
Dalam penyampaianya Direktur Bojonegoro Institut, AW Syaiful Huda menjelaskan bahwa kemiskinan menjadi sebuah persoalan tersendiri di berbagai wilayah, namun khususnya Bojonegoro yang berada di wilayah penghasil migas tertinggi.
Hingga sampai saai ini Bojonegoro masih menyandang peringkat kemiskinan, hal itu dilihat dari data mulai tahun 2003 sampai tahun 2017, akan tetapi saat ini angka kemiskinan di Bojonegoro sudah mengalami penurunan kemisikinan hingga peringkat 11untuk, akan tetapi pada tahun 2011 – 2017 ada pelambatan.
Sedangkan untuk IPM (Indek Pembangunan Manusia)
Masih diklasmen bawah dan hal itu bisa dilihat dari tiga sektor utama diantaranya adalah ekonomi, kesehatan dan Pendidikan.
“Kemampuan daya beli masyarakat Bojonegoro yang memperngaruhi IPM” Kata AW Syaiful Huda.
Dijelaskan juga bahwa Untuk meningkatkan IPM harus juga meningkatkan daya beli masyarakat Bojonegoro, kemudian untuk pendidikan dari data yang dihimpun oleh Bojonegoro Institut bahwa rata rata lamanya sekolah adalah 6 Tahun di Bojonegoro.
“Untuk menangani berbagai persoalan memang harus melalui berbagai cara yang cerdas dan kreatif, Ini menjadi masalaah agar pembangunan manusia bisa naik, seperti Banyuwangi melompat dengan cepat dengan berbagai ide kreatif dari pemerintah daerahnya,” Terang AW Syaiful Huda.
Untuk soal soal kemiskinan merupakan tanggung jawab bersama tidak hanya beberapa pihak, sehingga untuk mendapatkan solusi, Bojonegoro Institut mendatangkan nara sumber untuk kebaikan dalam Peningkatan kesejahteraan bagi masyarakat Bojonegoro yang masih menyandang klasifikasi kemiskinan.
Adapun dalam dialog ini ada 3 nara sumber tentang kesejahteraan daerah penghasil Migas dianataranya adalah Nyoman Sudana selaku Kepala Bapeda Bojonegoro, Miftahul Huda dari Akademisi Unigoro, dan Eka Dari lembaga Penelitian Jakarta. (SB/Red)








