SMP Muhammadiyah 9 Bojonegoro Angkat Batik Nusantara dalam Proyek Kokurikuler

Oleh : Burhanudin Joe

 

SuaraBojonegoro.com – SMP Muhammadiyah 9 Bojonegoro menggelar kegiatan kokurikuler berbasis proyek dengan mengangkat tema Batik Nusantara, yang dilaksanakan di sentra industri batik New Planet 99 Bojonegoro, Kamis, (5/2/2026). Kegiatan ini diikuti oleh seluruh siswa kelas VII, VIII, dan IX dengan total 275 siswa.

 

Kegiatan tersebut dilaksanakan melalui praktik membatik secara langsung sebagai bagian dari pembelajaran kontekstual yang mengintegrasikan budaya, karakter, dan keterampilan abad ke-21. Para siswa terlibat aktif dalam setiap tahapan proses membatik, mulai dari pengenalan sejarah dan motif batik, penggunaan canting, hingga proses pewarnaan kain.

 

Kepala SMP Muhammadiyah 9 Bojonegoro, Ferry Yudha Pratama, S.Pd., M.Pd., Gr., menjelaskan bahwa pemilihan batik Nusantara sebagai fokus kegiatan kokurikuler tahun ini memiliki makna yang mendalam.

 

“Kami memilih batik Nusantara karena batik bukan sekadar produk budaya, tetapi juga identitas bangsa yang sarat nilai sejarah, filosofi, dan kearifan lokal. Melalui batik, murid dapat belajar mencintai budaya Indonesia sekaligus mengenal kekayaan daerahnya sendiri, khususnya batik Jonegoroan, secara kontekstual dan menyenangkan,” ujarnya.

Baca Juga:  Koestini dan Batik dalam Pemberdayaan

 

Ia menambahkan bahwa praktik membatik secara langsung menjadi sarana efektif untuk menanamkan berbagai nilai karakter dan kompetensi siswa.

 

“Melalui praktik membatik secara langsung, kami menanamkan nilai keimanan dan ketakwaan melalui sikap sabar dan rasa syukur dalam proses berkarya, sekaligus menumbuhkan penalaran kritis dan kreativitas saat murid merancang serta menyelesaikan motif batik. Kegiatan ini juga melatih kolaborasi, kemandirian, dan komunikasi antar murid, sehingga selaras dengan delapan dimensi profil kelulusan,” jelasnya.

 

Lebih lanjut, Ferry berharap kegiatan kokurikuler berbasis proyek seperti ini dapat terus dikembangkan dan menjadi bagian dari budaya belajar di sekolah.

 

“Saya berharap kegiatan kokurikuler berbasis proyek seperti ini dapat terus dikembangkan dan menjadi bagian dari budaya belajar dan budaya positif di sekolah. Tidak hanya untuk memperkuat karakter dan keterampilan murid, tetapi juga untuk menumbuhkan kebanggaan terhadap budaya lokal serta membekali mereka dengan pengalaman belajar yang bermakna dan relevan dengan kehidupan nyata,” pungkasnya.

Baca Juga:  Dedikasi untuk Hari Batik Nasional, Menteri AHY Luncurkan Batik Sekar Pace Bhumi untuk Jajaran Kementerian ATR/BPN

 

Salah satu peserta kegiatan, Dinasty Keysha, siswa kelas IX A, mengaku kegiatan ini memberikan pengalaman belajar yang berbeda.

 

“Kegiatan membatik ini seru dan menambah wawasan kami tentang budaya. Belajarnya langsung praktik, jadi lebih mudah dipahami,” tuturnya.

 

Suasana kegiatan yang dimulai pukul 07.30 hingga 14.00 WIB itupun tampak hidup dan kolaboratif. Para siswa bekerja secara berkelompok, berdiskusi, serta saling membantu dalam menyelesaikan karya batik mereka, mencerminkan proses pembelajaran yang tidak hanya berorientasi pada hasil, tetapi juga pada pengalaman dan pembentukan karakter. (Joe/Red)