Raih Omzet Rp 1 Miliar, Kelompok Rajut PRIMA Bojonegoro Tembus Pasar Ekspor AS dan Italia

SuaraBojonegoro.com – Kelompok Perempuan Indonesia Merajut (PRIMA) dari Desa Gayam, Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro, berhasil mencatatkan pencapaian gemilang dengan menembus pasar ekspor internasional. Komunitas perajut yang merupakan binaan Program Pelibatan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM) SKK Migas dan ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) ini sukses mengekspor produk unggulannya ke Amerika Serikat dan Italia, serta meraup total omzet bersih lebih dari Rp 1 Miliar dari penjualan sekitar 40.000 panel produk.

 

Keberhasilan ini merupakan buah kerja keras dari 50 perajut yang tergabung dalam komunitas, yang kini telah menarik perhatian berbagai media nasional. Maria Ulfa, Ketua PKK Desa Gayam yang akrab disapa Lia, menyambut baik pencapaian ini. “Kesempatan bagus seperti ini perlu dimanfaatkan dengan baik. Dulu, saya banyak pengalaman pelatihan namun tidak berlanjut karena tidak ada pasarnya. Ini pasarnya sudah ada, tinggal bagaimana mengelola produksinya,” tutur Lia, di hadapan belasan awak media nasional yang berkunjung ke gerai PRIMA Rajut Desa Gayam, Rabu (4/11/2025).

 

Hartini, salah satu perajut mahir anggota PRIMA, menjelaskan diversifikasi produk yang menjadi kunci daya saing. “Kami memproduksi berbagai kebutuhan fashion dan suvenir, mulai dari topi, tas, boneka, cardigan, hingga gantungan kunci. Inovasi terus kami lakukan, dari yang awalnya menggunakan benang nilon dan katun, kini sudah berkembang ke bahan ramah lingkungan seperti kantong kresek bekas,” ujar Hartini penuh semangat.

Baca Juga:  Masyarakat Optimistis Tingkatkan Ekonomi Lewat Program Domba Kesejahteraan Bojonegoro

 

Wainem, perjaut mahir dari Desa Gayam, menambahkan bahwa sukses ekspor yang dicapai melalui pihak kedua ini membuktikan kualitas kerajinan tangan lokal Bojonegoro memiliki daya saing global. “Semoga jumlah pembeli kami semakin bertambah, baik dari dalam maupun luar negeri, agar kami dapat terus berkembang dan memberdayakan lebih banyak perempuan di sekitar kami,” harapnya.

 

Meski telah sukses di kancah global, PRIMA masih memiliki aspirasi untuk meningkatkan efisiensi dan aksesibilitas. Hartini mengungkapkan harapan untuk memiliki rumah produksi yang lebih strategis. “Kami berharap dapat memiliki rumah rajut sendiri di lokasi yang strategis, dekat dengan jalan raya, untuk memudahkan akses pelanggan dan pengiriman,” ungkapnya.

 

Program PRIMA di Kabupaten Bojonegoro didampingi oleh Yayasan Sri Sasanti sebagai mitra EMCL. Melalui program ini, masyarakat di sekitar wilayah operasi EMCL dilatih merajut dengan standar tertentu dan berproduksi berbagai macam model produk rajut yang dipasarkan melalui mitra pembeli di Yogyakarta, memastikan keberlanjutan ekonomi bagi para anggotanya.

Baca Juga:  SMSI Inisiasi Terbentuknya Kopji KSI Untuk Bangkitkan  Ekonomi Pasca Pandemi

 

Perwakilan EMCL, Marshya C. Ariej mengaku bangga dengan pencapaian para perajut. Menurutnya, semangat dan kreativitas para ibu ini menjadi kunci kesuksesan program. Dia berharap, semangat kemandirian dan mental usaha para ibu akan terus berkembang.

 

Sejak 2018 EMCL mendukung pemberdayaan ekonomi perempuan melalui program ini. Lebih dari 400 perempuan di Bojonegoro dan Tuban telah mengikuti pelatihan, studi tiru, pameran, dan mendapat orderan rajut. Sekitar 50 di antaranya telah menjadi perajut mahir. Mereka tidak hanya mampu membuat rajut sesuai pola pesanan perusahaan, mereka juga mampu mengembangkan desain sendiri. Mereka juga telah mengajak dan melatih perempuan lain di sekitar rumahnya.

 

“Kami yakin, para perempuan perajut ini akan terus berkembang dan memberi manfaat besar bagi peningkatan ekonomi dan peran perempuan di Kabupaten Bojonegoro dan Tuban,” pungkasnya. (Red/Lis)