SuaraBojonegoro.com – Langkah awal yang matang mulai diambil oleh mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik Kolaboratif (KKN-TK) Kelompok 14 Universitas Bojonegoro (Unigoro) tahun 2026. Guna menyusun program kerja yang tepat sasaran dan berdampak nyata, mereka menerjunkan tim untuk melakukan survei dan pemetaan awal di Desa Bareng, Kecamatan Sekar, Kabupaten Bojonegoro, pada Selasa (2/6/2026).
Survei komprehensif ini dilakukan dengan melibatkan berbagai elemen strategis desa. Mulai dari jajaran Pemerintah Desa Bareng, perangkat desa, kader, kelompok tani, Karang Taruna, hingga tokoh masyarakat setempat yang bertindak sebagai narasumber data.
Perwakilan mahasiswa KKN-TK 14 Unigoro, M. Ilham Febriansah, mengungkapkan bahwa turun langsung ke lapangan menjadi kunci agar program yang dibawa nantinya tidak sekadar menjadi menara gading, melainkan benar-benar menjawab kebutuhan riil masyarakat.
“Kami ingin mengetahui kondisi nyata di lapangan, mengidentifikasi potensi tersembunyi desa, sekaligus memetakan akar permasalahan yang ada. Hasil dari survei, wawancara, dan observasi ini akan kami godok bersama sebagai fondasi utama dalam menyusun program kerja KKN-TK 14 agar tepat sasaran,” ujar M. Ilham Febriansah di sela-sela kegiatan.
Dari hasil observasi lapangan dan diskusi terpumpun bersama warga, tim KKN-TK 14 berhasil merangkum sejumlah data strategis mengenai dinamika ekonomi dan sosial di Desa Bareng.
Sektor agraris tercatat menjadi urat nadi utama perekonomian warga. Berdasarkan data yang dihimpun, sekitar 90% lahan pertanian di Desa Bareng didominasi oleh tanaman jagung. Tidak hanya itu, potensi hijau desa ini kian diperkuat dengan masuknya sekitar 90% kawasan hutan desa ke dalam program Perhutanan Sosial yang dikelola langsung oleh Kementerian Kehutanan.
Di sektor ekonomi kreatif, geliat Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) lokal juga menunjukkan potensi yang menjanjikan. Warga Desa Bareng aktif memproduksi berbagai produk olahan rumah tangga seperti keripik, tahu, tempe, hingga rengginang.
Di sisi lain, survei ini juga berhasil memotret perubahan positif sekaligus tantangan yang masih dihadapi warga setempat. Berita baiknya, masalah klasik berupa kekeringan parah saat musim kemarau panjang kini sudah mulai teratasi. Kehadiran jaringan air bersih yang telah menjangkau rumah-rumah warga menjadi solusi krusial bagi sanitasi dan kebutuhan harian masyarakat Bareng.
Kendati demikian, sektor pertanian masih menyisakan pekerjaan rumah yang cukup berat. M. Ilham Febriansah menyebutkan, para petani jagung di Desa Bareng sejauh ini masih kerap mengeluhkan keterbatasan alokasi pupuk bersubsidi. Jumlah yang tersedia dinilai belum mampu mencukupi kebutuhan bentangan lahan pertanian desa yang sangat luas.
“Potensi pertanian jagung dan perhutanan sosial di sini luar biasa besar, didukung pula oleh UMKM yang produktif. Namun, kendala seperti pemenuhan kebutuhan pupuk ini yang akan coba kami formulasikan solusinya, mungkin melalui program edukasi pupuk organik atau penguatan kelembagaan tani. Semua data ini segera kami formulasikan menjadi program kerja konkret KKN-TK 14 Unigoro 2026,” pungkas Ilham. (Red*)








