Pesona Mistis Jadi Harmonis: Peserta Media Gathering Disuguhkan Tari Gandrung di Desa Penari

SuaraBojonegoro.com | Banyuwangi – Kesan horor yang sempat melekat pada narasi “Desa Penari” seketika runtuh dan berganti menjadi decak kagum. Ratusan awak media yang tergabung dalam Workshop Media Regional Indonesia Timur Subholding Upstream Pertamina mendapatkan pengalaman tak terlupakan saat berkunjung ke Rowo Bayu, Desa Bayu, Kabupaten Banyuwangi.

Dalam kunjungan yang diinisiasi oleh Regional Indonesia Timur Subholding Upstream Pertamina tersebut, para jurnalis langsung disambut oleh keindahan alam yang asri dan suguhan budaya yang memukau: Tari Gandrung Banyuwangi.

Begitu menginjakkan kaki di Desa Bayu—yang kerap dikaitkan dengan lokasi legendaris “Desa Penari”—hawa sejuk langsung menyergap. Dikelilingi pepohonan rimbun yang kokoh, tempat ini menawarkan ketenangan yang kontras dengan hiruk-pikuk perkotaan.

Suasana semakin magis saat para penari lokal mulai bergerak dengan lemah gemulai. Mengenakan busana khas yang mencolok, mereka membawakan Tari Gandrung, tarian asli yang menjadi kebanggaan masyarakat setempat. Gerakan yang luwes dan penuh filosofi berhasil memukau ratusan pasang mata awak media yang hadir.

Baca Juga:  Pertamina Sinergi Dengan Perusahaan Jepang Akselerasi Pengurangan Emisi Melalui Injeksi C02 Teknologi CCUS

“Desa Bayu merupakan desa budaya yang berkomitmen melestarikan warisan luhur masyarakat. Alam yang indah dan budaya yang kuat adalah ikon utama dari desa kami,” ujar Kepala Desa Bayu, Lilik, saat memberikan sambutan hangat kepada rombongan media.

Kades Lilik juga memanfaatkan momen ini untuk meluruskan stigma negatif atau kesan horor yang sempat viral beberapa tahun lalu mengenai “Desa Penari”. Menurutnya, julukan tersebut justru harus dimaknai sebagai ruang kelestarian budaya, khususnya seni tari. Desa Bayu terbukti sebagai desa yang aman, damai, dan sarat akan nilai toleransi.

Keunikan lain dari Desa Bayu adalah keberagaman masyarakatnya. Penduduk desa ini terdiri dari berbagai suku, mulai dari suku Osing (suku asli Banyuwangi) hingga suku Madura. Mereka hidup berdampingan dengan harmonis dan menggantungkan perputaran ekonomi mayoritas dari pengelolaan kekayaan alam setempat.

Tidak hanya disuguhi tarian, para peserta workshop media juga diajak melakukan historical tour dengan menelusuri berbagai situs wisata religi dan alam yang ada di kawasan Rowo Bayu, di antaranya. Sumber Air Rowo: Mata air jernih yang menjadi sumber kehidupan warga, Pura Macan Putih: Tempat ibadah yang menjadi simbol toleransi umat beragama di desa tersebut, dan Petilasan Prabu Tawang Alun: Situs sejarah yang paling menyedot perhatian.

Baca Juga:  Kapolres Bojonegoro Gelar Audiensi Bersama Awak Media Untuk Jalin Sinergitas

Di Petilasan Prabu Tawang Alun, awak media diceritakan kisah masa lalu saat sang Raja Macan Putih tersebut melakukan semedi di Rowo Bayu. Konon, dalam semedinya, Raja mendapatkan wasiat dan ditemui oleh seekor macan putih gaib. Hingga kini, petilasan tersebut masih ramai dikunjungi warga untuk melakukan ritual, di mana di dalamnya juga terdapat Sumber Kamulyan yang disakralkan.

Kunjungan lapangan ini bagian dari  menutup rangkaian Workshop Media Pertamina dengan kesan yang mendalam. Bukan rasa takut yang dibawa pulang oleh para jurnalis, melainkan kekaguman akan harmoni budaya, sejarah, dan alam Banyuwangi yang bersemi di Rowo Bayu. (Sas*)