PESANTREN DAN PERAN ESENSIAL KYAI

Oleh : Ibnu Khakim, MHI *)

SuaraBojonegoro.com – Menurut PP No. 55 Tahun 2007 sebuah Lembaga bisa disebut Pesantren jika memenuhi lima unsur, yaitu : adanya Kyai, santri yang mukim, kamar santri (gota’an/asrama), tempat ibadah berjamaah dan pengajaran kitab kuning, jika kurang dari salah satu unsur diatas, sebuah Lembaga se_syar’i apapun belum bisa disebut Pesantren.

Fakta Sejarah menyuguhkan bahwa pesantren tidak mungkin berdiri tanpa ada Kyai didalamnya, bahkan saking pentingnya Kyai, sebuah pesantren kadang cukup disebut dengan Pesantrennya Kyai Fulan, atau nama tempatnya, semisal pesantren Sarang, pesantren Buntet, pesantren Tawang dan sebagainya.

Lalu siapakah yang kemudian disebut Kyai itu ? dikutip dari buku “Antologi NU, Sejarah Istilah Amaliah Uswah”, istilah Kyai di kalangan organisasi Nahdlatul Ulama adalah personifikasi orang yang menguasai ilmu agama Islam dalam bidang tauhid, fiqh, dan sekaligus seorang ahli tasawuf. Tidak jauh beda dengan makna ulama. Sementara di lingkungan pondok pesantren, Kyai berarti sarjana muslim atau merupakan unsur yang paling esensial dari suatu pesantren. Lazimnya pertumbuhan suatu pesantren semata-mata bergantung pada kekampuan pribadi Kyainya. Namun dalam bahasa Jawa, kata Kyai dipakai untuk tiga makna gelar. Pertama, gelar kehormatan bagi benda-benda yang dianggap keramat. Umpamanya Kyai Garuda Kencana (kereta yang ada di Keraton Yogyakarta).

Kedua, gelar kehormatan untuk orang tua pada umumnya. Dan ketiga, gelar yang diberikan masyarakat kepada seoang ahli agama Islam yang memiliki atau menjadi pimpinan pesantren dan mengajarkan kitab-kitab klasik kepada para santrinya. Selain bergelar Kyai, ia juga sering disebut sebagai seorang alim atau alim ulama, yang artinya orang yang mahir dalam pengetahuan agamanya. Namun begitu, banyak juga orang alim yang cukup berpengaruh di tengah masyarakat mendapatkan sebutan Kyai, meskipun tidak memimpin pesantren. Itu karena beberapa sifat yang dimiliki seorang Kyai antara lain, ilmunya sudah tinggi’ zuhud dan qana’ah (sederhana), ikhlas, tawakkal, mempunyai rasa sosial tinggi, dan punya kesanggupan menegakkan kebenaran (Amar ma’ruf nahi munkar).

Baca Juga:  MENIKAH DI USIA DEWASA

Karena bertumpu pada figure Kyainya, maka muncullah bermacam-macam model Pesantren mengikuti model dan tipikal Kyainya tersebut, sehingga secara umum Pesantren diklasifikasikan menjadi 3 model :
Pertama, Keramat tapi ora kerumat, artinya Pesantren itu berhasil menjadikan para santrinya bermanfaat secara luas di Masyarakat, banyak santrinya yang menempati pos-pos strategis baik bidang profit maupun benefit, namun kondisi Pesantrennya jauh dari kelayakan, mulai dari bangunan yang seadanya dan tidak teratur, fasilitas yang minim, dan sebagainya.

Kedua, Kerumat tapi ora keramat, yakni dari segi fisik Pesantren tampak megak dan teratur rapi, fasilitas, sarana prasarana memadai sesuai standar bangunan dan Kesehatan, namun santrinya tidak banyak berperan dan berkiprah dalam perjuangan agama di Masyarakat, setalah mondok, mereka hanya sibuk memenuhi kebutuhan mereka dan keluarganya, kurang peduli terhadap lingkungannya, bahkan kadang diminta untuk mengajar ngaji tidak mau dengan berbagai alasan, tidak tampak ikut berpartisipasi aktif dalam kegiatan keagamaan sosial di linkungannya.
Ketiga, Keramat tur kerumat, yaitu Pesantren yang nyaris ideal dan proposional, bangunan bagus dan rapi, kegiatan pembelajaran dan pengajian tertib dan kontinyu, menu makanan distandarkan dengan ilmu gizi dan Kesehatan, kegiatan spiritual berjalan dengan baik dan menyeluruh, santrinya cakap, terampil dan berakhlaqul karimah, menguasai ilmu agama dengan baik, punya legaitas formal yang setara dengan kebutuhan zaman, berpihak pada agama dan kebaikan, sehingga berkahnya sangat dirasakan semua pihak, baik keluarga maupun lingkungannya.

Baca Juga:  Bela Negara di Ujung Jempol: Tantangan dan Peluang di Era Digital

Kyai merupakan elemen esensial dalam kehidupan pesantren, tidak saja karena Kyai yang menjadi penyangga utama kelangsungan sistem pendidikan pesantren, tetapi juga karena sosok Kyai merupakan cerminan dari nilai yang hidup di lingkungan komunitas santri, sehingga jika melihat Pesantren, kurang tepat jika dilihat dari bangunan fisik dan sarana prasarananya saja, namun lebih dari itu dilihat dari figure siapa Kyainya, karena Kyai inilah yang akan sangat mempengaruhi arah, pola piker dan pola kehidupan santri saat berjuang di Masyarakat kelak. (*)

*) Penulis -Ibnu Khakim, MHI- adalah Intelektual Muda dan Instruktur PBNU, Dosen, Pengasuh Pesantren Raudlatul Muslimin yang berdomisili di Desa Sumberarum Kecamatan Ngraho Kabupaten Bojonegoro.