Perantauan Asal Bojonegoro, Sambut Tahun Baru Di Tengah Hutan Kalimantan

Reporter : Lina Nur Hidayah

SuaraBojonegoro.com – Nasib Jauh dari keluarga di tanah rantau tak menyurutkan sejumlah perantauan asli Bojonegoro, untuk bertarung nasib bertahun-tahun di pulau Kalimantan demi menghidupi keluarga. Dimoment pergantian tahun 2025 sejumlah karyawan swasta di salah satu perusahaan di Palangkaraya membuat agenda rutin setiap malam tahun baru. sejumlah perantau yang sebagian merupakan warga Bojonegoro menggelar acara kumpul bersama yang sekaligus sebagai refleksi perjalanan di tahun 2024 dengan harapan 2025 menjadi lebih baik.

Hal ini diungkapkan oleh Hariyanto salah satu warga asli Bojonegoro, bahwa Ia mengatakan setiap akhir tahun selalu mengadakan acara rutin di kawasan hutan tempatnya bekerja. Acara tersebut meliputi Ngopi bareng, bakar-bakar ikan dan Sharing bareng sebagai bentuk evaluasi di tahun 2024. Selasa (31/12/24)

Baca Juga:  Jelang Malam Pergantian Tahun Baru 2024, Polsek Gayam Gandeng Mitra Polri Pastikan Aman

“Karena kita nggak bisa pulang di tahun baru, jadi setiap akhir tahun kita membuat refleksi untuk berbenah diri, tentunya harapan kami tahun 2025 bisa kerja dekat keluarga,” Katanya kepada suarabojonegoro.com melalui via WhatsApp.

Menurut Hariyanto, jauh dari keluarga bukanlah sebuah pilihan namun keadaan ekonomi yang menuntut nya untuk mengais rejeki ditanah rantau terlebih sulitnya lapangan pekerjaan diusia yang tak lagi muda.

“Tak ada perantauan yang bahagia namun terpaksa karena keadaan, semoga 2025 diberikan kemudahan segalanya, ” Paparnya

Moment akhir tahun yang berlokasi di tengah hutan ini, lanjut Hariyanto menjadi saat yang bermakna, karena dalam acara ini sesama perantauan dapat meluapkan apa saja yang menjadi keluh kesahnya selama setahun di tanah rantau, disisi lain bentuk rasa syukur karena diberikan kesehatan selama merantau.

Baca Juga:  Ketua Bojonegoro Kampung Pesilat Ingatkan Agar Tak Rayakan Tahun Baru Yang Timbulkan Gangguan Kamtibmas

“Agenda yang kami buat ngopi bareng, bakar-bakar jagung dan karaoke kecil kecilan akan tetapi menjadi moment bermakna karena kita tinggal ditengah hutan mau kekota medan pun sulit ditempuh, ” Tambahnya (Lin/red)