Penangkapan pelaku penyebaran hoaks mahasiswa sebarkan virus HIV/AIDS di Bojonegoro

oleh -
*) Foto Ilustrasi Kominfo

Oleh: Valensya E.H.T

SuaraBojonegoro.com – Kota Bojonegoro merupakan kota yang terletak di Jawa Timur. Kota Bojonegoro memiliki beberapa universitas seperti Universitas Bojonegoro, Universitas Terbuka dan lain sebagainya. Dengan adanya universitas di kota ini membuat fasilitas pendidikan kota ini semakin maju. Banyak masyarakat Bojonegoro yang memilih melanjutkan pendidikan didalam kota. Universitas di kota ini juga menyongsong angka pendidikan di kota ini menjadi meningkat.

Pelajar yang menempuh pendidikan di universitas disebut mahasiwa. Mahasiswa merupakan bagian yang penting dalam suatu universitas. Mahasiwa juga mempunyai tanggung jawab untuk menjaga nama baik universitasnya. Banyak masyarakat memandang suatu universitas baik atau buruk dari perilaku mahasiswanya.

Pada 13 September 2022 telah dilakukan penangkapan seorang warga Sukosewu karena terbukti membuat dan menyebarkan informasi dan hoaks perihal penyebaran virus HIV/AIDS (Kurniawan, 2022). Hoaks adalah informasi yang sesungguhnya tidak benar, tetapi dibuat seolah-seolah benar adanya (wikipedia).

Sedangkan HIV/AIDS merupakan virus yang merusak sistem kekebalan tubuh dengan menginfeksi dan menghancurkan sel CD4. Jika makin banyak sel CD4 yang hancur, daya tahan tubuh akan makin melemah sehingga rentan diserang penyakit. Penyakit ini dapat ditularkan melalui beberapa cara seperti hubungan seksual,  menggunakan jarum suntik bersama-sama, melakukan pekerjaan yang melibatkan kontak dengan cairan tubuh manusia tanpa menggunakan alat pengaman diri yang cukup (pengertian HIV dan AIDS).

Hoaks merupakan salah satu tindakan tercela yang bisa mengakibatkan kesalahpaham, perpecahan, perkelahian, percemaran nama baik dan lainnya.

Seseorang yang melakukan penyebaran hoaks dapat ditangkap oleh pihak keamanan setempat. Penyebar hoaks dapat dikenakan KUHP, Undang-Undang no.11 tahun 2018 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik. Penyebaran hoaks memiliki beberapa faktor pemicu seperti rasa iri kepada orang lain, ingin menjatuhkan orang lain dan lain sebagainya. Sebaiknya masyarkat harus mengerti betapa bahanya penyebaran hoaks karena akan menimbulkan dampak negative nagi masyarakat atau pelaku penyebar hoaks itu sendiri.

Selain mengerti berbahaya penyebaran hoaks, masyarakat juga harus pintar dalam mengolah dan memilih sebuah informasi. Jika mendapat informasi yang baru sebaiknya tidak langsung di percaya dan meneruskan ke orang lain tetapi harus di selidiki kebenarannya. Seharusnya pendidikan tentang hoaks dikenalkan sejak kecil baik di lingkungan keluarga ataupun sekolah. Dengan menerapkan pendidikan hoaks sejak dini dapat bermanfaat untuk generasi mendatang menjadi lebih selektif dalam memilih suatu informasi dan tidak menjadi pelaku penyebaran hoaks.

*)Penulis adalah S1-Teologi Kependetaan (STT YESTOYA MALANG)

No More Posts Available.

No more pages to load.