EMCL Beri Pelatihan Relawan Keselamatan Jalur Pipa

oleh -

SuaraBojonegoro.com – ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) bekerja sama dengan Yayasan Sedulur Pena (YSP), Kamis (8/4/2021) menggelar pelatihan relawan keselamatan program pengelolaan aspek sosial ekonomi masyarakat melalui peningkatan kesadaran keselamatan di jalur pipa minyak Lapangan Banyu Urip, Blok Cepu kepada relawan dari Bojonegoro – Tuban. Acara berlangsung di Hotel & resto Griya MCM Jl. Pemuda No. 5, Ngrowo, Kecamatan Bojonegoro.

Pelatihan dimulai sekitar pukul 09.00 WIB, melibatkan 38 relawan dan dihadiri Perwakilan EMCL, Slamet Riyadi dan Almiliki Ukay Sukaya Subqy, Ketua YSP, Nur Muharrom, Manajer Program, Muslimin. Bergabung pula secara daring Land Team EMCL, Sugi Santoso.

Ketua YSP, Nur Muharrom menjelaskan pelatihan keselamatan ini bertujuan memberikan pemahaman kepada relawan disepanjang jalur pipa dalam memperhatikan keselamatan jalur pipa minyak EMCL. Dilibatkannya satu relawan satu desa penting untuk kemudian mentransformasi pengetahuan kepada masyarakat di sekitar jalur pipa.

“Begitu pentingnya dan rawannya jalur pipa maka dibutuhkan bantuan partisipasi relawan dari Bojonegoro dan Tuban. Harapan YSP semoga kerjasama ini terus terjalin dan program ini bisa sukses dan maksimal dari tahun sebelumnya,” jelasnya.

Sementara itu perwakilan EMCL, Slamet Riyadi mengucapkan terimakasih yang sangat luar biasa atas kehadiran para relawan. Melalui pelatihan ini, EMCL dan relawan serta masyarakat sekitar jalur pipa yang difasilitasi tim YSP bisa bersinergi agar keamanan dan keselamatan pipa terjaga.

“Kami harapkan antara penggarap lahan dan EMCL bisa saling memberikan manfaat. Artinya minyak tetap berjalan dan negara bisa melakukan aktifitas Migas. Eks pemilik lahan bisa mendapatkan keuntungan dengan tidak melakukan kegiatan yang berbahaya,” tambahnya.

Adapun yang perlu diperhatikan soal keselamatan jalur pipa oleh petani maupun masyarakat sekitar, yakni bekas pembakaran sampah yang biasanya didominasi oleh limbah pertanian, dibakar dan dilakukan berulang, akan membahayakan keamanan jalur pipa.

Selain itu pohon keras yang tumbuh liar, maupun sengaja ditanam dekat area jalur pipa, diharapkan dapat dikoordinasikan dengan baik. Yang tertanam dengan sengaja, diharapkan tak lagi ditanam. Sedangkan keberadaan pohon liar, kiranya dari Pemdes bisa menginformasikan pihak keselamatan jalur pipa. Baik kepada security penjaga, humas EMCL, maupun lainnya.

Perlu dipahami kenapa harus 12 meter dan ada gundukan jalur pipa. Fungsinya untuk memudahkan pemantauan dan pemeliharaan hingga penanganan darurat. Itulah aturan kenapa koridor 12 meter harus kosong.

“Sebagai upaya memastikan keselamatan dan keamanan masyarakat dan minyak, security berjalan kaki setiap hari di atas jalur pipa. Ada juga memakai drone untuk pemantauan udara,” imbuhnya.

Pipa minyak Lapangan Banyuurip sendiri ditanam di kedalaman bervariasi antara 1,8 sampai 2 meter di bawah permukaan tanah. Untuk wilayah sungai dan jalan raya memakai kontruksi bor di bawah jalan.

Terkait keselamatan jalur pipa diharapkan terus ada komunikasi. Bisa tentang pengolahan lahan jalur pipa, antisipasi, maupun koordinasi. Mengingat panjang jalur pipa di Tuban dan Bojonegoro itu lebih panjang di Tuban. 42 Km di Tuban, dan 30 Km di Bojonegoro.

Fasilitas pipa minyak yang dikelola EMCL membentang dari Lapangan Banyu Urip di Kecamatan Gayam Kabupaten Bojonegoro sampai Tuban. Keberadaan Lapangan Banyu Urip beserta fasilitas pipa pendukungnya merupakan tanggungjawab bersama.

Materi penutup disampaikan oleh Ahmad Taufiq, terkait kerelawanan danKomunikasi (campaign practice) dan penggalian informasi dan praktik penyusunan pelaporan. (Red/Lis)