PMII Bojonegoro Tuding Dugaan Permainan Uang APBD Berkedok Deposito

oleh -

Reporter: Bima Rahmat

SuaraBojonegoro.com – Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kabupaten Bojonegoro menggelar aksi damai di halaman pendopo Pemerintah Kabupaten Bojonegoro dengan tema Kartu kuning untuk Buoati Bojonegoro Anna Muawanah. Kamis (14/10/19).

Nur Khayan, selaku Ketua PMII Kabupaten Bojonegoro, dalam orasinya menyatakan bahwa sebelumnya para mahasiswa telah  mempelajari dan berdiskusi dengan Badan Pengelolaan Keuangan Anggaran Daerah (BPKAD) Kabupaten Bojonegoro beberapa minggu yang lalu.

“Dari hasil data yang kami peroleh di tahun 2018 terdapat Anggaran Sisa Lebih Penggunaan Anggaran (Silpa) sebesar 2,1 triliun,” katanya.

Silpa tersebut selanjutnya dimasukkan di APBD 2019 pada perusahaan PAPBD. Secara tidak langsung APBD yang semula terdapat Rp 4,8 triliun di tahun 2019 menjadi Rp 7,1 triliun, karena ditambah anggaran Silpa sebesar Rp 2,1 triliun tersebut.

Dirinya menegaskan dari data yang diperoleh PMII Kabupaten Bojonegoro, mengenai deposito sebesar 2,9 triliun yang di dipositokan di beberapa bank diantaranya adalah bank BRI sebesar Rp 1,5 triliun, bank BNI sebesar Rp 100 milyar, bank mandiri sebesar Rp 509 milyar dan Bank Jatim sebesar Rp 1,25 triliun.

“Namun kami akan lebih mempertanyakan, apa yang mendasari pemerintah kabupaten Bojonegoro dalam mendepositokan ke empat bank tersebut,” ujarnya.

Para mahasiswa yang tergabung di organisasi PMII ini menduga adanya pemberian cas back atau gratifikasi antara ke empat bank tersebut dengan pemerintah kabupaten Bojonegoro dalam. Disisi lain, mahasiswa ini mengaku mendapat data yang diperoleh dari BPKAD Kabupaten Bojonegoro terkait dengan pemberdayaan bunga deposito, terdapat juga kejanggalan dalam dua lampiran data dengan nomor surat yang sama. Akan tetapi isinya berbeda.

“Maka dari itu perlu kejelasan sedetail-detailnya,” jelasnya.

Berangkat dari situlah PMII Kabupaten Bojonegoro merasa ada kejanggalan, seperti tidak sinkronnya data yang didapat dari BPKAD yaitu terdapat bunga yang tidak sama antara data pertama dan kedua.

“Oleh karena itu kami menduga ada permainan dibalik kedok deposito,” pungkasnya. (Bim/red).

No More Posts Available.

No more pages to load.