SuaraBojonegoro.com – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik Kolaboratif (KKNTK) Universitas Bojonegoro Tahun 2026 Kelompok 15 kembali melakukan survei lapangan di Desa Sugihwaras, Kecamatan Ngraho, pada Jumat (12/6/2026). Kegiatan ini merupakan tindak lanjut survei awal untuk menggali potensi unggulan desa, khususnya kerajinan anyaman bambu.
Survei dilakukan dengan mengunjungi sentra kerajinan anyaman bambu dan berdiskusi bersama Mas Fendi, seorang pemuda pelopor Desa Sugihwaras yang aktif mengembangkan usaha sekaligus memberdayakan para pengrajin lokal bambu. Dalam diskusi tersebut, mahasiswa memperoleh informasi mengenai proses produksi, pemasaran, hingga tantangan pengembangan usaha anyaman bambu.
Mas Fendi menjelaskan bahwa keterampilan menganyam bambu telah diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat. Dahulu, kegiatan ini hanya dianggap sebagai pekerjaan sampingan saat musim kemarau atau saat pekerjaan di sektor pertanian telah selesai. Melihat potensi yang besar, ia berupaya mengubah pola pikir masyarakat agar kerajinan bambu dapat menjadi sumber penghasilan yang lebih bernilai dan berkelanjutan. Melalui sistem Kelompok Usaha Bersama (KUB), para pengrajin kini menghasilkan berbagai produk dengan desain yang telah dikembangkan menjadi lebih modern agar mampu mengikuti kebutuhan pasar dan telah dipasarkan hingga luar daerah melalui pemasaran langsung maupun platform digital.
Selain mengembangkan usaha, Mas Fendi sebagai pemuda pelopor juga aktif melakukan pemberdayaan masyarakat di tingkat desa hingga kecamatan. Ia tidak hanya memberikan pelatihan keterampilan, tetapi juga membantu menyediakan pesanan dan akses pasar bagi para mitranya. Menariknya, upaya pemberdayaan tersebut juga menyasar generasi muda. Melalui kegiatan edukasi dan praktik langsung bagi siswa SD hingga SMP, sebagai upaya menumbuhkan jiwa kewirausahaan, kreativitas, dan kemandirian sejak dini sekaligus mengenalkan potensi lokal daerah.
Dalam upaya memperluas jangkauan pemberdayaan dan pemasaran, Mas Fendi juga melakukan transformasi identitas usahanya dari “Kampung Bambu Lestari” menjadi “Bamboe Bojonegoro”. Perubahan ini dilakukan karena kegiatan yang dijalankannya kini telah melibatkan pengrajin dari berbagai kecamatan, seperti Kalitidu, Trucuk, Purwosari, dan Dander. Menurutnya, nama “Bamboe Bojonegoro” lebih merepresentasikan cakupan kegiatan yang semakin luas sekaligus memperkuat identitas produk lokal Bojonegoro. Selain itu, penggunaan nama kabupaten dinilai lebih mudah dikenali oleh calon pembeli maupun investor dari luar daerah dibandingkan nama desa yang lebih spesifik, sehingga dapat mendukung perluasan pasar produk anyaman bambu.
Pada pertemuan tersebut, mahasiswa juga memperkenalkan tema KKNTK 2026, yaitu “Sustainable Forest, Sustainable Life”, yang berfokus pada pemberdayaan masyarakat di kawasan Hutan Selatan Bojonegoro. Menanggapi tema tersebut, Mas Fendi menilai bambu memiliki potensi besar sebagai produk berbasis sumber daya lokal yang berkelanjutan dan berharap mahasiswa dapat menghadirkan inovasi yang mampu meningkatkan nilai tambah produk anyaman bambu.
Melalui survei lanjutan ini, mahasiswa KKNTK Unigoro Kelompok 15 memperoleh pemahaman yang lebih mendalam mengenai potensi kerajinan anyaman bambu sebagai salah satu aset unggulan Desa Sugihwaras. Hasil survei tersebut akan menjadi dasar dalam penyusunan program kerja yang mendukung pengembangan ekonomi kreatif, pemberdayaan masyarakat, serta pemanfaatan potensi lokal secara berkelanjutan selama pelaksanaan KKNTK 2026. (Red/Lis)








