SuaraBojonegoro.com – Deretan bangunan tua dengan arsitektur kolonial berdiri anggun di sekitar Terminal Padangan, Kabupaten Bojonegoro Di antara bangunan-bangunan yang masih terpelihara tersebut, terdapat satu monumen hidup yang kini menjalankan fungsi ganda yaitu sebagai penjaga keamanan sekaligus penjaga sejarah. Itulah Kantor Polsek Padangan. Selasa (17/2/2026).
Bangunan ini bukan sekadar kantor polisi biasa. Dengan dinding tebal, pilar-pilar kokoh, jendela besar, dan langit-langit tinggi, aura kewibawaan arsitektur Belanda sangat terasa saat melangkah masuk ke setiap ruangannya. Lantai terazzo bernuansa kecokelatan dan hijau zamrud, berpadu dengan ambang pintu bergaya klasik, seolah membawa siapa pun yang berkunjung kembali ke masa kejayaan niaga di tepian Bengawan Solo.
Gedung yang kini menjadi Mapolsek Padangan ini menjadi Saksi Bisu Kejayaan Perkebunan diwilayah Bojonegoro Barat,
Sejarah mencatat bahwa bangunan ini merupakan pusat kendali vital bagi industri perkebunan di masa lampau. Sebelum menjadi kantor polisi, gedung ini pernah berfungsi sebagai kantor tembakau hingga pabrik kapur. Lokasinya yang strategis menjadikannya titik temu distribusi “emas hijau”—sebutan untuk tembakau yang kala itu menjadi komoditas unggulan Bojonegoro.
Letaknya yang bertetangga dengan gedung Padangan Heritage, Local History & Museum semakin mempertegas status kawasan ini sebagai distrik bersejarah di Bojonegoro.
Di balik kemegahan fisiknya, area Polsek Padangan menyimpan sisi spiritual yang melegenda bagi masyarakat lokal. Terdapat tujuh buah sumur yang secara filosofis dianggap memiliki nilai kesucian.
Fahrudin, penjaga Padangan Heritage sekaligus keturunan keempat dari pengusaha tembakau legendaris H. Rasyid, mengenang masa-masa kejayaan sumur tersebut.
“Dulu tahun 80-an, air dari tujuh sumur di sini sering dicari orang untuk ruwatan. Memang sangat ikonik pada masanya,” kenang Fahrudin saat memandu tim redaksi berkeliling.
Masyarakat meyakini bahwa air dari sumur-sumur tersebut membawa keberkahan dan kesucian bagi mereka yang menjalankan tradisi Jawa. Meski kini fungsi sumur tersebut mulai bergeser ke sumber sendang di sekitar wilayah, keberadaannya tetap menjadi bagian tak terpisahkan dari warisan budaya tanah Padangan.
Kini, di bawah kepemimpinan Kapolres Bojonegoro AKBP Afrian Setya Permadi, Polsek Padangan menjalankan peran yang unik. Selain menjalankan fungsi utamanya dalam menjaga Kamtibmas, gedung ini berdiri sebagai pengingat bagi generasi muda tentang kejayaan agraris dan kekayaan budaya Bojonegoro.
Polsek Padangan telah bertransformasi menjadi monumen sejarah yang hidup—tempat di mana hukum ditegakkan di tengah arsitektur yang bercerita tentang masa lalu. (**)








