Masjid Viral Bojonegoro Resmi Berubah Nama Menjadi Samin Baitul Muttaqi, Tokoh Lokal Menyambut Baik

SuaraBojonegoro.com – Keputusan Pemerintah Kabupaten Bojonegoro untuk menamai masjid yang baru dibangun di Desa Sumberejo, Kecamatan Margomulyo, dengan nama “Samin Baitul Muttaqin” telah menjadi sorotan. Masjid yang dibangun menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) ini kini secara resmi menyandang nama yang menyandingkan identitas lokal dengan makna religius.

Telusuran JagatSembilan.com pada Kamis (04/12/2025) menemukan bahwa penamaan ini justru disambut baik, baik oleh pengurus masjid maupun penerus ajaran Samin itu sendiri.

Para takmir masjid menyatakan sikap mendukung penuh keputusan Pemkab Bojonegoro. Sareh, salah satu takmir sekaligus Ketua Ranting NU Sumberejo, menegaskan tidak ada masalah dengan nama tersebut. “Saya ikut saja keputusan Pemkab Bojonegoro yang telah memberikan nama Samin Baitul Muttaqin. Karena masjid juga dibangun dengan dana APBD,” jelasnya.

Senada dengan itu, Abdul Ghofur, takmir yang juga anggota Banser, menyatakan bahwa pengelolaan masjid diserahkan kepada tokoh Islam dari enam desa di Kecamatan Margomulyo. Ia menambahkan bahwa saat ini kegiatan masjid masih terbatas pada sholat maktubah, sambil menunggu peresmian resmi dari Pemkab Bojonegoro.

Penerus Masyarakat Samin, Bambang Sutrisno, juga memberikan tanggapan positif. Ia menegaskan bahwa penggunaan kata “Samin” dalam nama masjid sama sekali tidak menjadi persoalan bagi komunitasnya.

Baca Juga:  Seniman dan Budayawan Bojonegoro Berduka

“Kesimpulannya, terkait nama (masjid) Samin Baitul Muttaqin bagi kami tidak ada masalah, karena masjid itu yang membangun Pemkab Bojonegoro dan yang memberi nama pun dari Pemkab,” ujar Bambang. Ia menambahkan bahwa selama penamaan tersebut tidak merugikan pihak mana pun, mereka akan mempersilakannya.

Menariknya, Bambang Sutrisno juga menggunakan momen ini untuk meluruskan pemahaman publik yang keliru mengenai Masyarakat Samin.

Ia menjelaskan bahwa kata Samin berasal dari istilah “sami-sami” yang berarti bersama-sama atau kebersamaan. Ajaran ini, yang digagas oleh Mbah Suro Sentiko atau R. Kohar, menekankan kesetaraan dan persaudaraan, yang pada masa penjajahan Belanda merupakan seruan untuk melawan penjajah secara kolektif.

Bambang memaparkan bahwa sikap yang dianggap publik sebagai “nyleneh” (aneh atau menyimpang) sebenarnya adalah strategi perlawanan cerdas terhadap penjajah.

“Seperti ditanya dari mana? Dijawab dari belakang. Ditanya mau ke mana? Dijawab mau ke depan. Itu adalah jawaban jujur tapi mengaburkan, khusus kepada penjajah,” terangnya.

Baca Juga:  Injak Patung Tokoh Samin di Margomulyo - Bojonegoro, Remaja 16 Tahun Diamankan Polisi

Penolakan membayar pajak pada masa lalu juga merupakan bentuk perlawanan, bukan pembangkangan. Bambang menegaskan bahwa setelah Mbah Suro Sentiko bertemu Presiden Soekarno dan memastikan kemerdekaan Indonesia, Suku Samin menjadi salah satu pembayar pajak paling cepat hingga saat ini.

Bambang Sutrisno juga menggarisbawahi lima nilai utama yang menjadi pedoman hidup Masyarakat Samin, yang menekankan moralitas dan keharmonisan sosial yaitu Laku Jujur, Sabar, Trokal, lan Nrimo: Berperilakulah baik, jujur, sabar, dan menerima (bersyukur).

Kemudian Ojo Dengki Srei, Dahwen Kemiren artinya Tidak boleh iri dengki dan tidak mengambil hak orang lain, lalu Ojo Mbedo-Mbedakno Sapodo Padaning Urip: Jangan membeda-bedakan sesama manusia, karena semua adalah saudara.

Ojo Waton Omong, Omong Sing Nganggo Waton: Jangan asal bicara yaitu berbicaralah dengan aturan dan etika. Dan Biso Roso Rumongso artinya Jadilah manusia yang memiliki rasa empati.

Penamaan masjid ini seolah menjadi simbol rekonsiliasi sejarah dan pengakuan resmi terhadap nilai-nilai luhur kebersamaan yang telah lama dipegang teguh oleh Masyarakat Samin di Bojonegoro. (Red/Lis)