Krisis Air Bersih Meluas, Politisi Partai Gerindra Bagikan Air Ke Warga di Bojonegoro

SuaraBojonegoro.com – Dampak kemarau panjang di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, semakin meluas. Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bojonegoro, sebanyak 60 desa yang tersebar di 18 kecamatan kini mengalami krisis air bersih.

Kondisi tersebut membuat ribuan kepala keluarga di sejumlah wilayah terdampak harus mengandalkan bantuan air bersih untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Salah satunya dirasakan warga Desa Sumberharjo, Kecamatan Sumberrejo, Kabupaten Bojonegoro. Sumber air dan sumur milik warga di wilayah tersebut telah mengering akibat kemarau panjang.

Kondisi ini membuat warga harus menunggu distribusi air bersih dari pemerintah daerah, relawan maupun sejumlah pihak yang turut membantu masyarakat terdampak.

Di tengah kondisi tersebut, Ketua Komisi B DPRD Bojonegoro, Sally Atyasasmi, yang juga merupakan politisi Partai Gerindra, turun langsung ke lokasi untuk melakukan dropping air bersih kepada warga yang mengalami krisis air.

Baca Juga:  Diduga Ada Kejanggalan Seleksi Perades di Kecamatan Dander, Eks Peserta Sampaikan Petisi ke DPRD

Kedatangan bantuan air bersih tersebut langsung disambut antusias warga. Mereka mendatangi truk tangki dengan membawa jerigen dan ember kosong untuk menampung air yang akan digunakan memenuhi kebutuhan rumah tangga.

Sutaji, salah seorang warga, mengatakan krisis air bersih telah dirasakan masyarakat selama sekitar dua bulan terakhir. Sumur milik warga sudah tidak lagi mengeluarkan air sehingga kebutuhan sehari-hari sangat bergantung pada bantuan.

“Air ini untuk kebutuhan sehari-hari, seperti mandi, mencuci, dan juga untuk memberi minum hewan ternak, seperti sapi dan kambing,” ujar Sutaji.

Menurutnya, bantuan air bersih sangat membantu masyarakat di tengah kondisi kemarau yang belum berakhir. Warga berharap distribusi air dapat terus dilakukan selama sumber air di wilayah mereka masih mengalami kekeringan.

Sementara itu, Sally Atyasasmi mengatakan dropping air bersih dilakukan sebagai bentuk kepedulian terhadap masyarakat yang terdampak kekeringan. Menurutnya, kondisi krisis air bersih harus menjadi perhatian bersama karena kebutuhan air merupakan kebutuhan dasar masyarakat.

Baca Juga:  Perubahan APBD Bojonegoro Dikarenakan Pergeseran Anggaran

Distribusi air bersih dilakukan secara rutin ke sejumlah wilayah terdampak, baik oleh BPBD Bojonegoro, relawan, maupun instansi terkait lainnya. Penyaluran dilakukan secara bergantian dan terjadwal sesuai dengan kondisi masing-masing wilayah.

Berdasarkan data BPBD Bojonegoro per 11 September 2026, dampak kekeringan akibat kemarau panjang telah melanda 60 desa yang tersebar di 18 kecamatan. Ribuan kepala keluarga terdampak dan membutuhkan pasokan air bersih.

Hingga saat ini, BPBD Bojonegoro juga telah menyalurkan bantuan air bersih sebanyak 405 tangki, dengan kapasitas sekitar 5.000 liter per tangki.

Bantuan tersebut diharapkan dapat meringankan beban masyarakat yang terdampak kekeringan, sekaligus memastikan kebutuhan dasar warga tetap terpenuhi selama musim kemarau. (Sas*)