Dari Goresan Canting Menuju Peluang Usaha, Pelatihan Batik Tulis PKW 2026 di Bojonegoro Tumbuhkan Semangat Wirausaha

SuaraBojonegoro.com — Perjalanan selembar kain menjadi batik tulis dimulai dari sebuah gagasan. Gagasan itu dituangkan menjadi desain, dipindahkan menjadi pola pada kain, kemudian dikerjakan dengan canting hingga melalui proses pewarnaan dan pelorodan. Di balik setiap tahap, ada ketelitian, kesabaran, dan keterampilan yang terus diasah.

 

Proses itulah yang dipelajari para peserta Pelatihan Batik Tulis Program Pendidikan Kecakapan Wirausaha (PKW) Tahun 2026, yang dilaksanakan pada 17 Juni hingga 24 Agustus 2026 di Balai Desa Kedungsari, Kecamatan Temayang, Kabupaten Bojonegoro.

 

Program Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) yang bekerja sama dengan Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kabupaten Bojonegoro ini menjadi ruang belajar untuk mengembangkan keterampilan sekaligus menumbuhkan keberanian merintis usaha.

 

Dalam rentang waktu tersebut, peserta menjalani 32 hari pelatihan. Mereka mempelajari tahapan pembuatan batik tulis, mulai dari membuat desain, mengaplikasikan pola ke kain, mencanting, pewarnaan, hingga pelorodan. Rangkaian pembelajaran ini memberikan kesempatan bagi peserta untuk memahami bagaimana setiap proses memengaruhi kualitas hasil akhir.

 

Pada tahap desain, peserta belajar menuangkan ide menjadi motif. Ketika pola diaplikasikan ke kain, mereka mulai memperhatikan penempatan dan susunan bentuk. Proses mencanting kemudian menuntut ketelitian dalam menorehkan malam, sebelum kain memasuki tahap pewarnaan. Melalui pelorodan, lapisan malam dilepaskan sehingga hasil perpaduan motif dan warna dapat terlihat.

Baca Juga:  Obor Sewu Makin Dikenal, Kebijakan PDH ASN Buka Peluang Ekonomi bagi Masyarakat Samin

 

Instruktur pelatihan, Seto Utoro, menekankan bahwa keterampilan membatik tumbuh melalui pemahaman proses dan latihan yang berkelanjutan.

 

“Belajar membatik membutuhkan kesabaran. Setiap tahap memiliki tantangannya sendiri, mulai dari menyusun desain sampai pelorodan. Kami ingin peserta memahami prosesnya secara utuh, sehingga mereka bisa mengenali bagian yang perlu diperbaiki dan menghasilkan karya yang semakin baik,” ujar Seto.

 

Menurutnya, penguasaan teknik menjadi bekal awal bagi peserta untuk mengembangkan ciri khas karya. Keberanian mencoba desain dan perpaduan warna perlu dibangun seiring meningkatnya keterampilan.

 

“Mulailah dari motif yang dapat dikerjakan dengan baik, lalu terus berlatih dan mengembangkan ide. Kalau kualitasnya terjaga dan karya memiliki karakter, keterampilan ini bisa menjadi bekal untuk merintis usaha,” tambahnya.

 

Harapan agar pembelajaran berlanjut menjadi kegiatan produktif juga disampaikan Ketua Dekranasda Kabupaten Bojonegoro sekaligus penanggung jawab program, Dr. Hj. Sri Budi Cantika Yuli, S.E., M.M., yang akrab disapa Bu Cantika.

Baca Juga:  Perajin Batik Binaan EMCL Alami Lonjakan Omset di Pekan Batik Daerah

 

“Melalui Program PKW 2026, kami berharap peserta memperoleh keterampilan yang dapat digunakan untuk membangun kemandirian. Setelah mengikuti pelatihan, kami ingin mereka berani mulai berkarya, terus meningkatkan kemampuan, dan melihat peluang usaha dari hasil yang mereka buat,” ungkap Bu Cantika.

 

Ia menilai tumbuhnya perajin baru memiliki peran penting dalam menjaga keberlanjutan batik. Keterampilan yang terus dipraktikkan dan dikembangkan dapat mempertemukan upaya pelestarian budaya dengan kebutuhan ekonomi masyarakat.

 

“Batik memiliki nilai budaya dan potensi ekonomi yang perlu kita rawat bersama. Harapannya, peserta dapat mengembangkan karya yang berkualitas, memiliki ciri khas, dan mampu menarik minat pasar. Dengan begitu, keterampilan membatik dapat memberikan manfaat bagi keluarga sekaligus ikut menghidupkan kerajinan daerah,” tuturnya.

 

Berakhirnya pelatihan pada 24 Juli 2026 menjadi awal bagi peserta untuk melanjutkan proses belajar secara mandiri. Bekal dari Balai Desa Kedungsari perlu terus diasah melalui praktik, pengembangan desain, dan perhatian terhadap kualitas. Dari goresan canting yang dikerjakan dengan tekun, harapan untuk menghasilkan karya dan merintis usaha mulai dibangun. (Red)