Reporter : Moch Arifianto
SuaraBojonegoro.com – Dampak musim kemarau ekstrem di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, terus meluas. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bojonegoro mencatat hingga 7 Oktober 2026, sebanyak 83 desa di 22 kecamatan terdampak kekeringan.
Jumlah tersebut meningkat tajam dibandingkan tahun sebelumnya. Pada 2025, kekeringan tercatat melanda 14 desa di 13 kecamatan.
Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Bojonegoro, Ristony Eka Putra, mengatakan kondisi tersebut terjadi akibat musim kemarau yang masih berlangsung dan menyebabkan sejumlah wilayah mengalami kesulitan mendapatkan air bersih.
“Untuk saat ini ada 83 desa di 22 kecamatan yang terdampak kekeringan. Jumlah ini masih bisa bertambah apabila kondisi kemarau terus berlangsung,” ujar Ristony.
Untuk membantu memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat, BPBD Bojonegoro terus melakukan dropping air ke sejumlah wilayah terdampak. Dalam sehari, petugas dapat melakukan distribusi air ke sekitar 30 titik, menyesuaikan kebutuhan dan kondisi di lapangan.
Menurut Ristony, proses dropping air sejauh ini berjalan tanpa kendala berarti. Gangguan hanya sesekali terjadi akibat armada mengalami kerusakan, namun kondisi tersebut tidak sampai menghambat penyaluran air secara keseluruhan.
“Dropping air masih terus kami lakukan sesuai dengan kebutuhan di lapangan. Kalau ada kendala biasanya hanya terkait armada, tetapi sejauh ini tidak sampai menghambat penyaluran,” jelasnya.
BPBD memperkirakan hujan baru akan turun secara signifikan pada November mendatang. Karena itu, masyarakat diminta tetap menghemat penggunaan air dan memanfaatkan cadangan air secara bijak.
Ristony mengimbau warga untuk menggunakan air secukupnya, terutama untuk kebutuhan sehari-hari, selama musim kemarau masih berlangsung.
“Kami mengimbau masyarakat untuk menghemat air dan menggunakan air secara bijak. Karena musim hujan diperkirakan masih sekitar satu bulan lagi, sehingga masyarakat perlu menyiapkan cadangan air secukupnya,” pungkasnya. (Rif/Red)








