SuaraBojonegoro.com – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bojonegoro mengambil langkah strategis dengan merilis peta kawasan rawan bencana terbaru. Pemetaan ini menjadi upaya mitigasi kunci untuk memperkuat kesiapsiagaan masyarakat di seluruh wilayah, mengingat hampir seluruh kecamatan di Bojonegoro memiliki potensi bencana dengan karakteristik yang beragam.
Langkah ini diambil menyikapi berbagai jenis bencana yang kerap melanda, mulai dari banjir genangan, luapan Sungai Bengawan Solo, kekeringan, tanah longsor, angin kencang, hingga kebakaran lahan dan hutan (karhutla).
Sekretaris BPBD Bojonegoro, Ginuk Karniati, menegaskan bahwa peta ini adalah dasar penting untuk menentukan prioritas penanganan dan penguatan peran masyarakat dalam kesiapansiagaan. Hasil pemetaan membagi risiko wilayah Bojonegoro menjadi tiga zona utama:
1. Zona Sungai Bengawan Solo: Ancaman Banjir Tahunan 🌊
Kecamatan yang berada di sepanjang aliran Sungai Bengawan Solo ditetapkan sebagai wilayah berisiko tinggi terhadap banjir tahunan. Wilayah ini meliputi:
- Trucuk
- Kapas
- Baureno
2. Zona Selatan: Longsor dan Banjir Bandang di Perbukitan ⛰️
Kecamatan di bagian selatan Bojonegoro yang didominasi kontur perbukitan harus mewaspadai potensi tanah longsor dan banjir bandang. Kawasan ini mencakup:
- Temayang
- Gondang
- Sekar
3. Zona Barat: Angin Kencang dan Kekeringan Ekstrem ☀️
Kawasan Bojonegoro barat, terutama saat musim kemarau, sangat rentan terhadap angin kencang dan kekeringan. Wilayah yang menjadi perhatian utama adalah:
- Tambakrejo
- Ngasem
Menyikapi peta risiko ini, BPBD Bojonegoro terus mengintensifkan upaya mitigasi. “Upaya mitigasi terus dilakukan melalui edukasi kebencanaan serta optimalisasi sistem peringatan dini,” jelas Ginuk.
BPBD tak bergerak sendiri. Mereka aktif bekerja sama dengan perangkat desa, TNI-Polri, dan relawan untuk memastikan kesiapan di tingkat akar rumput.
Sebagai tindak lanjut, BPBD mendorong peningkatan partisipasi masyarakat dalam pelaporan kejadian, baik secara online (media sosial) maupun offline. Selain itu, pelatihan tanggap darurat melalui program Desa Tanggap Bencana (Destana) menjadi ujung tombak untuk menekan risiko dan memastikan keselamatan warga Bojonegoro.
Pesan Kunci BPBD: Kesiapan dan partisipasi aktif masyarakat adalah kunci untuk meminimalisasi risiko bencana dan menjamin keselamatan warga Bojonegoro. (Red/Lis)








