SuaraBojonegoro.com – Kabupaten Bojonegoro menorehkan prestasi membanggakan di sektor pertanian. Untuk pertama kalinya, Bojonegoro berhasil menempati posisi pertama sebagai kabupaten dengan produksi padi tertinggi di Provinsi Jawa Timur pada 2026. Berdasarkan angka sementara hasil Kerangka Sampel Area (KSA) amatan September 2026 yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) pada Senin (2/11/2026), produksi padi Bojonegoro mencapai 868,81 ribu ton Gabah Kering Giling (GKG).
Capaian tersebut sekaligus menjadi sejarah baru bagi Kabupaten Bojonegoro. Daerah yang selama ini belum pernah menduduki peringkat teratas penghasil padi di Jawa Timur itu kini berhasil mengungguli sejumlah kabupaten sentra pertanian lainnya.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Bojonegoro, Zaenal Fanani, mengungkapkan rasa syukur atas capaian tersebut. Menurutnya, keberhasilan ini merupakan hasil kerja bersama berbagai pihak dalam mendorong peningkatan produktivitas pertanian.
“Ini merupakan sejarah baru bagi Bojonegoro. Setelah selama ini belum pernah berada di posisi pertama, pada tahun 2026 ini Bojonegoro berhasil menjadi kabupaten dengan produksi padi tertinggi di Jawa Timur,” ungkapnya.
Ia menyebut, capaian tersebut merupakan karunia Allah SWT sekaligus buah dari bimbingan dan arahan Bupati serta Wakil Bupati Bojonegoro, kerja keras para petani dan petugas pertanian, serta kolaborasi seluruh organisasi perangkat daerah (OPD).
Berdasarkan data sementara BPS, luas panen padi Bojonegoro pada 2026 mencapai 159,19 ribu hektare dengan produksi sebesar 868,81 ribu ton GKG. Angka tersebut setara dengan estimasi produksi beras untuk konsumsi pangan penduduk sebesar 501,67 ribu ton.
Bojonegoro berhasil mengungguli Kabupaten Lamongan yang selama ini juga dikenal sebagai salah satu daerah sentra produksi padi di Jawa Timur. Lamongan mencatat luas panen 146,16 ribu hektare dengan produksi 852,19 ribu ton GKG atau setara 492,07 ribu ton beras.
Sementara itu, secara keseluruhan, produksi padi Jawa Timur pada 2026 diperkirakan mencapai 10,61 juta ton GKG dari luas panen sekitar 1,75 juta hektare. Jika dikonversikan menjadi beras untuk konsumsi pangan penduduk, jumlahnya mencapai 6,12 juta ton.
Dibandingkan tahun 2025, luas panen padi di Jawa Timur mengalami peningkatan sebesar 13.071 hektare atau 0,71 persen. Produksi padi juga bertambah 203.126 ton GKG atau 1,62 persen, sedangkan produksi beras meningkat 96.551 ton atau 1,62 persen.
Zaenal Fanani berharap capaian tersebut dapat terus dipertahankan hingga penetapan data final yang dijadwalkan pada Februari 2027 mendatang. Sebab, angka yang dirilis BPS saat ini masih bersifat sementara sehingga diperlukan dukungan dan sinergi berkelanjutan dari seluruh pihak.
Menurutnya, keberhasilan Bojonegoro menjadi daerah penghasil padi terbesar di Jawa Timur tidak terlepas dari peran petani sebagai ujung tombak ketahanan pangan. Dukungan penyuluh pertanian, kelompok tani, pemerintah daerah, serta masyarakat juga menjadi faktor penting dalam menjaga produktivitas pertanian.
Capaian ini diharapkan menjadi penyemangat bagi seluruh insan pertanian di Bojonegoro untuk terus meningkatkan hasil produksi, menjaga keberlanjutan lahan pertanian, serta memperkuat kontribusi daerah dalam memenuhi kebutuhan pangan masyarakat.
Dengan produksi yang menembus 868 ribu ton GKG, Bojonegoro kini semakin mengukuhkan posisinya sebagai salah satu kekuatan utama sektor pertanian di Jawa Timur sekaligus daerah strategis dalam mendukung ketahanan pangan nasional. (Lis/Red)








