Oleh: Dr. Mukhamad Roni, S.E.,M.E
SuaraBojonegoro.com – Di balik lahan subur dan kultur agrarisnya, Bojonegoro hari ini berdiri sebagai salah satu pusat energi nasional. Berkah alam berupa minyak dan gas dari Blok Cepu, serta potensi energi baru terbarukan seperti etanol dan metanol, telah mendorong kabupaten ini ke dalam arus industrialisasi yang deras.
Namun, sebagai umat Islam, kita wajib bertanya lebih dalam: apakah pembangunan ini membawa kemaslahatan? Sudahkah berkah energi ini dirasakan merata? Apakah arah industrialisasi ini sesuai dengan nilai-nilai Islam?
Islam dan Amanah Kekayaan Alam
Dalam Islam, sumber daya alam adalah amanah dari Allah yang harus dikelola dengan adil, tidak eksploitatif, dan memberi manfaat luas. Firman Allah SWT:
“Dialah yang menjadikan kamu khalifah di muka bumi dan meninggikan sebagian kamu atas sebagian yang lain beberapa derajat, untuk mengujimu terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu.” (QS. Al-An’am: 165)
Migas, etanol, dan metanol bukan sekadar komoditas ekonomi. Ia adalah titipan Ilahi yang harus dikelola untuk kesejahteraan umat. Maka, jika kekayaan ini hanya dinikmati elite, sementara rakyat kecil masih bergulat dengan kemiskinan, jelas ada yang perlu dikoreksi.
Ekonomi Syariah: Jalan Tengah yang Solutif
Ekonomi Islam menawarkan tiga prinsip utama: keadilan distribusi, keberlanjutan lingkungan, dan kemaslahatan umum.
1. Keadilan distribusi berarti hasil kekayaan alam harus dirasakan oleh semua lapisan masyarakat. Mekanisme seperti zakat perusahaan, wakaf produktif, dan koperasi syariah bisa menjadi jembatan.
2. Keberlanjutan lingkungan artinya pengembangan industri tidak boleh merusak alam. Rasulullah SAW bersabda: “Janganlah engkau merusak bumi setelah Allah memperbaikinya” (HR. Abu Dawud).
3. Kemaslahatan umum menuntut keterlibatan masyarakat dalam pengambilan keputusan pembangunan. Tidak boleh ada industrialisasi yang tertutup dan elitis.
Etanol dan Metanol: Energi Alternatif yang Islami?
Etanol dari tebu dan metanol dari limbah pertanian adalah energi terbarukan yang lebih ramah lingkungan. Ini sejalan dengan visi Islam tentang kehidupan yang selaras dengan alam. Jika dikelola dengan prinsip syariah transparan, adil, dan bebas riba maka industri bioenergi ini bisa menjadi contoh model ekonomi Islam yang nyata.
Rekomendasi Menuju Ekonomi Berkah
1. Perlu kebijakan energi berbasis syariah: Sertifikasi halal energi, insentif zakat industri, hingga sukuk hijau bisa menjadi terobosan.
2. Penguatan literasi ekonomi Islam di masyarakat: Masjid, pesantren, dan sekolah bisa menjadi pusat edukasi ekonomi syariah.
3. Dukung partisipasi publik dan UMKM: Industrialisasi jangan hanya diisi korporasi besar, tapi harus melibatkan warga lokal sebagai pelaku utama.
Penutup: Pembangunan Harus Bernilai Ibadah
Bojonegoro sedang menapaki babak baru. Tapi arah pembangunan harus dipandu oleh nilai: keadilan, keberkahan, dan tanggung jawab kepada Allah. Industrialisasi energi yang tidak menghadirkan keadilan adalah jalan buntu. Sebaliknya, jika dibangun dengan prinsip Islam, maka Bojonegoro bisa menjadi pelopor ekonomi energi syariah yang memberi inspirasi nasional.
Semoga para pemimpin, pelaku industri, dan masyarakat Bojonegoro dapat bersama-sama mewujudkan ekonomi yang bukan hanya tumbuh, tapi juga berkah.
*)Penulis Adalah: Dosen, Peneliti Ekonomi dan Keuangan Syariah, Sekretaris III DPW IAEI (Ikatan Ahli Ekonomi Islam Indonesia) Jawa Timur
Catatan Penulis:
Tulisan ini merupakan bagian dari refleksi atas perkembangan industri energi di Bojonegoro, dengan harapan menjadi kontribusi pemikiran bagi pembangunan ekonomi yang lebih adil dan islami.








