INDONESIA TERSERAH!

oleh -131 views

Oleh: PRIYO CPS®

SuaraBojonegoro.com – Mengutamakan kepentingan bersama tapi kepentingan sendiri terbebani. Mengutamakan kepentingan pribadi tapi mengancam kepentingan bersama.

Apa yang salah dengan diri ini? Kenapa diri ini selalu di perbudak dengan KETIDAKTEGASAN?

Masih pahamkah kita apa makna kepentingan bersama dan apa arti kepentingan pribadi, mana yang paling di utamakan?

Pandemi ini semakin hari semakin menjadi tak terkendali. Apakah karena Pemerintahnya terlalu hati-hati sehingga terkesan setengah hati atau Masyarakatnya acuh tak acuh bebas semaunya sendiri?

Aturan di buat hanya sekedar himbauan sedangkan Masyarakatnya sah-sah saja untuk menghiraukan. Semua serba abu-abu. Hitam tidak, putih pun bukan.

Ada yang teriak-teriak berjuang untuk  mencegah Pandemi tapi ada juga yang bersikukuh berjuang hebat untuk sama sekali tidak peduli. KENAPA? Karena urusan ekonomi tidak bisa di kalahkan oleh Pandemi. Lebih baik mati berjuang mencari rejeki daripada di rumah saja tapi anak istri kekurangan Nasi.

Yang cukup punya kestabilan MATERI, mereka akan cukup patuh dan tenang untuk berdiam diri. Tapi bagi kita yang ekonominya serba tak pasti, tak ada pilihan lain, berjuang bekerja keras mencari rejeki harus terus di lakukan walaupun tidak sejalan dengan aturan upaya pencegahan.

” _Ndablek yo wis, sing penting tanggung jawab menafkahi keluarga di penuhi. Nek ora awak dewe sing golek duit, sopo sing gelem nafkahi Keluargaku?”_ Kang Didin penjual sayur keliling.

Inilah awal mula, kenapa Pandemi ini belum juga bisa teratasi. Ada dua hal yang tidak sejalan. Satu sisi ada yang berjuang untuk pandemi tapi satu sisi ada yang berjuang untuk ekonomi pribadi.

_”Andai saja dari awal, semua di Lockdown. Pemerintah tinggal menyiapkan dana untuk biaya makan 14 hari. Pasti, Pandemi ini bisa cepat teratasi. Modal besar di awal tapi ringan di akhirnya. Daripada sekarang, Biaya Pencegahan terus terusan di keluarkan, makin hari, ekonomi makin hancur dan Pandemi inipun tidak juga semakin turun”_ Kata Pak Joko mencoba membahas nasi yang sudah menjadi bubur.

“Sudah banyak biaya yang di keluarkan, sudah banyak pula korban yang tak terselamatkan. Kenapa masih aja ada orang yang tidak mengikuti aturan Pencegahan. Kenapa kok pada ndablek semua? Sedih rasanya melihat keadaan ini terus terusan begini. Mungkinkah ini harus berakhir tanpa akhir?” Ucap Intan, perempuan cantik penuh beban.

“BERDAMAI!”
Yah, inilah pilihan akhir yang akhirnya di anggap pilihan walau tanpa kepastian titik terang. Di lawan tak terkalahkan, lebih baik di ajak berdamai agar tidak lagi menjadi-jadi.

Ketika di ajak perang, kita tak bisa menang, lalu apakah dengan berdamai, pandemi ini bisa selesai?

Sepertinya sudah ada sebuah pernyataan yang menyatakan bahwa virus ini tidak akan bisa di perangi dan belum bisa di sudahi.  Selama belum di temukan vaksin pencegahannya maka, virus ini akan terus bisa menularkan. Arti dan makna berdamai adalah Virusnya terus menyebar dan menularkan tapi kitanya yang bersiap diri untuk fokus dengan kekebalan tubuh diri sendiri.

Yang kebal akan menang, yang tidak kuat silahkan hadapi penderitaan. Urip mati wis ono nasib’e Dewe Dewe. Di duga, inilah makna dari kata Berdamai.

Dulu upaya pencegahan di lakukan secara kebersamaan tapi kini, upaya pencegahan di lakukan sendiri sendiri. Hukum alam yang akan menjadi penentu. Aturan dan himbauan tidak lagi jadi pedoman. Mau di himbau syukur, tidak mau di atur pun, terserah. Tak heran jika tenaga medis kita menyatakan “Indonesia terserah!”

Silahkan terus berjuang melawan pandemi, silahkan pula terus berjuang mempertahankan ekonomi. Silahkan taati himbauan, Monggo saja nuruti kebutuhan. Semua bebas dengan caranya sendiri sendiri. Sekarang bukan waktunya untuk memilih #diamdirumah atau #tetapcarirejeki.

Kita tidak lagi butuh pilihan. Biarkan kita terus melawan pandemi ini sambil terus berjuang mencari rejeki.Toh jika kita mati, Ini akan menjadi pilihan hidup kita sendiri. Katanya  Pemerintah sudah melakukan berbagai upaya pencegahan untuk melawan pandemi TAPI Masyarakatnya merasa tidak cukup di beri kekuatan dan kesempatan untuk bertahan diri.

” _Engkau tawarkan upaya KESELAMATAN tapi engkau lemahkan  sisi perekonomian. Sekarang engkau mencoba membangkitkan perekonomian tapi tawaran keselamatan telah engkau gadaikan”_

Sekarang tak ada pun pilihan yang jadi jawaban penyelesaian. Semua di kembalikan kepada diri kita sendiri untuk memilih gaya hidup kita sendiri. Pola hidup yang seperti apa, tatanan baru yang bagaimana, semua terserah kita.

Selamat berjuang Indonesia. Selamat menuju tatanan hidup baru. New Normal. Indonesia Terserah,!

*Penulis adalah Certified Public Speakers | Jurnalis | Author | Founder & CEO Red Angels Kampung Tumo