Oleh. H. Sholikin Jamik
SuaraBojonegoro.com – Banyak orang mengira bahwa berkah itu berarti banyaknya harta. Padahal, berkah adalah cukupnya harta dan besarnya manfaat yang dihasilkan dari harta tersebut.
Dalam bahasa Arab, berkah disebut barakah (بركة). Kata ini berkaitan dengan birkah, yang berarti telaga. Air di telaga menetap dan tidak mengalir pergi, tetapi memberikan manfaat bagi siapa saja yang datang.
Jadi, berkah dapat dimaknai sebagai kebaikan yang menetap dan terus bertambah manfaatnya.
Imam Al-Ghazali memberikan gambaran sebagai berikut:
1. Bedanya Banyak dan Berkah
Kita tentu sering melihat contoh di Bojonegoro.
Ada petani yang hasil panennya mencapai 10 ton, tetapi habis untuk biaya berobat, pertengkaran, judi online, dan berbagai keperluan yang tidak membawa ketenangan. Itu banyak, tetapi tidak berkah.
Sebaliknya, ada petani yang hasil panennya hanya 3 ton, tetapi cukup untuk makan selama setahun, bisa bersedekah untuk pembangunan musala, anak-anaknya menjadi saleh, dan hatinya tenang. Itu sedikit, tetapi berkah.
Itulah sebabnya, dalam perkara perceraian di Pengadilan Agama Bojonegoro, faktor ekonomi menjadi salah satu persoalan yang banyak muncul. Karena yang sering dikejar adalah banyaknya harta, bukan keberkahan harta.
Ciri-ciri Harta yang Berkah
Ada tiga ciri harta yang berkah:
a. Membuat Hati Tenang, Bukan Gelisah
Harta yang tidak berkah sering kali justru membuat pemiliknya gelisah.
Seseorang mungkin mendapatkan uang dalam jumlah besar dari judi online, tetapi malam harinya tidak bisa tidur karena takut kehilangan, terlilit utang, atau dikejar tagihan.
Sebaliknya, harta yang berkah, meskipun jumlahnya sedikit, dapat menghadirkan ketenangan hati atau tathma’innul qulub.
Seperti tanah seluas 9 x 33 meter yang diwakafkan. Secara hitungan duniawi mungkin terlihat seperti kehilangan harta, tetapi hati menjadi tenang karena tanah tersebut menjadi jalan amal jariah.
b. Membuat Hati Tidak Pernah Kosong
Ingat kisah dalam Al-Qur’an tentang ibunda Nabi Musa: wa asbaha fu’adu ummi Musa farighan — hati ibu Musa menjadi kosong karena sangat mencemaskan anaknya.
Harta yang tidak berkah dapat membuat hati terus merasa kosong. Sudah memiliki banyak, tetapi masih merasa kurang. Sudah mendapatkan sesuatu, tetapi masih ingin terus menambah.
Sebaliknya, harta yang berkah membuat hati dipenuhi rasa qana’ah, yaitu merasa cukup dan menerima apa yang telah Allah berikan.
Rasulullah SAW bersabda:
«“Kekayaan itu bukanlah karena banyaknya harta, tetapi kekayaan adalah kekayaan jiwa.”»
c. Terus Mengalir Meski Pemiliknya Sudah Tiada
Inilah hakikat telaga: airnya menetap, tetapi manfaatnya terus mengalir kepada orang lain.
Rasulullah SAW menyebutkan tiga amal yang pahalanya tidak terputus setelah seseorang meninggal dunia, yaitu sedekah jariah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.
Tanah yang diikhlaskan untuk akses jalan menuju musala merupakan salah satu gambaran nyata tentang keberkahan. Tanahnya tetap berada di tempatnya, tetapi pahala terus mengalir setiap kali orang melewatinya untuk beribadah.
2. Dari Mana Berkah Itu Datang?
Berkah tidak datang begitu saja. Ada sebab-sebab yang mengantarkannya.
1. Dari Cara Mencarinya yang Halal
Harta yang diperoleh melalui cara yang halal dan jujur memiliki keberkahan.
Penghasilan dari pekerjaan yang halal, hasil pertanian yang diperoleh dengan cara yang jujur, maupun rezeki dari usaha yang baik dapat menjadi sumber keberkahan.
Sebaliknya, uang yang diperoleh melalui judi online, meskipun jumlahnya besar, tidak akan menghadirkan ketenangan dan keberkahan.
2. Dari Cara Membelanjakannya yang Benar
Al-Qur’an mengajarkan agar manusia mengonsumsi sesuatu yang halal lagi baik.
Keberkahan harta dapat hilang apabila harta tersebut digunakan untuk perbuatan yang dilarang, seperti mabuk, penyalahgunaan narkoba, perjudian, dan perbuatan maksiat lainnya.
Karena itu, bukan hanya cara mendapatkan harta yang harus diperhatikan, tetapi juga bagaimana harta tersebut digunakan.
3. Dari Rasa Syukur dan Kesabaran
Inilah sambungan dari pembahasan tentang sabar.
Orang yang bersyukur ketika mendapatkan kelapangan dan bersabar ketika menghadapi kesempitan, insyaallah akan merasakan keberkahan dalam hidupnya.
Sebaliknya, sebanyak apa pun harta yang dimiliki, jika tidak disertai rasa syukur dan digunakan dalam jalan yang salah, harta tersebut belum tentu menghadirkan ketenangan dan kebaikan.
Doa Meminta Berkah
Karena itu, orang Jawa dahulu, termasuk masyarakat Bojonegoro, ketika mendoakan seseorang sering kali tidak hanya meminta agar hidupnya kaya atau memiliki banyak harta, tetapi juga mendoakan:
“Mugo-mugo uripmu barokah, Le.”
Semoga hidupmu penuh keberkahan.
Ada pula doa yang diajarkan Nabi Muhammad SAW:
«Allahumma baarik lanaa fiimaa razaqtanaa.»
Artinya:
“Ya Allah, berkahilah apa yang telah Engkau rezekikan kepada kami.”
Doa tersebut mengajarkan kepada kita bahwa yang terpenting bukan sekadar meminta tambahan rezeki, tetapi memohon agar rezeki yang telah diberikan Allah menjadi rezeki yang berkah, cukup, bermanfaat, dan membawa ketenangan dalam kehidupan. (**)








