SuaraBojonegoro.com — Prodi Agribisnis Universitas Bojonegoro (Unigoro) menggelar kuliah praktisi di Gedung Mayor Sogo Unigoro, Selasa (3/12/24). Kuliah praktisi kali ini mengusung tema dampak kerusakan hutan bagi kelangsungan ekosistem di Pulau Jawa. Kepala Administratur Perhutani KPH Bojonegoro, Slamet Juwanto, S.Hut., dihadirkan sebagai dosen praktisi.
Di hadapan mahasiswa, Slamet membahas fenomena deforestasi yang ada di Kota Ledre. Salah satu dampak yang dirasakan akibat pembatatan hutan adalah banjir bandang yang terjadi di Kecamatan Bubulan, Sekar, dan Dander. Adanya deforestasi berkaitan dengan banyaknya jumlah penduduk di Pulau Jawa serta kebutuhan pertanian semakin meningkat. “Kawasan hutan di Bojonegoro mencapai 40 persen atau 95.800 hektar. Penjarahan hutan besar-besaran mulai terjadi 2001 akibat salah tafsir pernyataan Presiden Gus Dur, bahwa hutan milik negara untuk masyarakat. Alhasil, masyarakat sebagai penggarap lahan perhutanan tidak bisa dikendalikan,” tuturnya.
Menurut Slamet, program perhutanan sosial dari pemerintah banyak disalahtafsirkan oleh masyarakat. Sebab dapat memicu deforestasi di berbagai wilayah. Beberapa kawasan hutan di sisi selatan Bojonegoro kini justru lebih banyak ditanami jagung dan tebu. Dia berharap kelompok masyarakat yang diberi hak pengolahan hutan juga menanam pohon pengganti. “Tetapi fakta di lapangan satu pohon pun tidak ada. Di Padangan kawasan hutan justru berubah jadi kebun tebu. Lalu yang di Kedungadem malah banyak ditanami jagung. Bagaimana kelangsungan ekosistem bisa terjaga jika masyarakat tidak tergerak menanam pohon dan menjaga lingkungan? Sehingga kebijakan tersebut harus diluruskan,” ungkapnya.
Alumni Fakultas Kehutanan UGM ini menambahkan, kerusakan ekosistem akibat deforestasi sudah bisa dirasakan sekarang. Di antaranya mulai jarang ditemui hewan-hewan liar seperti kera, kucing hutan, dan lainnya karena mereka sudah tidak memiliki tempat tinggal yang aman di hutan. Selain itu, perubahan iklim yang signifikan berpotensi terjadi bencana meteorologi di wilayah dekat hutan. Seperti banjir bandang dan tanah longsor. “Yang bisa kita lakukan sekarang adalah menjaga kelestarian lingkungan serta menerapkan pengelolaan hutan yang baik,” tandas Slamet.
Kuliah praktisi bersama Kepala Adm Perhutani KPH Bojonegoro berlangsung interaktif. Banyak mahasiswa yang antusias mengajukan pertanyaan seputar pengelolaan hutan. Slamet juga berpesan kepada mahasiswa untuk senantiasa meningkatkan skill dan prestasi akademiknya. (din/red)








