SuaraBojonegoro.com — Perpustakaan Universitas Bojonegoro (Unigoro) berkolaborasi dengan Mastumapel menggelar bedah buku Buruh Perkebunan Tembakau Bojonegoro 1860—1939 karya Siti Mahmudah, Jumat (30/10). Diikuti puluhan mahasiswa, forum ini menjadi ruang diskusi untuk menelusuri sejarah industri perkebunan tembakau di Kota Ledre. sekaligus mengungkap dinamika kehidupan dan persoalan yang dihadapi para buruh pada masa tersebut.
Mahmudah menuturkan, buku tersebut ditulis berdasarkan hasil penelitian skripsinya sebagai mahasiswa Prodi Ilmu Sejarah Universitas Airlangga (Unair). Meskipun saat itu sudah banyak riset tentang tembakau Bojonegoro, dia mencoba mengangkat kehidupan buruh tembakau tempo dulu. “Jadi yang di-highlight adalah masalah di sekitar buruh perkebunan. Masalah perburuhan dari tahun ke tahun sama. Penindasan, upah tidak layak, jam kerja tidak sehat, dipengaruhi dinamika politik,” tuturnya.
Salah satu fakta yang diungkap Mahmudah adalah buruh perkebunan tembakau di Bojonegoro memiliki latar belakang keluarga. Mulai dari kakek, nenek, ayah, ibu, hingga sang anak juga bekerja di kebun atau perusahaan tembakau dengan tugas yang berbeda-beda. “Bahkan, anak-anak juga dipekerjakan untuk mengambil ulat-ulat kecil yang ada di daun tembakau,” ungkapnya.
Sementara itu founder Mastumapel.com Nanang Fahrudin, turut mengulas peran tembakau sebagai bagian dari sejarah Kabupaten Bojonegoro. Bahkan, komoditas tanaman yang dijuluki Daun Emas ini pernah menjadi logo pemerintah daerah setempat. “Sebelum logo Pemkab Bojonegoro bergambar padi dan kapas adalah tembakau dan daun jati,” ujarnya.
Hingga saat ini, masih ada situs bangunan bersejarah yang dulunya menjadi lokasi pengolahan tembakau. Nanang mencontohkan, bangunan rumah tua Padangan Heritage merupakan kediaman pengusaha tembakau terkemuka di awal abad ke 20. Arsitektur bangunannya yang nampak tinggi dan atap runcing memiliki maksud tersendiri. “Jalur perdagangan di Bojonegoro saat itu adalah jalur Bengawan Solo. Padangan Heritage dengan ciri bangunan yang mencolok seperti itu akan mudah ditandai oleh petani-petani tembakau dari Madura, karena lokasinya dekat dengan bengawan,” terangnya.
Bedah buku yang dipandu oleh Novi Nur Ariyanti, SIP., MA., berlangsung interaktif. Mahasiswa-mahasiswi Unigoro memanfaatkan momen itu untuk berdiskusi tentang buruh tembakau Bojonegoro. (din/lis)








