SuaraBojonegoro.com – Pengolahan kotoran sapi menjadi biogas tidak hanya memberikan manfaat ekonomi dan energi alternatif bagi masyarakat, tetapi juga menjadi salah satu langkah penting dalam menjaga kesehatan lingkungan dan mencegah berbagai penyakit.
Hal tersebut disampaikan Drs. Sholikin Jamik, S.H., M.H., Dosen Ilmu Kesehatan Muhammadiyah Bojonegoro. Menurutnya, pemanfaatan limbah peternakan melalui teknologi biogas merupakan bentuk intervensi kesehatan masyarakat yang patut didukung karena mampu mengurangi pencemaran lingkungan sekaligus meningkatkan kualitas hidup warga.
Ia menjelaskan, kotoran sapi yang dibiarkan menumpuk atau dibuang sembarangan berpotensi menjadi sumber penyebaran berbagai mikroorganisme penyebab penyakit, seperti bakteri E. coli, Salmonella, parasit, serta telur cacing.
Selain itu, tumpukan kotoran juga dapat mengundang lalat yang berpotensi membawa kuman dari lingkungan kotor ke makanan maupun peralatan rumah tangga.
“Kalau kotoran sapi dibiarkan menumpuk, apalagi sampai mencemari saluran air dan sumber air bersih, risikonya cukup besar bagi kesehatan masyarakat. Bisa menjadi sumber penyakit diare, infeksi, hingga gangguan kesehatan lainnya,” jelas Sholikin.
Menurutnya, teknologi biodigester atau instalasi pengolah biogas dapat menjadi salah satu solusi. Melalui proses fermentasi anaerob dalam ruang tertutup, kotoran ternak diolah menjadi gas yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar memasak. Sementara sisa pengolahannya atau slurry dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik setelah memenuhi persyaratan keamanan.
Manfaat lainnya adalah mengurangi paparan asap dari penggunaan bahan bakar tradisional. Selama ini, sebagian masyarakat masih menggunakan kayu bakar maupun kotoran ternak kering untuk memasak.
Padahal, pembakaran bahan bakar padat dapat menghasilkan partikulat halus (PM2.5) dan karbon monoksida yang berbahaya apabila terhirup secara terus-menerus.
“Penggunaan biogas dapat membantu mengurangi asap di dalam rumah. Ini penting, terutama bagi ibu rumah tangga yang setiap hari memasak dan anak-anak yang berada di sekitar dapur. Kualitas udara dalam rumah menjadi lebih baik sehingga risiko gangguan pernapasan akibat polusi pembakaran dapat ditekan,” terangnya.
Dari sisi kesehatan lingkungan, pengolahan kotoran sapi juga berperan mengurangi potensi pencemaran air tanah dan sungai. Limbah peternakan yang tidak dikelola dengan baik dapat meningkatkan kandungan bahan pencemar, termasuk amonia dan senyawa nitrogen, yang berpotensi memengaruhi kualitas air.
Dengan sistem biogas yang dikelola secara benar, limbah peternakan tidak hanya berkurang, tetapi juga menghasilkan energi dan produk sampingan yang memiliki nilai manfaat.
Meski demikian, Sholikin mengingatkan bahwa pemanfaatan biogas tetap harus memperhatikan aspek keselamatan dan kesehatan kerja. Sebab, biogas mengandung metana yang mudah terbakar serta hidrogen sulfida (H2S) yang bersifat beracun pada konsentrasi tertentu.
Instalasi biodigester harus dibangun dengan konstruksi yang aman, memiliki ventilasi memadai, serta ditempatkan di lokasi yang sesuai. Pemeriksaan pipa, sambungan, selang, dan instalasi kompor juga perlu dilakukan secara berkala untuk mencegah kebocoran gas.
Masyarakat juga harus menggunakan sarung tangan dan sepatu pelindung ketika menangani kotoran sapi mentah, serta membiasakan mencuci tangan menggunakan sabun setelah melakukan aktivitas tersebut.
“Jangan sampai niat kita menciptakan lingkungan sehat justru menimbulkan risiko baru karena instalasinya tidak memenuhi standar keselamatan. Pengelolaan harus benar, mulai dari memasukkan kotoran ke dalam digester sampai pemanfaatan gas dan limbah hasil fermentasinya,” tegasnya.
Ia menambahkan, program pengolahan kotoran ternak menjadi biogas sejalan dengan upaya membangun sanitasi lingkungan yang lebih baik. Karena itu, diperlukan kolaborasi antara pemerintah daerah, tenaga kesehatan, kelompok peternak, dan masyarakat untuk mendorong penerapan teknologi tersebut.
Menurutnya, pendekatan kesehatan masyarakat tidak cukup hanya berfokus pada pengobatan ketika warga sakit. Upaya pencegahan melalui perbaikan sanitasi, pengelolaan limbah peternakan, penyediaan energi bersih, dan perubahan perilaku hidup sehat juga harus menjadi perhatian.
“Biogas bukan sekadar urusan energi alternatif. Ini juga menyangkut kesehatan keluarga, kebersihan lingkungan, dan keberlanjutan kehidupan masyarakat. Kotoran ternak yang selama ini dianggap limbah bisa diubah menjadi sumber energi yang bermanfaat,” pungkas Sholikin. (Red*)








