SuaraBojonegoro.com – Regenerasi petani menjadi tantangan sekaligus peluang untuk membangun sektor pertanian yang modern, inovatif, dan berkelanjutan. Keterlibatan generasi Z dinilai penting untuk menjawab persoalan berkurangnya tenaga kerja pertanian sekaligus mendorong pemanfaatan teknologi digital dalam pengembangan usaha tani.
Hal tersebut mengemuka dalam talkshow bertajuk “Membangun Ekosistem Pertanian Modern Era Gen Z” yang menjadi rangkaian Gumregah Tani Bojonegoro Festival (Gutanbo Fest) 2026 di Alun-Alun Bojonegoro, Sabtu (17/10/2026).
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Bojonegoro, Zaenal Fanani, mengatakan berkurangnya jumlah tenaga kerja di sektor pertanian menjadi tantangan serius yang perlu segera diantisipasi, termasuk di Kabupaten Bojonegoro. Karena itu, generasi muda perlu didorong untuk terlibat aktif dalam sektor pertanian, tidak hanya sebagai pekerja, tetapi juga sebagai pelaku usaha dan inovator.
“Generasi muda jangan hanya berpikir menjadi pegawai. Itu boleh, tetapi jangan menjadikannya satu-satunya tumpuan. Sektor pertanian memiliki peluang besar untuk membangun kemandirian ekonomi, apalagi di Bojonegoro,” ujarnya.
Menurut Zaenal, pertanian masih menjadi sektor strategis bagi perekonomian Bojonegoro setelah industri minyak dan gas bumi (migas). Pengembangan sektor pertanian juga menjadi bagian dari visi menjadikan Bojonegoro sebagai sentra agroindustri dalam 20 tahun mendatang.
Untuk mewujudkan visi tersebut, pertanian perlu dikembangkan dengan pendekatan yang lebih modern melalui mekanisasi, penerapan smart farming, dan pemanfaatan teknologi digital. Dengan dukungan teknologi, pengelolaan usaha tani dapat dilakukan secara lebih efisien, produktif, dan mudah dipantau.
Founder P4S Djoyo Tani, Fatkul Ilma, menambahkan bahwa pembangunan ekosistem pertanian modern membutuhkan kolaborasi berbagai pihak, mulai dari petani, penyedia teknologi, lembaga pendidikan, pemerintah, dunia usaha, hingga pasar.
Ia menilai generasi Z memiliki keunggulan karena terbiasa menggunakan internet, perangkat digital, dan media sosial. Potensi tersebut dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan berbagai peluang di sektor pertanian, mulai dari budidaya modern, penyediaan jasa pertanian, pengolahan produk, hingga pemasaran digital.
“Pertanian masa depan ada di tangan Gen Z. Mereka tidak hanya bisa menjadi pekerja di sektor pertanian, tetapi juga inovator, wirausaha, dan pemimpin perubahan,” ungkapnya.
Sementara itu, praktisi sumber daya manusia manajemen agribisnis, Yusuf Dawud, menilai generasi muda perlu memiliki pola pikir adaptif dan kolaboratif agar mampu menghadapi perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Menurutnya, teknologi seharusnya tidak dipandang sebagai ancaman bagi dunia kerja, melainkan sebagai alat untuk membantu menyelesaikan persoalan dan meningkatkan produktivitas. Di sektor pertanian, misalnya, kemampuan generasi muda dalam membuat konten digital dan mengelola media sosial dapat dimanfaatkan untuk memperluas pemasaran hasil pertanian.
“Masa depan pertanian ditentukan oleh apakah generasi muda merasa punya tempat di dalamnya. Karena itu, sumber daya manusia harus dibangun agar mampu beradaptasi dengan teknologi, mulai dari AI, Internet of Things (IoT), hingga penggunaan mesin pertanian,” jelasnya.
Melalui talkshow ini, Gutanbo Fest 2026 menjadi ruang diskusi untuk mempertemukan gagasan, teknologi, dan peluang usaha dalam membangun pertanian masa depan. Regenerasi petani diharapkan tidak hanya menjaga keberlanjutan produksi pangan, tetapi juga membuka lapangan usaha baru bagi generasi muda.
Dengan dukungan teknologi dan kolaborasi lintas sektor, pertanian Bojonegoro diharapkan semakin modern, kompetitif, dan mampu berkembang menjadi kekuatan ekonomi daerah yang berkelanjutan. (Lis/Red)








