Paguyuban Ayam Petelur Bojonegoro Dikukuhkan, Wabup Dorong Peternak Garap Pasar Lokal

Reporter : Waluyo Wahyu Utomo

SuaraBojonegoro.com – Paguyuban Peternak Ayam Petelur Kabupaten Bojonegoro resmi dikukuhkan dalam kegiatan yang berlangsung di Gedung Angling Dharma, Jalan Mas Tumapel, Kabupaten Bojonegoro. Pengukuhan tersebut menjadi momentum bagi para peternak ayam petelur untuk memiliki wadah bersama dalam memperkuat komunikasi, koordinasi, serta membangun kolaborasi dengan pemerintah dan pihak terkait dalam pengembangan usaha peternakan di Kabupaten Bojonegoro, Rabu (07/10/2026).

 

Ketua Paguyuban Peternak Ayam Petelur Bojonegoro, Santoso, mengatakan kondisi usaha ayam petelur saat ini menghadapi tantangan, terutama berkaitan dengan harga telur dan biaya produksi. Meski demikian, pihaknya tetap optimistis dengan potensi yang dimiliki Kabupaten Bojonegoro.

 

Menurut Santoso, Bojonegoro memiliki potensi sumber bahan pakan yang cukup besar. Salah satunya berasal dari jagung yang menjadi salah satu komponen penting dalam pakan ayam petelur.

 

“Untuk ayam petelur sendiri, 75 persen operasionalnya dari pakan, sedangkan jagung sekitar 50 persen dari sumber pakan ayam petelur,” kata Santoso.

 

Masih dalam sambutannya, Santoso menyebut, kondisi harga telur saat ini belum sepenuhnya sebanding dengan harga pokok produksi yang harus ditanggung peternak. Berdasarkan perhitungan yang disampaikannya, harga pokok produksi telur berada di kisaran Rp24.500 per kilogram, sementara harga di pasaran berada di sekitar Rp21.000 per kilogram.

Baca Juga:  Pemkab Bojonegoro Perkuat Ketahanan Pangan Lewat Bantuan 65 Ribu Bibit Sayuran, Praktisi Pertanian Unigoro Tekankan Evaluasi Keberlanjutan Program

 

Meski menghadapi kondisi tersebut, Santoso menilai peternak masih memiliki peluang untuk bertahan karena Bojonegoro mempunyai potensi sumber pakan dan pasar yang cukup besar. Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Bulog dan Dinas Peternakan dan Perikanan Bojonegoro yang selama ini turut memberikan dukungan kepada peternak.

 

Sementara itu, Wakil Bupati Bojonegoro Nurul Azizah mengapresiasi terbentuknya Paguyuban Peternak Ayam Petelur. Terbentuknya asosiasi tersebut menunjukkan adanya inisiatif dari masyarakat untuk bersama-sama mengembangkan potensi yang dimiliki daerah.

 

Nurul Azizah mengatakan, kebutuhan telur di Bojonegoro cukup besar seiring jumlah penduduk yang mencapai sekitar 1,3 juta jiwa. Berdasarkan data yang disampaikannya, kebutuhan telur di Bojonegoro mencapai sekitar 8.000 ton per tahun, sementara produksi lokal masih mengalami kekurangan sekitar 3.000 ton.

 

“Untuk kebutuhan telur dengan jumlah penduduk sekitar 1,3 juta, kebutuhan dalam satu tahun sekitar 8.000 ton. Kekurangannya masih sekitar 3.000 ton,” ujar Nurul.

Baca Juga:  Masyarakat Optimistis Tingkatkan Ekonomi Lewat Program Domba Kesejahteraan Bojonegoro

 

Menurutnya, kondisi tersebut sekaligus menunjukkan masih adanya peluang bagi peternak ayam petelur untuk meningkatkan produksi guna memenuhi kebutuhan masyarakat di daerah.

 

Selain itu, Pemerintah Kabupaten Bojonegoro juga memiliki program yang berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan pangan, sehingga potensi peternakan dapat terus dikembangkan.

 

Wakil Bupati Bojonegoro berharap keberadaan paguyuban dapat menjadi ruang komunikasi antara peternak dengan pemerintah, sekaligus memperkuat kolaborasi dalam menghadapi berbagai persoalan yang muncul di sektor peternakan ayam petelur.

 

Pengukuhan tersebut turut dihadiri Wakil Bupati Bojonegoro Nurul Azizah, Kepala Dinas Kesehatan Bojonegoro, Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Bojonegoro, Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan Bojonegoro, Kepala Satpol PP Bojonegoro, serta Kapolres Bojonegoro yang diwakili Kasat Intelkam, AKP I Putu Suryawan Astawa, S.H.

 

Dalam kesempatan tersebut, pengukuhan paguyuban ayam petelur juga menjadi bagian dari upaya memperkuat posisi peternak dalam menghadapi dinamika usaha, mulai dari persoalan biaya pakan, harga telur hingga pemenuhan kebutuhan telur masyarakat Bojonegoro. (Why/Red)