Reporter : Sasmito Anggoro
SuaraBojonegoro.com – Mantan atlet binaraga nasional Ade Rai mengajak insan pers untuk tidak hanya menjaga kualitas pemberitaan, tetapi juga memperhatikan kesehatan fisik dan mental di tengah tuntutan kerja yang semakin dinamis pada era digital.
Pesan tersebut disampaikan Ade Rai saat menjadi narasumber dalam Lokakarya Media 2026 SKK Migas-KKKS Jabanusa yang berlangsung di Hotel Tentrem Yogyakarta, Kamis (17/9/2026).
Dalam paparannya bertajuk “Wellness: Strategi Manajemen Stress, Kesehatan Mental, Ergonomi Kerja bagi Insan Pers di Era Digital”, Ade Rai menekankan pentingnya membangun pola hidup sehat melalui pemahaman, edukasi, dan disiplin.
Menurut Ade Rai, banyak persoalan kesehatan berkaitan dengan perilaku sehari-hari. Dalam materi presentasinya, ia menyoroti sejumlah kebiasaan yang perlu diperhatikan, mulai dari pola konsumsi makanan olahan, kurang bergerak, terlalu banyak duduk, kurang tidur, stres, hingga kebiasaan merokok dan konsumsi alkohol. Ia merangkumnya dalam gagasan bahwa kesehatan sangat dipengaruhi oleh perilaku.
“Kenapa kita mudah sakit? Karena 90 persen perilaku,” demikian salah satu pesan yang ditampilkan Ade Rai dalam materi yang disampaikan kepada peserta lokakarya.
Tujuh Mindset untuk Menjadi “Health Champion”
Tidak hanya membahas pola makan dan aktivitas fisik, Ade Rai juga membawa peserta masuk pada aspek pola pikir. Ia memperkenalkan tujuh mindset of a health champion, yakni hidup dengan kecintaan, tidak bisa memberi apabila tidak memiliki, tidak memiliki “alasan cerdas”, memusatkan perhatian pada hal yang ingin dicapai, memiliki itikad tanpa pamrih, menghargai keagungan diri sendiri, serta bersahabat dengan kesepian.
Pada mindset pertama, “Hidup dengan Kecintaan”, Ade Rai mengajak peserta menemukan passion dalam pekerjaan. Menurut materi yang disampaikannya, seseorang dapat melakukan pekerjaan yang dicintai atau belajar mencintai pekerjaan yang dilakukan. Ia juga menekankan keberanian untuk terus berlatih, belajar, bekerja dan berbagi meskipun belum mendapatkan pengakuan atau hasil besar.
Sementara pada mindset kedua, ia menggarisbawahi pentingnya memiliki sesuatu sebelum membagikannya kepada orang lain. Pengalaman dan pengetahuan yang diperoleh dari perjalanan hidup, menurut materi tersebut, dapat menjadi bekal untuk berbagi dan memberikan contoh kepada orang lain.
Jangan Terjebak “Blame Game”
Ade Rai juga mengajak peserta untuk mengambil tanggung jawab terhadap respons yang diberikan atas berbagai situasi. Ia mengingatkan agar seseorang tidak terjebak pada kebiasaan menyalahkan, mengeluh atau mencari pembenaran.
Dalam presentasinya, pesan tersebut dirangkum dalam kalimat “Take Ownership”, dengan penekanan bahwa seseorang memiliki kemampuan untuk memilih respons terhadap keadaan yang dihadapi.
Ia juga mengingatkan pentingnya mengarahkan fokus pada hal yang ingin dicapai, bukan terus-menerus memusatkan perhatian pada sesuatu yang tidak diinginkan.
Pesan ini menjadi relevan bagi insan pers yang setiap hari berhadapan dengan berbagai informasi, tekanan waktu, tuntutan kecepatan, serta dinamika komunikasi di ruang digital.
Gerak, Napas dan Pola Makan
Pada bagian lain, Ade Rai menjelaskan konsep “GERAK” atau Gerakan Masyarakat Hidup Sehat yang menurut materi presentasinya mencakup tiga aspek, yakni gerak mulut atau pola makan, gerak badan atau olahraga, serta gerak napas dan pikiran yang berkaitan dengan aspek emosional.
Ia juga memberikan sejumlah contoh aktivitas fisik sederhana. Salah satunya adalah berjalan setelah mengonsumsi makanan yang mengandung karbohidrat. Materinya bahkan memberikan contoh pola jalan selama 15 menit, yang terdiri atas kombinasi jalan santai dan jalan cepat.
Ade Rai turut menekankan pentingnya latihan beban. Dalam presentasinya, latihan tersebut dikaitkan dengan upaya menjaga otot, tulang dan fungsi tubuh. Ia memberikan contoh latihan menggunakan berat badan sendiri seperti push up, pull up, plank, squat, lunges, hingga naik tangga.
Selain aktivitas fisik, ia membahas pengelolaan stres melalui pernapasan. Dalam materi tersebut dijelaskan perbedaan respons tubuh ketika berada dalam kondisi stres dan ketika berada dalam kondisi relaks, serta pentingnya mengatur napas untuk membantu menciptakan kondisi yang lebih rileks.
Kesehatan Bukan Sekadar Menunggu Sakit
Salah satu gagasan utama Ade Rai adalah perlunya menggeser perhatian dari pendekatan yang hanya bersifat kuratif menuju preventif dan promotif.
Dalam presentasinya, pendekatan kuratif digambarkan sebagai respons terhadap persoalan yang sudah muncul, sedangkan pendekatan preventif-promotif lebih diarahkan pada antisipasi dan akar permasalahan.
Untuk mendukung evaluasi kesehatan, Ade Rai juga menyampaikan pentingnya melakukan pemeriksaan secara berkala. Dalam materi penutupnya, ia memperkenalkan tiga parameter kebugaran, yakni komposisi otot, kadar lemak tubuh, serta VO2 Max dan resting heart rate.
Ia juga memaparkan sejumlah parameter pemeriksaan kesehatan yang dapat diperhatikan, antara lain HbA1C/HOMA-IR, gula darah puasa, profil lipid, fungsi hati, fungsi ginjal, pemeriksaan darah lengkap, ferritin dan CRP, fungsi tiroid serta vitamin D.
Di penghujung materi, Ade Rai mengajak peserta untuk tidak melupakan kebahagiaan. Ia merumuskan pesan “Happy-Healthy” melalui perubahan cara pandang, keputusan-keputusan yang mendekatkan seseorang pada kondisi sehat dan bahagia, serta kemampuan menerima kondisi yang ada.
“Tiada kata terlambat,” menjadi salah satu pesan penutup dalam materi Ade Rai kepada peserta lokakarya.
Lokakarya Media 2026 SKK Migas-KKKS Jabanusa sendiri menjadi ruang bagi insan media untuk mendapatkan wawasan tidak hanya terkait industri hulu migas, tetapi juga pengembangan kapasitas dan kesehatan sebagai bagian penting dalam menjalankan profesi di tengah tuntutan era digital. (Sas*)








