Reporter: Waluyo Wahyu Utomo
SuaraBojonegoro.com – Sektor pertanian menjadi penopang utama perekonomian Kabupaten Bojonegoro pada Triwulan I 2026 di tengah melemahnya kinerja sektor pertambangan dan penggalian yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi daerah. Senin (08/06/2026).
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Bojonegoro, ekonomi Bojonegoro pada Triwulan I 2026 tumbuh 0,02 persen secara tahunan (year on year/y-on-y). Sementara secara triwulanan (quarter to quarter/q-to-q), ekonomi Bojonegoro tumbuh 2,52 persen dibandingkan Triwulan IV 2025.
Nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Bojonegoro pada Triwulan I 2026 tercatat sebesar Rp28,44 triliun atas dasar harga berlaku (ADHB) dan Rp17,09 triliun atas dasar harga konstan (ADHK).
Kepala BPS Kabupaten Bojonegoro, Syawaluddin Siregar, menjelaskan bahwa pertumbuhan ekonomi daerah masih tertahan oleh kontraksi yang terjadi pada sektor pertambangan dan penggalian.
“Meski mencatat pertumbuhan positif, laju ekonomi Bojonegoro tertahan oleh kontraksi pada sektor pertambangan dan penggalian. Padahal sektor ini masih menjadi kontributor terbesar terhadap struktur perekonomian daerah dengan kontribusi mencapai 42,03 persen,” ujarnya.
Menurutnya, sektor pertambangan dan penggalian
mengalami kontraksi sebesar 8,78 persen secara tahunan. Penurunan tersebut terutama dipengaruhi menurunnya lifting minyak dan gas bumi (migas).
Di tengah pelemahan sektor migas, sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan justru tampil sebagai penyelamat perekonomian Bojonegoro. Sektor yang menjadi kontributor terbesar kedua dengan pangsa 17,10 persen tersebut mencatat pertumbuhan 11,38 persen secara tahunan dan melonjak 65,94 persen secara triwulanan.
“Tingginya pertumbuhan sektor pertanian secara triwulanan dipengaruhi faktor musiman. Triwulan pertama merupakan masa dimulainya panen padi di berbagai wilayah sehingga mendorong peningkatan aktivitas pertanian secara signifikan,” tambah Syawaluddin.
Selain pertanian, sejumlah sektor lain juga mencatat pertumbuhan positif. Lapangan usaha jasa lainnya tumbuh 14,77 persen secara tahunan, disusul penyediaan akomodasi dan makan minum sebesar 11,37 persen, jasa perusahaan 9,94 persen, informasi dan komunikasi 7,73 persen, serta transportasi dan pergudangan sebesar 6,92 persen.
Menanggapi capaian tersebut, Wakil Bupati Bojonegoro, Nurul Azizah, menyebut pertumbuhan ekonomi pada Triwulan I 2026 menjadi sinyal positif bagi penguatan ekonomi daerah yang terus dilakukan Pemerintah Kabupaten Bojonegoro.
Menurutnya, pertumbuhan ekonomi sebesar 2,52 persen secara q-to-q menunjukkan aktivitas ekonomi masyarakat tetap bergerak di tengah tantangan yang dihadapi sektor migas. Berbagai program pembangunan daerah, penguatan sektor pertanian, pemberdayaan UMKM, pembangunan infrastruktur, serta peningkatan perputaran ekonomi masyarakat dinilai mulai memberikan dampak terhadap ketahanan ekonomi daerah.
“Kalau melihat perjalanan beberapa tahun terakhir, Bojonegoro pernah mengalami kontraksi ekonomi yang cukup dalam pada beberapa triwulan. Namun pada Triwulan I 2026 ekonomi Bojonegoro mampu tumbuh 2,52 persen secara q-to-q. Ini menunjukkan ekonomi masyarakat tetap bergerak dan berbagai program pembangunan daerah mulai memberikan dampak positif,” kata Nurul Azizah.
Data BPS menunjukkan pada Triwulan IV 2024 ekonomi Bojonegoro sempat mengalami kontraksi hingga minus 4,65 persen secara q-to-q. Sementara pada Triwulan I 2026 ekonomi mampu tumbuh 2,52 persen dibandingkan triwulan sebelumnya.
Sektor pertanian yang tumbuh tinggi pada awal tahun menjadi bukti bahwa sektor nonmigas memiliki peran penting dalam menjaga stabilitas ekonomi daerah ketika sektor pertambangan mengalami perlambatan.
Meski berhasil tumbuh positif, kinerja ekonomi Bojonegoro masih tertinggal dibanding sejumlah daerah lain di kawasan Gerbangkertosusila Plus (G+). Pertumbuhan ekonomi Bojonegoro secara tahunan hanya mencapai 0,02 persen.
Angka tersebut berada di bawah Kabupaten Gresik yang tumbuh 7,28 persen, Kabupaten Tuban 6,88 persen, Kota Surabaya 6,68 persen, Kota Mojokerto 6,05 persen, Kabupaten Jombang 6,04 persen, Kabupaten Lamongan 5,90 persen, Kabupaten Sidoarjo 5,78 persen, dan Kabupaten Mojokerto 5,63 persen.
Di sisi lain, Bojonegoro masih menjadi penyumbang perekonomian terbesar kesembilan di Jawa Timur dengan kontribusi sebesar 3,20 persen terhadap perekonomian provinsi.
“Dan bila dibandingkn kabupatenl ain..Bojonegoro masih bagus..sejatim no 9 dalam memberi kontribusi pertumbuhan ekonomi non migas,” tambahnya
Dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga menjadi penopang utama ekonomi Bojonegoro dengan kontribusi 46,22 persen terhadap PDRB. Sementara konsumsi pemerintah mencatat pertumbuhan tertinggi secara tahunan sebesar 20,45 persen.
Pertumbuhan tersebut didorong oleh peningkatan belanja pegawai dan program pemerintah, termasuk pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Secara keseluruhan, data BPS menunjukkan ekonomi Bojonegoro masih ditopang oleh sektor pertanian, perdagangan, jasa, dan konsumsi rumah tangga. Namun dominasi sektor pertambangan dan penggalian yang mencapai lebih dari 42 persen membuat laju pertumbuhan ekonomi daerah sangat rentan terhadap penurunan produksi migas.
Kondisi ini menjadi sinyal penting bagi upaya diversifikasi ekonomi daerah. Penguatan sektor pertanian, UMKM, perdagangan, industri pengolahan, dan sektor jasa perlu terus didorong agar struktur ekonomi Bojonegoro semakin beragam dan tidak terlalu bergantung pada sektor migas sebagai sumber utama pertumbuhan ekonomi. (Why/Red)








