Reporter : Waluyo Wahyu Utomo
SuaraBojonegoro.com – Dinas Kesehatan Kabupaten Bojonegoro memaparkan Realisasi APBD 2025 dan Proyeksi Pelaksanaan APBD 2026 dalam Rapat Kerja Komisi C DPRD Bojonegoro dengan Dinas Kesehatan, RSUD Bojonegoro dan Puskesmas Se Kabupaten Bojonegoro. Dari hasil paparan tersebut, hampir seluruh indikator kinerja utama Dinas Kesehatan dinyatakan tercapai bahkan melampaui target. Senin (12/01/2026).
Kepala Dinas Kesehatan Bojonegoro, Ninik Susmiati, menyampaikan bahwa indeks kepuasan masyarakat (IKM) pelayanan kesehatan mencapai angka 3,72 atau setara 92,96 persen, melebihi target yang ditetapkan sebesar 3,7. Seluruh survei kepuasan masyarakat pada 2025 dilakukan melalui aplikasi E-Sukma yang dikembangkan Pemprov Jatim.
“Alhamdulillah, tingkat kepuasan masyarakat terhadap pelayanan kesehatan di Bojonegoro mencapai 92,96 persen,” ujar Ninik.
Untuk prevalensi balita stunting berdasarkan hasil penimbangan, Dinas Kesehatan menargetkan angka 1,89 dan terealisasi 1,82. Sementara berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI), angka stunting Bojonegoro masih berada di kisaran 12 persen dan ditargetkan turun ke satu digit pada survei berikutnya.
Pada indikator angka kematian ibu (AKI), dari target 11 kasus, sepanjang 2025 tercatat hanya lima kasus kematian ibu akibat kehamilan dan persalinan. Sedangkan angka kematian balita tercatat sesuai target, yakni 76 kasus. Indeks Keluarga Sehat (IKS) juga melampaui target dengan capaian 0,77 dari target 0,7.
Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) menjadi salah satu capaian menonjol. Dari target 36 persen, realisasi CKG di Bojonegoro mencapai 40,32 persen dan menempatkan Bojonegoro sebagai daerah dengan capaian tertinggi kedua di Jawa Timur. Khusus CKG anak sekolah, realisasi mencapai 60,8 persen, jauh di atas target 20 persen.
Selain itu, program penanggulangan Tuberkulosis (TBC) juga menunjukkan hasil positif. Penemuan kasus TBC mencapai 92,23 persen dari target 90 persen, sementara keberhasilan pengobatan tercatat 90,93 persen.
“Seluruh indikator program TBC tercapai,” jelas Ninik.
Dari sisi keuangan, pendapatan Dinas Kesehatan pada
Perubahan APBD 2025 tercatat mencapai Rp208 miliar atau 222 persen dari target Rp92 miliar. Capaian ini didorong optimalisasi layanan Laboratorium Kesehatan Masyarakat (Labkesmas). Pendapatan puskesmas mencapai Rp95 miliar atau 97,65 persen, sementara pendapatan RSUD bervariasi, dengan RSUD Sosodoro melampaui target 106 persen dan RSUD Kepohbaru baru mencapai 74,75 persen.
Realisasi belanja anggaran Dinas Kesehatan tercatat sebesar 85,08 persen, puskesmas 92,15 persen, dan secara keseluruhan Dinkes dan Puskesmas mencapai 86,25 persen.
Selain itu, terdapat empat paket pekerjaan fisik yang belum selesai dan diberi kesempatan penyelesaian selama 50 hari ke depan dengan ketentuan denda sesuai aturan.
Ninik juga memaparkan progres transformasi rumah sakit daerah, di antaranya RSUD Sosodoro menuju rumah sakit setara kelas A, RSUD Padangan setara kelas B, serta persiapan operasional RSUD Temayang. Saat ini RSUD Temayang telah menyelesaikan PBG dan SLF, serta tengah memproses izin operasional dan persiapan akreditasi.
Dalam bidang inovasi layanan, Dinas Kesehatan mengembangkan tiga program utama, yakni WASIAT (WhatsApp Antrian Online Rumah Sakit Terintegrasi), Inovasi SIGAP PLUS PSC 119 di tahun 2026 ini akan ditambah integrasi dengan Satlantas Polres Bojonegoro dan Basarnas serta SATELIT sebagai layanan telemedicine puskesmas berbasis WhatsApp. Hingga akhir 2025, layanan WASIAT telah digunakan lebih dari 16 ribu pengguna.
Memasuki tahun 2026, Dinas Kesehatan Bojonegoro akan melanjutkan program prioritas nasional, memperkuat penurunan stunting, memperluas CKG hingga 46 persen penduduk, serta meningkatkan mutu layanan kesehatan berbasis digital dan terintegrasi. Sebelumnya CKG di tahun 2025 dari target 36 persen penduduk, tercapai 40,32 persen. (Why/Red)








