Lukisan Tayub dari Bubulan Dipinang Kolektor Tuban

oleh -97 views

Reporter : Bima Rahmat

SuaraBojonegoro.com – Sempat dilirik sejumlah pejabat lukisan karya warga Desa Sumberbendo, Kecamatan Bubulan yang berjudul Budaya Indonesia akhirnya menjadi koleksi warga Kabupaten Tuban. “Sudah terpajang di galeri pribadi kolektor Tuban,” kata Karyanto, sang pelukis.

Ia menuturkan lukisan dengan ukuran 190 x 150 cm itu, mengambil model hidup seorang penari tayub yang sedang pentas. “Lalu saya ekspresikan sesuai aliran saya,” jelas pemuda kelahiran tahun 1982 itu.

Lukisan Budaya Indonesia itu sendiri, sempat menarik perhatian Bupati Bojonegoro. Saat diikutkan dalam pameran bersama komunitasnya, Sangrupa, Bupati Bojonegoro sempat berpose bersama Karyanto seolah-olah memerankan adegan tarian pergaulan dari Bojonegoro itu.

Karya dari Karyanto sendiri selalu mengambil model hidup perempuan-perempuan yang sedang beraktifitas di bidang kebudayaan. “Karena kebudayaan itu adalah harta bagi bangsa. Begitulah cara kami menjaga dan melestarikannya. Saat sudah punah, setidaknya kami pernah merekamnya dalam bentuk karya,’ ujarnya.

Meskipun para seniman berharap bahwa beberapa pejabat dinas di Bojonegoro yang mengkoleksinya, namun Karyanto merasa cukup senang karyanya dipinang oleh kolektor, meskipun dari luar kota.

Namun karena lirikan peminat dari Bojonegoro tak juga ada tindak lanjut, maka beberapa seniman akhirnya melepas karya mereka ke luar kota.

“Kalau lukisannya dikoleksi dinas, khan dipajangnya di kantor. Dimana publik Bojonegoro bisa terinspirasi untuk berkecimpung di sub sektor ekonomi kreatif,” tambah Eko Priyatno, pendiri Sangrupa.

Para perupa yang tergabung dalam komunitas Sangrupa, kini telah menyusun gerakan pro ekonomi kreatif yang diharapkan dapat memotivasi warga Bojonegoro. “Selain lukis, seni rupa juga meliputi seni grafis, patung dan kriya. Semuanya adalah sub sektor ekonomi kreatif,” jelasnya.

Hingga saat ini, sudah ada 80-an pelaku seni rupa yang tergabung dalam komunitas Sangrupa. Mulai dari yang muda hingga tua, baik wanita maupun pria. “Semua boleh bergabung, tak ada istilah senior ataupun yunior dalam komunitas ini,” pungkasnya. (Bim/red).