Keluarga Petugas Pemilu Yang Meninggal Kecewa kabar Hoax

oleh -217 views

Reporter : Sasmito

SuaraBojonegoro.com – Kabar Hoax yang telah menyebar dilingkunagn masyarakat, seperti adanya bahwa korban petugas pelaksanaan Pemilu (Pemilihan Umum) 2019, yang sakit hingga meninggal untuk meminta dilakukan outopsi terhadap mayat korban yang sudah meninggal in sempat meresahkan keluarga korban, alasannya dari beberapa keluarga korban yang ada tidak pernah meminta untuk dilakukan outopsi pada tubuh mayat korban.

Adanya kabar yang menginginkan membongkar kuburan dan dilakukan outopsi dengan alasan kematian yang misterius. Justru hal ini sangat menyakitkan keluarga Korban Petugas pelaksana pemilu 2019 yang telah meninggal dan telah dikubur serta tenang dialamnya, karena kebanyakan keluarga korban ini menganggap bahwa kematian keluarganya yang kebetulan menjadi petugas pemilu 2019 benar benar karena adanya penyebab kematian yang memang benar adanya.

Salah satunya adalah Supriadi (22) warga Desa Meduri RT. 03 RW 08, Kecamatan Margomulyo Bojonegoro, Jawa Timur ini meninggal Dunia karena kelelhan dan kemungkinan akibat Kecapekan yang berlebihan, seperti yang disampaikan oleh Kakaknya Heri dan juga ibunya Darmini. rabu (14/5/19).

Ditemui dirumahnya, Darmini menyampaikan bahwa sebelum meninggal, Supriadi pada Hari Pelaksanaan pemilu melakukan pekerjaannya mulai pagi hingga malam hari, kemudian pasca menjadi petugas TPS (Tempat Pemungutan Suara) 10 Desa Meduri, korban tidak langsung pulang.

“Setelah menjadi petugas TPS adik saya kemudian menonton pertunjukan ketoprak dan karena kecapekan ketika pulang dari menonton ketoprak saya mendengar kabar dia mengalami kecelakaan lalu lintas,” Papar Kakak Supriadi saat didatangi dirumahnya.

Korban kecelakaan ini, kemudian dimakamkan dan sudah melewati tujuh hari, pihak keluarhapun menerima kejadian tersebut dan mengenai adanya berbagai indikasi kabar hoax justru membuat keluarga kecewa, “adik saya sudah meninggal dan kami sudah menerima dengan ikhlas, sehingga jangan dibawa bawa ke politik,” Tambahnya.

Anggota PPS (Panitia Pelaksana Pemilu) yang lain adalah Luanto (48) warga Desa Ngadiluwih, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur. Luanto ini meninggal dunia pasca dirinya menjadi petugas TPS setelah merasakan sakit setelah bekerja dan akhirnya meninggal Dunia .

Yuliati, (42) Istri Luanto menerangkan bahwa suaminya ini pernah mengalami sakit jantung dan kambuh beberpa kali dalam kurun waktu 3 tahun, bahkan pernah beberpa kali dirawat di Rumah Sakit Ibnu Sina Bojonegoro.

“Bapaknya pernah dirawat karena sakit jantung, dan karena kelelahan, bekerja di TPS sampai larut malam dan tidak berhenti membuat suami saya kambuh dan akhirnya meninggal dunia,” Terang Yuliati.

Yuliati juga merasa sangat kecewa dengan adanya kabar bahwa kematian para petugas pelaksana pemilu ini ada yang diracun dan lain sebagainya dan juga dianggap pemilu tidak adil, hal ini justru menyakitkan bagi Yuliati.

“Suami saya sudah meninggal, dan kenyataanya bekerja di TPS mulai pagi hingga malam, dan saya sudah menerima meninggalnya suami saya, dan sekarang kog dikatakan harus di outopsi saya tidak mau,” Kata Ibu dua anak ini.

Yuliati juga mengungkapkan, jika boleh meminta Nyawa suaminya kembali dia akan pilih nyawanya suaminya, tapi karena taqdir dirinya meminta agar tidak ada lagi kabar kabar terkait kematian petugas pemilu di politisasi atau dibuat bahan politik.

Luanto meninggal dunia meninggalkan Istri dan juga dua orang anak. Bahkan salah satu anaknya masih berusia tiga tahun.

Hal yang sama juga diungkapkan oleh Siti Fatimah (48) warga Desa Blimbinggede, Kecamatan Ngraho, Kabupaten Bojonegoro, yang suaminya meninggal akibat kecelakaan lalu lintas sebelum pelaksanaan pemilu 2019.

Mendengar kabar hoax terkait usulan agat mayat korban petugas pelaksana pemilu dibongkar dan dilakukan outopsi, istri dari korban meninggal akibat laka ini bernama Ngalim, langsung tidak terima.

“Sudahlah, suami saya sudah meninggal tidak usah diungkit lagi, kami sekeluarga sudah ikhlas dan bangga suami saya meninggal dalam melaksanakan tugas negara,” terang Istri Ngalim.

Ngalim sebelum meninggal menjabat sebagai anggota Panwascam Ngraho, dan meninggal dalam kecelakaan lalu lintas dijalan Raya Ngraho Padangan, dan meninggalnya korban ini dalam rangka sibuk karena pelaksanaan pemilu.

Ngalim meninggal meninggalkan satu istri dna lima anak, sebelum meninggal Ngalim sering melakukan kegiatan baca Al Quran didalam rumahnya, juga dalam bekerja Ngalim ini tidak mengenal rasa capek dan selalu ringan tangan dalam melaksanakan tugas tugas Pengawasan Pemilu.

“Sering pulang pergi dari rumah ke Bojonegoro dan Juga ke kantor Panwas, dan pasti suami saya sangat capek, tapi suami saya ini tidak pernah sambat,” pungkas Siti Fatima. (Sas*)