Harga Minyak Dunia Kembali Melonjak Tinggi

oleh

Oleh : Maimunah
(Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Malang 2018)

Minyak naik 20 sen saja,
Tapi rakyat hidup menderita,
Nak jimatkan duit di mana,
Kalau barang semuanya naik belaka.

Minyak naik 20 sen saja,
Tapi kerajaan jangan lupa,
Elaun menteri kena potong juga,
Barulah adil sama-sama.

Minyak naik 20 sen saja,
Tetap kena bayar juga,
Walaupun belanjawan belum tiba,
Tak semena-mena naik tak diduga.

Minyak naik 20 sen saja,
Kata menteri tahun ini tak naik la..
Ini dikira tipu rakyat jelata,
Rakyat didahulukan kena slogannya.

Minyak naik 20 sen saja,
Tapi kehidupan kena terus juga,
Takkan nak makan batu pula,
Segala belanja kena jimat sentiasa.

Minyak naik 20 sen saja,
Rakyat kenalah perlu biasa,
Jika nak membantah siapalah kita,
Tetap mencari rezeki untuk keluarga.

Minyak naik 20 sen saja,
Tapi banyak juga jika dikira,
Itu dihitung 1 liter cuma,
Jika 10 liter berapa jadinya.

Minyak naik 20 sen saja,
Makan dan minum kena jaga,
Jangan mewah dengan harta,
Lama-lama boleh kurang juga.

Minyak naik 20 sen saja, Berdoa pada Yang Maha Berkuasa,
Semoga dimurahkan rezeki sentiasa,
Agar diberkati dan dirahmati hendakNya..

Maksud dari pantun diatas adalah Jika harga minyak dinaikkan rakyat pasti akan sangat menderita. Walaupun usahanya lebih gigih pasti tidak bisa hidup tenang. Sebab, jika menunggu harga minyak turun pasti akan lama dan waktunya tidak bisa diprediksikan. Salah satu cara untuk menarik hati masyarakat, pemerintah seharusnya jangan menaikkan harga walaupun hanya mengurangi 20 sen subsidi. Masyarakat hanya bisa bersabar dan pasrah atas kenaikan harga minyak ini.

Harga minyak kembali naik pada Kamis waktu setempat (senin,24 desember 2018), karena adanya gangguan pasokan minyak yang disebabkan oleh pembaruan sanksi Amerika Serikat (AS) terhadap Iran yang terus mendukung harga. Di sisi lain, negara anggota OPEC terus berupaya menjaga stabilitas pasar minyak.

Harga minyak menguat USD 1 per barel usai menyentuh level terendah dalam beberapa bulan. Penguatan harga minyak itu didorong data pemerintah Amerika Serikat (AS) menunjukkan permintaan yang kuat untuk bahan bakar, tetapi kekhawatiran tetap seiring meningkatnya pasokan minyak mentah global.

Berdasarkan data the Energy Information Administration (EIA), pasokan minyak AS naik 4,9 juta barel pada pekan lalu. Persediaan minyak naik dalam sembilan minggu, yang termasuk terpanjang sejak Maret 2017.Persediaan minyak di Cushing, Oklahoma melemah 116 ribu barel untuk pertama kali dalam sembilan minggu. Stok gasoline turun 1,3 juta barel ke level terendah sejak Desember 2017. Pasar secara keseluruhan tetap melemah setelah minyak mentah turun lebih dari enam persen pada sesi sebelumnya. Sementara itu, bursa saham dunia telah melemah seiring kekhawatiran terhadap prospek ekonomi.

Dikutip melalui Bloomberg, surplus stok minyak Amerika yang berkurang begitu cepat beriringan pula dengan gangguan pasokan minyak di Kanada, Iran, Venezuela, dan Afrika Selatan menjadi salah satu faktor harga minyak yang terus melonjak. Selain itu pemerintah AS juga telah meminta seluruh perusahaan di AS untuk memotong impor minyak secara berkala hingga 0 persen di November 2018 mendatang. AS pun meminta seluruh negara yang mengimpor minyak dari Iran untuk berhenti melakukan impor di bulan yang sama. Hal ini dilakukan sebagai salah satu usaha AS untuk memboikot Iran baik dari segi politik sekaligus ekonomi. Tentu saja pemboikotan oleh AS terhadap Iran berlawanan dengan upaya OPEC untuk meningkatkan produksi minyak yang telah diumumkan pada minggu lalu. OPEC berupaya untuk menyeimbangkan stok dengan permintaan, setelah harga minyak yang terkerek hingga 40 persen dalam satu tahun belakangan. Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC), yang dipimpin oleh Arab Saudi, sedang mempertimbangkan pemotongan hingga 1,4 juta barel per hari (bph) tahun depan untuk menghindari  peningkatan dalam persediaan global yang mendorong harga minyak jatuh antara 2014 dan 2016.

Harga minyak telah terdorong oleh sebagian keputusan Presiden AS Donald Trump yang menarik keluar dari kesepakatan nuklir Iran 2015. Selain itu, juga dikarenakan pengenaan kembali sanksi yang ditujukan untuk membatasi tajam ekspor minyak mentah produsen utama. Mengutip dari Menteri Energi AS Rick Perry bahwa tidak ada rencana bagi Amerika Serikat untuk melepaskan minyak dari Strategic Petroleum Reserves (SPR), yang juga memberikan beberapa guncangan ke atas ke pasar, menurut Market Watch. Pelaku pasar khawatir Trump akan beralih untuk menjual minyak dari SPR AS, untuk membatasi kenaikan harga minyak.

Hal ini upaya yang dilakukan pemerintah dalam mengatasi kenaikan harga minyak dunia yaitu dengan Meningkatkan ketersediaan energi-energi alternative,pemerintah harus melakukan efisiensi dengan menekan kembali OPEC, Pemerintah harus secepatnya merealisasikan subsidi bahan bakar minyak (BBM) tahun 2018. Selain itu juga pemerinntah dapat memperketat distribusi dan pengawasan pemakaian BBM sesuai dengan peruntukannya, juga perlu ada pengalihan subsidi untuk membiayai eksplorasi dan eksploitasi enegeri alternatif. Solusi lain adalah anggaran yang seharusnya untuk subsudi BBM dialokasikan untuk membangun kilang minyak sendiri.

Harga minyak dunia akan terus naik, jika dilihat dari faktor pertumbuhan ekonomi dunia saat ini. Kondisi seperti ini dapat mempengaruhi stabilitas harga bahan bakar minyak di dalam pegeri. Oleh karena itu pemerintah sesegera mungkin mengatur kebijakan subsidi bahan bakar minyak tahun 2018,Pemerintah perlu melakukan penghematan terhadap belanja pegawai, barang dan modal.meningkatkan penerimaan dari bea keluar batu bara. (*)