PN Bojonegoro gelar Sholat Gaib Untuk 4 Hakim Korban Jatuhnya Lion Air

oleh -74 views

SUARABOJONEGORO.COMJatuhnya pesawat Lion Air, yang sampai saat ini masih banyak penumpangnya dan menjadi korban belum ditemukan oleh Tim pencari di lokasi kejadian, dan diantaranya ada 4 orang hakim yang saat itu menjadi korban akibat jatuhnya pesawat Lion Air JT 610 Jkt – Pangkal Pinang.

Keempat Hakim, yang menjadi korban tersebut diantaranya adalah Rizal Mahdi, Hakim Tinggi Agama Babel, yang atas nama Westi Ramadina, Komplek Perumahan Angkasa Pura 2, Jalan mutiara Blok C.24. Nomor 5, Karang Anyar, Kota Tangerang- Banten, 15121 (cp. 081276741676), kemudian Hasnawati, Hakim Tinggi Babel.
Atas nama Perumahan Pondok Kopi Blok. i2, Nomor 7, Kelurahan Pondok Kopi, Kecamatan Duren Sawit, Jakarta Timur (sebelah pemadam kebakaran).

Selanjutnya yang ketiga adalah Yuningtias Upiek Kartikawati Hakim Tinggi Babel beralamat di jalan kemang Selatan 1D, Nomor 23 Cilandak, Jakarta Selatan, 12410 serta Ikhsan Riyadi, Hakim PN Koba Bangka Belitung
Komplek Bintara Loka Indah, Blok QQ.2, Nomor 2, Bintara, Bekasi Barat.

Ketua Pengadilan (PN) Negeri Bojonegoro, melalui Humas PN Bojonegoro Isdariyanto mengatakan bahwa Sesuai dengan himbauan Ketua Pengadilan Tinggi Jawa Timur, bahwa untuk memberikan bantuan Doa dan juga sholat Ghaib terhadap keempat hakim korban jatuhnya pesawat Lion Air.

“Jadi kami melakukan Sholat Ghaib dan juga kirim doa untuk keempat Hakim yang menjadi korban jatuhnya pesawat Lion Air, dengan harapan agar keempat Korban tersebut diterima oleh Allah, dan keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan,” Terang Isdariyanto, Rabu (31/10/18).

Dalam pelaksanaan Sholat Ghain
dipimpin oleh KH Suyuti Bagir dari Mojoranu yang dilaksanakan setelah sholat dhuhur berjamaah dan iikuti oleh seluruh karyawan dan karyawati PN Bojonegoro.

Setelah sholat Ghaib Kemudian dilanjutkan siraman rohani, dari KH Suyuti Bagir yang menyampaikan diantaranya bahwa musibah merupakan teguran, pengingat dari Allah SWT supaya manusia bersiap siap, selalu bertaqwa dan meningkatkan keimanan.

“Karena malaikat maut menjemput tidak mengenal muda atau tua, setiap saat bisa dipanggil oleh Allah dan Rangkaian musibah di negara kita, yang terakhir musibah jatuhnya pesawat, merupakan alarm peringatan kepada kita semua untuk merefleksi diri,” tutur KH Suyuti Baqir. (SB/Lis)