Generasi Kian Terpuruk, Indonesia di Ujung Tanduk

oleh

Masih hangat dalam benak kita sebuah temuan yang mencengangkan seperti yang diungkapkan oleh Direktur Perkumpulan Keluarga Indonesia (PKBI) Lampung, Dwi Hafsah Handayani. Ia menemukan dalam salah satu SMP di Lampung yang 12 siswinya hamil.

Hafsah yang pernah mengadakan survei di sekitar kampus dan kos-kosan pun kembali tercengang ketika mengetahui, ada sekitar 100 kondom terjual dalam satu bulan.(Tribun Lampung.co.id,02/10/2018)

Hal senada juga datang dari Cikarang Selatan. Disana, pihak sekolah di satu SMPN Cikarang Selatan telah berhasil membongkar jaringan mesum siswa-siswi mereka yang tergabung dalam Grup Percakapan Whatsapp bernama “All Stars”. Grup yang digawangi para siswa kelas IX ini diketahui saling berbagi percakapan tak pantas, beragam video porno bahkan ajakan berbuat asusila.

Kasus di atas sebenarnya bukanlah persoalan bari di dunia pendidikan negeri ini. Wajah Indonesia untuk kesekian kalinya tercoreng oleh ‘prestasi’ kehamilan remaja usia sekolah di luar pernikahan. Tentu hal ini menjadi hal yang sangat memprihatinkan mengingat remaja adalah aset suatu negara sebagai calon pemimpin di masa depan. Bagaimanakah nasib suatu bangsa jika para pemudanya adalah generasi liar pemuja syahwat dan mendewakan maksiat?

Perzinaan merupakan salah satu dosa besar dalam kacamata Islam. Bahkan sekedar mendekati zina pun diharamkan, seperti khalwat (berduaan dengan lawan jenis dewasa tanpa mahram), merayu, menggoda, dsb. Hal semacam ini tercantum dalam QS. Al-Isra’ [17] : 32).

Aktifitas pergaulan bebas ini sebenarnya bisa diatasi dengan serius melalui beberapa penanganan sebagai berikut :
Pertama, pembekalan keimanan individu. Hal ini diwujudkan melalui forum-forum atau kajian keislaman. Keimanan individu merupakan benteng pertama yang harus ‘aman’ terlebih dahulu. Oleh sebab itu, kajian keislaman sepatutnya menjadi hal yang dilestarikan bahkan ditumbuhsuburkan, bukan dipersekusi apalagi dikriminalisasi.

Kedua, keluarga yang menjalankan perannya sebagai pendidik generasi menjadi insan yang bertakwa. Apabila orang tua merasa belum mampu untuk membina mereka, maka setidaknya mengarahkan putra-putrinya untuk aktif dalam forum-forum keislaman serta terdepan dalam mendukung dan memberi keteladanan yang baik bagi mereka, bukan malah membatasi ruang gerak anak untuk mengkaji Islam.

Apalagi bersikap permisif jika anak mulai terbawa arus pergalan yang salah. Jangan karena dalih ‘namanya juga anak muda’ lantas mentoleransi pergaulan bebas mereka.

Ketiga, masyarakat yang peduli dengan masa depan generasi. Peduli yang dimaksud bukanlah dengan memfasilitasi kaum remaja dalam ranah maksiat yang menjerumuskan mereka ke dalam jurang kebinasaan. Namun, dengan amar ma’ruf nahi mungkar.

Keempat, peran negara sebagai perisai yang melindungi generasi bangsa dari berbagai budaya dan pemikiran yang rusak dan merusak. Memaksimalkan penanganan, baik secara preventif maupun kuratif. Preventif atau pencegahan, seperti menutup segala akses menuju pergaulan bebas, memantau berbagai media agar tidak menjadi pintu kemaksiatan dan perzinaan, menutup lokalisasi dan segala bentuk praktiknya, dsb. Adapun kuratif, seperti dengan memberikan sanksi yang tegas dan memberi efek jera bagi pelaku maupun masyarakat lainnya.

Terakhir, segala bentuk kerusakan moral ini tidak lain disebabkan karena dicampakkannya Islam sebagai aturan dalam kehidupan. Syariah Islam hadir untuk menjadi pedoman, bukan sebagai tali pengekang. Oleh karenanya, sudah saatnya Indonesia bangkit dan kembali pada tuntunan Sang Pencipta agar berkah dari langit dan bumi dilayakkannya untuk hadir di tengah-tengah kita.

“Andai penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti kami akan membukakan untuk mereka keberkahan dari langit dan bumi. Akan tetapi, mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) sehingga Kami menyiksa mereka sebagai akibat dari apa yang mereka perbuat.” (TQS. Al-A’raf [7] : 96)
Wallaahu a’lam bi ash-shawab.

Oleh: Asma’ Zoe
(Komunitas Muslimah Peduli Generasi)

Foto: Metrotvnews