Membangunkan Pertanian dengan Data

oleh

SUARABOJONEGORO.COM – Salah satu janji kampanye Bupati Bojonegoro adalah fokus membangun pertanian di Bojonegoro. Janji kampanye tersebut sangat tepat. Sebab 39,74% penduduk Bojonegoro adalah bekerja sebagai petani dengan luas lahan persawahan 78 677 dan luas kahan tegalan (bps, 2018).

Supaya pembangunan pertanian tepat sasaran dan berkelanjutan. Maka salah satu bagian yang perlu di perbaiki adalah tentang data. Data yg tersaji dengan baik dan tepat bisa menjadi dasar pembuat kebijakan dalam hal ini pemerintah Kabupaten Bojonegoro.

Membuat kebijakan yang tepat secara langsung berefek baik bagi petani di Bojonegoro. Sehingga akan meningkatkan kesejahteraan petani. Data yang salah dan tidak tersaji kurang baik akan menjadikan kebijakan tidak tepat sasaran, sehingga kebijakan apapun yang di ambil pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan petani tidak ada hasilnya.

Berdasarkan hal di atas, pekerjaan awal yang harus dilakukan oleh Pemerintahan Kabupaten Bojonegoro periode 2018-2023 adalah memperbaiki data pertanian di Bojonegoro.

Sebenarnya pemerintah lama sudah mempunyai data mengenai pertanian. Tetapi data tersebut harus secara rutin diperbaiki, karena perkembangan penduduk selalu dinamis. Data petani yang perlu di perbaiki menyangkut demografi petani, luas lahan yang dimiliki petani, status kepemilikan lahan dan lain-lain.

Seiring dengan perkembangan teknologi, pendataan pertanian perlu memanfaatkan teknologi supaya bisa mendapatkan data yang lebih cepat, tepat, dan akurat. Hal penting lain dengan memanfaatkan teknologi dalam pendataan petani adalah beberapa pihak yang berkepentingan dengan pertanian bisa mempercayai dan memanfaatkan data tersebut untuk mendukung perkembangan pertanian.

Pihak pihak yang berkepentingan dalam perkembangan pertanian antara lain Perbankan, Produsen Sapronak, pengusaha, dan lain sebagainya.

Pihak perbankan bisa menyalurkan kredit ke petani dengan tepat sasaran walaupun petani tidak mempuyai jaminan berupa sertifikat tanah.

Seperti diketahui, sangat jarang petani yang mensertifikatkan tanahnya. Sehingga perbangkan sangat susah menyalurkan kreditnya. Dengan memanfaatkan teknologi pendataan diharapkan perbankan bisa menggunakan teknologi tersebut untuk penyaluran kredit.

Pengusaha akan mengetahui berapa jumlah persis hasil produksi hasil pertanian dengan disertai lokasi produksi pertanian tersebut. Produsen sapronak akan mengetahui berapa kebutuhan sapronak pada tiap tiap petani. (*/red)

Penulis: Awaludin Ridwan, Pegiat PATRA BOJONEGORO dab Dosen Agribisnis Politeknik Pertanian dan Peternakan MAPENA.