MERDEKA MENJAJAH RAKYAT

oleh

73 th bangsa ini mengheningkan kembali bagaimana kemerdekaan diraih, narasi menumpahkan darah untuk mengusir penjajah saat itu, menjadi alunan patriotik generasi now setiap masanya. Bahkan setiap sendi bangsa ini menyanyikan semangat berdaulat, sebagai pengejawantahan makna kemerdekaan itu sendiri.

Adu cepat lari menggunakan karung, menarik tambang, panjat pinang adalah symbol bagaimana kemerdekaan itu harus diperjuangkan bersama sama, sampai pada ruang kehormatan apresiasi kesakralan kemerdekaan itu digambarkan dengan sangat nyata.

Lantas siapa sesungguhnya pewaris kemerdekaan itu sendiri ?, jawabannya adalah seluruh elemen bangsa ini, apapun siapapun strata sosialnya untuk menjaga serta merawatnya menjadi tanggung jawab bersama, menjadi mandiri dan qiblat peradaban bangsa bangsa lain, bahwa kita memang layak menjadi contoh atas kekayaan keberagaman warna budaya yang tak terjajah oleh pihak manapun.

350 tahun silam, bangsa ini belajar bagaimana belanda menjajah, ya, kita belajar bagaimana mempertahankan kekuasaan agar bisa begitu lama, strategi memecah single majority, menciptakan konflik sesama anak bangsa, sehingga kekuatan besar itu menjadi tercerai berai dan mudah untuk di taklukkan. Bagaimana kejayaan sriwijaya dan majapahit misalnya, luluh lantah karena pertikaian sesama karena perebutan kekuasaan, ketidakadilan.

Diusia yang sepuh ini, bangsa ini masih terus berbenah, ketimpangan sosial, ketidakadilan, pembangunan yang kurang merata, salah kelola ekploitasi sumber daya alam yang membabibuta, korupsi, mental menjajah pada yang lemah, masih banyak kita jumpai, bukankah kemerdekaan bangsa ini untuk semuanya. Celakanya makna kemerdekaan itu baru dirasakan setiap hari kemerdekaan di rayakan.

Sebagai negara penganut sistem demokrasi, harapan akan kesejahteraan buat rakyatnya ada di pundak para pemimpin bangsa ini, semuanya masih ingat pesan presiden ke-4, dalam sebuah acara talk show, siapa yang layak memimpin negeri ini ?, beliau mengatakan tanyakan pada bangsa ini maunya apa, sebagai bangsa yang kaya tapi kenyataannya masih miskin, karena korupsi, pungkas gus Dur.

Membangun bangsa besar ini menurut penulis harus bersama sama satu niat, yakni mengelola kekayaan alam untuk kesejahtaraan rakyat bukan untuk kepentingan segelintir golongan, jadi siapapun penguasanya, jika elemen bangsa ini belum bersepakat, maka mimpi besar bangsa ini hanya tinggal ceremonial belaka.

Pertanyaan besar yang perlu dijawab masing masing elemen bangsa ini adalah, apakah kemerdekaan ini pro kesejahteraan rakyat atau sebaliknya kemerdekaan menjajah kepentingan rakyat ?.

(Bojonegoro: 17agustus 2018)

Murtadho, INDAP – Independent Analyst Politic Bojonegoro
.