Proses Penjemuran Masih Menggantungkan Sinar Matahari

oleh

SUARABOJONEGORO.COM – Produksi batu bata menjadi salah satu usaha yang ditekuni oleh beberapa warga di sekitar sungai Bengawan Solo. Salah satunya di Desa Ngablak Kecamatan Dander Kabupaten Bojonegoro.

Rohim, salah satu pembuat bata merah asal desa setempat mengatakan, produksi batu bata merah tidak selalu berjalan mulus. Kendala yang ia hadapi adalah cuaca.

Produksi batu bata merah milik Pria berumur 40 tahun itu, bergantung kepada cuaca. Ia menekuni usaha itu sudah 20 tahunan. Dan, kendalanya selama ini adalah cuaca.

“Kendalanya adalah saat musim hujan,” kata Rohim kepada SuaraBojonegoro com, Minggu (12/8/2018).

Saat musim kemarau, biasanya ia mampu memproduksi 900 bata merah perhari. Berbeda dengan musim penghujan, yang tidak pasti jumlah pembuatanya.

“Saat musim kemarau, perbiji harganya Rp 500,00. Sedangakan, saat musim hujan biasanya seharga RP 600,00,” ucap Rohim.

Ia melanjutkan, hujan menjadi kendala karena dalam proses penjemuran, ia mengandalkan sinar matahari.

“Kami sangat mengandalkan sinar matahari untuk produksi batu bata,” keluh Rohim

Kendala yang biasa terjadi adalah ketika hujan, namun masih bisa diantisipasi dengan ditutup terval agar tidak kehujanan.

Berbeda dengan hujan. Kendala yang dapat menghentikan produksi adalah ketika banjir. “Kalau banjir bengawan, produksi macet total,” imbuh Rohim. (nuf/yud)

Reporter : Nuzulul Furqon

Editor : Wahyudi