Cerita Rohim Saat Membuat Batu Bata Merah di Gg 1

oleh

SUARABOJONEGORO.COM – Musim kemarau, merupakan musim yang membawa berkah tersendiri bagi usaha produksi bata merah di kampung dekat sungai Bengawan Solo.

Pasalnya, mereka dapat memproduksi bata merah hingga 600 biji dibandingkan dengan musim penghujan. Saat musim penghujan produksinya hanya separuh dari musim saat ini.

Ada yang unik dari pembuatan bata merah ini. Salah satunya, milik Rohim 40 tahun warga Desa Ngablak Kecamatan Dander Kabupaten Bojonegoro. Bata merahnya ditandai cap ‘Gang 1’.

Gang 1 adalah tanda atau sinbol bahwa produksi bata merah yang ada tanda ‘Gang 1’ merupakan hasil produksi pria berkulit coklat ini. Tanda itu berada di badan bata.

Saat wartawan SuaraBojonegoro.com menemuinya di rumah produksi. Ia bercerita banyak tentang bata merah. Diantaranya, ia menceritakan proses pembuatannya. Mau tau cerita Rohim? Ini dia.

Rohim, pria berumur 40 tahun ini sudah puluhan tahun menggeluti usaha bata merah ini. Usaha ini, Ia tekuni sejak usia muda hingga sekarang. Produksi bata mera menjadi mata pencariannya.

“Saya mulai menekuni membuat batu bata sekitar tahun 1999, usaha ini sudah menjadi mata pencarian tetap,” kata Rohim saat ditemui SuaraBojonegoro.com, Minggu (12/8/2018).

Batu bata tersebut, terbuat dari tanah pinggiran sungai Bengawan Solo. “Bahan pembuatan batu bata itu tanah dan berambut untuk membakar. Tanahnya campuran tanah wedek dan tanah lempung di sekitar bengawan,” jelas Rohim

Ia mengatakan, bahwa biasanya untuk pengiriman satu bulan bisa 2 kali. Satu kiriman berisi 3000 biji bata. Rata-rata hasil produksi ia kirimkan ke Kota Bojonegoro.

Dalam proses pembuatannya, Rohim dibantu oleh 3 pekerja yang berasal dari desa setempat. “Disini saya dibantu oleh 3 pekerja, orang sini-sini saja,” kata Rohim

Ia melanjutkan, untuk produksi biasanya dilakukan di waktu pagi, sore dan malam. “Mengambil tanah saat pagi hari, selanjutnya kita proses menjadi batu bata merah nantinya,” ucap Rohim.

Setelah tanah diambil. Lalu, tanah yang sudah ditumpuk menyerupai gunung, disiram air dan didiamkan selama kurang lebih setengah hari.

Setelah didiamkan, diaduk dan dicetak dengan ukuran panjang 26 cm, lebar 12 cm, tebalnya 4,5 cm. setelah itu dijemur selama 2 hari, kemudian bersihkan (disisik) dengan pisau untuk merapikan bata tersebut.

Setelah itu, di jemur lagi selama 2 sampai 3 hari. Selanjutnya, dibakar dengan berambut selama 4 hari 4 malam. Setelag menunggu sampai 4 hari berikutnya, batu bata merah siap untuk di jual. Warnanya, agak kemerahan.

Di Desa Ngablak, tidak hanya Rohim saja yang memiliki profesi pembuatan batu bata merah. Namun, beberapa warga memiliki profesi serupa.

“Di desa ini sudah ada beberapa pengusaha batu bata merah, diantaranya saya, Ramijan, K Juri, Wiji dan Nuri,” kata Rohim.

Untuk menandai batu bata hasil produksi, Rohim menggunakan simbol di setiap cetakan batu bata merah. Untuk menunjukan identitas batu bata tersebut.

“Kami menggunakan simbol Gg 1 untuk menandai buatan kami. Karena lokasi produksi di gang 1,” tutupnya. (nuf/yud)

Reporter : Nuzulul Furqon

Editor : Wahyudi