Harga Kebutuhan Melangit, Emak-emak Menjerit

oleh

Oleh: Titik Puspa (Ibu Rumah Tangga)

Akhir-akhir ini harga-harga naik sangat drastis. Mulai TDL, BBM yg naiknya diam-diam, bahan pokok hingga LPG. Konon katanya penyebab harga barang-barang tersebut naik karena permintaan pasar meningkat dimana produksi menurun sehingga harganya naik, biaya produksi besar sehingga harga jual juga harus dinaikkan dan masih banyak lagi penyebabnya. Kenaikan harga-harga tersebut terjadi ketika menjelang puasa, hari raya, tahun baru dan lain-lain.

Selain itu, keberadaan tabung melon sangat sulit dicari alias langka sehingga harganya naik. Pangkalan LPG dibatasi, akhirnya untuk mendapatkannya saling berebut walaupun harganya naik. Teringat kejadian dulu ketika minyak tanah sulit dicari sehingga harganya mahal. Setelah itu pemerintah mengeluarkan tabung melon (LPG 3kg bersubsidi) untuk rakyat miskin. Mau tidak mau masyarakat beralih ke tabung melon. Ternyata harga LPG 3kg terus naik hingga ada yg menjual diatas 20rb. Ketika tabung melon susah dicari pemerintah mengeluarkan tabung pink dimana harganya jauh lebih mahal. Pada akhirnya masyarakat juga akan membelinya dengan harga yg lebih mahal.

Terhitung sejak Minggu 1 Juli 2018 kemarin. PT. Pertamina (Persero) langsung menaikkan harga harga bahan bakar minyak nonsubsidi. (BANGKAPOS.COM, Senin, 2 Juli 2018 17:36). Pemerintah menaikkan harga BBM lagi. Selama 4 tahun pemerintah sudah 12 kali menaikkan harga BBM. Masyarakat banyak yang kaget dengan kenaikan harga BBM, dimana sebelumnya tidak ada berita akan naiknya harga BBM. Dengan kenaikan harga BBM pasti akan mempengaruhi harga-harga yang lain.

Yang terbaru adalah naiknya harga telur hampir mendekati 30.000/per kilo. Telur adalah salah satu makanan yang mengandung protein hewani yang harganya terjangkau oleh kalangan masyarakat menengah ke bawah. Jika harga telur sekarang naik bisa jadi masyarakat tidak mengkonsumsi protein hewani yang cukup. Telur saja harganya naik mana mungkin masyarakat kalangan bawah akan membeli ayam bahkan daging yang harganya pasti diatas harga telur. Ujung ujungnya masyarakat menengah ke bawah hanya bisa mengkonsumsi tahu tempe saja untuk memenuhi kebutuhan gizinya.

Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengatakan, peningkatan konsumsi tersebut dipicu adanya sejumlah momentum seperti hari raya, masa libur yang panjang hingga perhelatan pesta sepak sepak bola Piala Dunia. (m.detik.com Senin, 16 Jul 2018 21:33 WIB).

Dulu ketika harga daging naik kita disuruh beralih ke keong sawah, cabe naik disuruh tanam sendiri, beras mahal disuruh menawar, TDL naik disuruh cabut meteran. Ada-ada saja jawaban bapak-bapak ini. Tidak memberi solusi malah membuat sakit hati emak-emak, yang harus pandai memutar otak untuk membelanjakan uangnya agar bisa mencukupi kebutuhan keluarganya.
Bagaimana tidak sakit hati, seharusnya pejabat itu memberi solusi agar harga-harga tidak naik, ini malah ada yang menyalahkan peternak yang cuti panjang, ada yang nyuruh menawar harga. Emak-emak kebanyakan pasti menawar dulu sebelum belanja.

Apalagi ada kabar mentan akan “hujani” telur impor di pasaran. Tidak hanya emak-emak yang sakit hati akibat telur naik. Tapi peternak telur juga akan tersakiti akibat kebijakan pemerintah ini. Kebijakan pemerintah semakin hari semakin mencekik rakyatnya.

Kenaikan harga barang bukan karena tingginya permintaan. Inilah salah satu bukti keanehan konsep ekonomi kapitalisme yang merugikan rakyat. Konsep ekonomi kapitalis yang diterapkan di negeri ini tidak terbukti mensejahterakan rakyatnya malah membuat rakyatnya menderita.

Solusi untuk semua permasalahan ini hanyalah dengan sistem Islam, dimana negara akan benar-benar fokus untuk menjamin pemenuhan semua kebutuhan primer dan membantu pemenuhan kebutuhan sekunder.

Dari sini akan muncul politik pertanian berupa hukum-hukum tentang optimalisasi tanah pertanian serta upaya meningkatkan produktivitas barang-barang kebutuhan pokok. Politik pertanian dalam Islam juga akan mewujudkan ketahanan pangan yang meliputi aspek jaminan pemenuhan kebutuhan pokok pangan, ketersediaan pangan, kemandirian pangan negara dan harga yang terjangkau. (*/JW)

Foto: Ilustrasi