PKK Apresiasi Pembangunan Industri Manufaktur

oleh

SUARABOJONEGORO.COM – Program percepatan industri jasa dan manufaktur untuk meningkatkan nilai ekonomi komoditas pertanian, perikanan, dan perkebunan yang digagas pasangan calon bupati (Cabup) dan wakil bupati (Cawabup) Bojonegoro, Soehadi Moeljono dan Mitroatin, mendapat apresiasi positif dari kalangan Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) tingkat desa.

Organisasi kemasyarakatan yang memberdayakan wanita untuk turut berpartisipasi dalam pembangunan Indonesia itu menilai, program yang digagas pasangan yang dikenal masyarakat dengan sebutan “Mulyo-Atine” itu akan mampu mempercepat mengurangi pengangguran, dan kemiskinan di Bojonegoro.

Anggota PKK Desa Mulyorejo, Kecamatan Balen, Siti Hanafiah, mengatakan, ide membangun pabrik pengolahan hasil pertanian ini sangat bagus karena akan membuka lapangan pekerjaan, sehingga sangat memungkinkan banyak remaja baik pria maupun wanita berpeluang mendapatkan pekerjaan melalui pendampingan PKK.

“Ya bisa saja kami mendampingi agar berjalan dengan baik nantinya,” katanya kepada wartawan, Jumat (25/5/2018).

Sebagian besar hasil pertanian di Mulyorejo adalah padi dan palawija. Sekalipun menjadi salah satu desa penghasil padi di Bojonegoro, belum ada anggota PKK yang terlibat langsung di dalam sektor pertanian.

“Setahu saya belum ada,” ucapnya.

Selama ini, belum ada keterlibatan anggota PKK di sektor pertanian misalnya dalam gerakan menanam bersama yang bisa menumbuhkan minat pemuda atau remaja putri untuk ikut bertani.

“Tidak perlu menanam yang berat-berat, cukup bertani cabai, tomat, terong, atau lainnya,” sarannya.

Menurutnya, butuh rangsangan bagi remaja agar mau bertani diantaranya fasilitasi kebutuhan tani seperti bibit, pupuk, alsintan dan wadah pemasaran hasil produksi pertanian masyarakat.

Pihaknya berharap Pemkab Bojonegoro kedepan bisa melibatkan PKK agar bisa turut andil mengembangkan industri manufaktur berupa pengolahan hasil pertanian.

“Tidak perlu skala besar, dimulai dari home industri maka akan berkembang dengan sendirinya,” pungkasnya.

Senada disampaikan anggota PKK Desa Talun, Kecamatan Sumberjo, Firga Ariani. Adanya industri manufaktur diyakini akan menjadi tulang punggung ekonomi di Bojonegoro.

“Seperti pabrik pengolahan hasil pertanian, ini akan sangat bisa meningkatkan ekonomi masyarakat,” sambungnya secara terpisah.

Menurutnya, dengan berdirinya pabrik pengolahan hasil pertanian, selain mampu menyerap banyak tenaga kerja juga diyakini bisa mengurangi angka pengangguran di Bojonegoro.

Disarankan, industri manufaktur di sektor pertanian ini perlu diberikan perhatian khusus agar bisa tetap tumbuh baik dan memberikan manfaat bagi mereka yang terlibat di dalamnya.

“Bisa berupa pelatihan dan pendampingan dan melibatkan anggota PKK desa,” tuturnya.

Dirinya berharap Pemkab kedepan serius   membangun industri manufaktur agar sektor pertanian lebih meningkat, dan masyarakat bisa mengolah hasilnya menjadi produk makanan.

“Pasti akan mampu mensejahterakaan masyarakayat kecil, karena pendapatan mereka bisa meningkat,” pungkasnya.

Menanggapi hal itu, salah satu cabup Bojonegoro, Soehadi Moeljono, menjelaskan, percepatan pembangunan industry jasa, dan manufaktur ini merupakan cara mempercepat menyejahterakan masyarakat melalui peningkatkan nilai ekonomi komoditas pertanian.

“Mayoritas warga Bojonegoro adalah petani, karena itu industri ini akan mampu meningkatkan pendapatan mereka,” tegas Pak Mul, sapaan akrabnya.

Di samping itu, lanjut dia, industri ini akan mampu membuka peluang usaha maupun jasa yang dapat menciptakan lapangan pekerjaan bagi masyarakat usai produktif. Peluang usaha maupun pekerjaan ini akan berlangsung lebih lama ketimbang dari sektor migas yang hanya menyerap tenaga kerja banyak di awal konstruksi setelah kembali terjadi penumpukan pengangguran.

“Dengan begitu pengurangan pengangguran dapat dilakukan secara cepat,” tandas mantan Sekda yang sudah 32 tahun mengabdikan diri sebagai PNS di Pemkab Bojonegoro ini. (lis)