Industri Manufaktur Dibarengi Peningkatan Produksi Pertanian

oleh

SUARABOJONEGORO.COM– Sektor pertanian memiliki peluang untuk mempercepat mengurangi kemiskinan dan pengangguran di Bojonegoro. Sesuai jumlah nilai tambah barang dan jasa yang dihasilkan dari seluruh kegiatan perekonomian atau Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Bojonegoro 2016 sebesar Rp52 triliun, 40 persen atau sekitar Rp20 triliun disumbangkan dari sektor migas, dan 20 persen atau Rp 10 triliun dari sektor pertanian, dengan serapan angkatan kerja 10 ribu orang di sektor migas, dan 450 ribu orang angkatan kerja di sektor pertanian.

Potensi inilah yang akan dimaksimalkan pasangan calon bupati (Cabup) dan wakil bupati (Cawabup), Soehadi Moeljono dan Mitroatin, untuk memaksimalkan bidang pertanian dengan mempercepat pembangunan industri jasa dan manufaktur. Dua industri ini dipastikan akan mampu  meningkatkan nilai ekonomi komoditas pertanian, peternakan, perikanan, dan perkebunan, serta mencipatkan lapangan pekerjaan baru wargadalam jangka waktu panjang, bukan singkat seperti di industri migas.

Kepala Desa Trucuk, Kecamatan Trucuk, Danang Puji Asmoro, mengungkapkan, wilayahnya merupakan salah satu penyokong produksi padi Bojonegoro. Dalam setahun lahan pertanian dapat ditanami padi tiga kali, karena mengandalkan pengairan Sungai Bengawan Solo.

“Hanya saja, setiap panen hasilnya memang langsung dijual,” kata kepada wartawan, Senin (21/5/2018).

Selama ini para petani yang bekerja di sawah saat ini belum terjadi regenerasi, namun hal itu tidak mengganggu produktivitas pertanian.

“Kalau generasi muda, memang jarang menjadi petani disini. Alasannya banyak,” ucapnya.

Selain dianggap bertani harus membutuhkan modal besar mulai masa tanam hingga panen, generasi muda menganggap menjadi petani tidak menguntungkan terlebih jika dilanda banjir besar.

“Kalau banjir pasti sawahnya terendam,” jelasnya.

Di Desa Trucuk ada 100 hektar lahan pertanian yang mampu produksi padi setiap tahun. Apabila ada industri manufaktur berupa pengolahan padi, maka sangat berpotensi untuk membuka lapangan pekerjaan.

“Hanya saja, butuh pelatihan dan pendampingan untuk bisa menjalankannya,” sarannya.

Pihaknya berharap, Pemkab mendatang lebih memperhatikan sektor pertanian baik untuk distribusi pupuk, harga gabah saat panen. Yang tak kalah penting bisa meningkatkan kesejahteraan petani.

“Kalaupun ada industri manufaktur yang bisa meningkatkan nilai jual gabah, ya harus didukung serius dengan persiapan SDM nya,” pungkasnya.

Sementara itu, Kepala Desa Leran, Mutobi’in, mengaku,  regenerasi petani di wilayahnya sudah mulai dilakukan karena petani usia tua sudah tidak lagi mampu bekerja di sawah sepenuhnya.

Banyak upaya yang dilakukan Pemdes Leran agar generasi muda di desanya mau bekerja sebagai petani, menggantikan orang tuanya.

“Meskipun belum bisa maksimal, setidaknya sudah ada yang mau menjadi petani,” tandasnya.

Untuk menerapkan pentingnya sektor pertanian pada generasi muda, menurutnya sangatlah sulit. Selain generasi milenial yang inginnya instan dan serba modern, juga kurangnya dukungan infrastruktur dari pemerintah setempat.

“Seadandainya infrastruktur pertanian di sini diperbaiki, kami kira akan banyak yang berminat menjadi petani,” tuturnya.

Menurutnya, dengan adanya industri manufaktur berupa pabrik pengolahan hasil pertanian, maka bisa jadi membuka lowongan pekerjaan bagi pemuda yang masih menganggur.

“Di sini ada hampir 2.000-an pemuda baik laki-laki maupun perempuan,” ungkapnya.

Pihaknya berharap, Pemkab kedepan bisa meningkatkan infsratruktur pertanian di wilayahnya,  sehingga ketika industri manufaktur didirikan bisa didukung dengan peningkatan produksi pertanian yang baik.

“Kami yakin, hasil olahan tersebut juga mudah untuk dijual ketika jalannya sudah layak,” pungkasnya.

Dimintai tanggapannya terkait hal tersebut, Cabup Bojonegori Soehadi Moeljono menjelaskan, sebelum ada industri migas, PDRB Bojonegoro disumbang oleh sektor pertanian. Tahun 2004, PDRB sebesar Rp9 triliun lebih, 40 persennya disokong dari pertanian. Porsentase tersebut mulai berbalik di tahun 2009, dari PDRB sebesar Rp13 triliun, sumbangan sektor pertanian menurun jadi 30 peren, dan 40 persen dari sektor migas. Kemudian PDRB 2015, sektor migas menyumbang 39, 06 persen atau sejumlah Rp10.543.546,57, dan pertanian 17,91 persen atau sebanyak Rp7.813.840,96.

“Padahal industri migas ini tidak akan bertahan lama. 20 sampai 30 tahun kedepan pasti habis. Oleh karena itu kedepan potensi pertanian ini yang akan kita optimalkan mulai hulu hingga hilir,” tegas Pak Mul, sapaan akrabnya.

Menurutnya, masih rendahnya minat pemuda terhadap sektor pertanian ini dikarenakan belum ada transformasi struktural yang melibatkan munculnya sektor manufaktur yang kuat. Selama ini, ekonomi selain sektor Migas didominasi oleh pertanian dan jasa, sementara manufaktur tetap kecil, bahkan dibandingkan dengan beberapa kabupaten tetangga, seperti Tuban, dan Gresik.

“Padahal hanya sejumlah kecil dari pekerjaan yang diciptakan di Migas. Untuk itu, kita akan memaksimalkan sektor pertanian ini agar mampu menyerap tenaga kerja besar dengan jangka waktu yang panjang,” pungkas mantan Sekda yang sudah 32 tahun mengabdikan diri sebagai PNS di Pemkab Bojonegoro ini. (lis)